Rumbia, Infobombana.id – Genap tiga ratus enam puluh lima hari atau genap satu tahun sudah perjalanan kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Bombana, Ir. H. Burhanuddin, M. Si- Ahmad Yani, S. Pd., M. Si. Kala itu, tepat tanggal 20 Februari 2025, halaman Istana Negara dipenuhi wajah-wajah kepala daerah dari seluruh Indonesia. Di antara mereka berdiri di sana, dua sosok dari jazirah tenggara Sulawesi juga tak kalah menknjol. Mereka baru saja mengucap sumpah jabatan di hadapan Presiden Republik Indonesia, H. Prabowo Subianto. Sejak saat itu, arah perjalanan Kabupaten Bombana selama lima tahun ke depan resmi dititipkan di pundak mereka.
Semenjak hari itu juga menjadi titik awal. Bukan hanya soal pergantian kepemimpinan administratif, mslainkakn awal dari upaya membangun fondasi baru bagi sebuah daerah yang lama dikenal sebagai wilayah agraris dan pesisir, namun masih berjuang mengejar ketertinggalan infrastruktur dan kesejahteraan masyarakat.
Burhanuddin dan Ahmad Yani datang membawa visi besar, yaitu Bombana berdaya saing berbasis agro-minapolitan. Sebuah konsep pembangunan yang bertumpu pada kekuatan alam Bombana. Daerah yang tanahnya subur, lautnya yang kaya, serta masyarakatnya yang hidup dari pertanian, peternakan, dan perikanan. Namun visi, seperti yang ia tegaskan dalam refleksi satu tahun pemerintahannya, tidak akan berarti tanpa komitmen nyata untuk menghadirkan perubahan.
“Satu tahun yang lalu, amanah dan kepercayaan diberikan kepada kami untuk memimpin Kabupaten Bombana. Hari ini kita berkumpul dalam suasana penuh syukur, merayakan perjalanan satu tahun pemerintahan yang telah kita jalani bersama,” kata Bupati Burhanuddin dalam acara Tasyakuran di Rumah Jabatan Bupati setempat, Jumat (20/2/2026).

Satu tahun berlalu. Waktu yang, dalam hitungan birokrasi, terlalu singkat untuk menilai hasil akhir. Tetapi cukup panjang untuk melihat arah, membaca niat, dan menilai apakah fondasi benar-benar sedang dibangun.
Di Bombana, pembangunan paling mudah dibaca ialah dari jalan. Bukan sekadar dari jalur penghubung, tetapi simbol kehadiran negara. Selama setahun pertama, percepatan pembangunan infrastruktur menjadi wajah paling nyata dari pemerintahan Burhanuddin–Ahmad Yani. Pemerintah daerah tidak hanya bergantung pada APBD, tetapi membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah pusat dan perusahaan swasta.
Di Pulau Kabaena misalnya. Sepanjang 74,7 kilometer jalan ditingkatkan melalui dukungan perusahaan yang beroperasi di wilayah itu. Jalan-jalan yang dulu berlubang dan berlumpur kini mulai mengeras dan rata. Komitmen itu, menurut Burhanuddin, bukan hanya proyek fisik, melainkan janji yang harus benar-benar ditepati.
“Di tahun sebelumnya kami pernah berjanji untuk menutup semua jalan berlubang di Pulau Kabaena. Alhamdulillah, walaupun kondisinya belum seluruhnya diaspal, tetapi dari timur, tengah, hingga barat dan utara, jalan utama sudah dalam keadaan rata tanpa berlubang,” ujarnya.

Ia menegaskan, pembangunan jalan bukan hanya dilakukan untuk memperbaiki permukaan tanah, tetapi membenahi denyut kehidupan masyarakat. “Transportasi adalah jantung masyarakat. Karena itu, kami tidak ingin melihat ada lubang-lubang di jalan utama yang menghambat aktivitas masyarakat.” tegas Burhanuddin.
Sementara itu, dari anggaran daerah, pengaspalan dilakukan di sejumlah ruas strategis: Sikeli–Dongkala sepanjang 5,25 kilometer, Toburi–Tongkoseng 1,65 kilometer, Tongkoseng–Tontonunu satu kilometer, serta penimbunan bypass Rumbia sepanjang hampir satu kilometer.

Disamping itu, dukungan APBN memperkuat upaya itu. Jalan Toburi–Tampabulu sepanjang 1,2 kilometer dan Tepoe–Tampabulu sepanjang 5,4 kilometer juga turut diaspal. Delapan jembatan dan box culvert dibangun, menghubungkan wilayah yang sebelumnya terpisah oleh sungai dan rawa.
“Infrastruktur bukan sekedar beton dan aspal. Namun mempercepat distribusi, membuka akses, dan menggerakkan ekonomi,” kata Bupati sembari menekankan bahwa bagi pemerintah, jalan adalah pembuka ekonomi. Bagi petani, jalan adalah penghubung panen ke pasar. Bagi anak sekolah, jalan adalah jalur menuju masa depan.


Sebagai daerah agro-minapolitan, Bombana menggantungkan masa depannya pada sektor primer. Pemerintahan Burhanuddin–Ahmad Yani memulai langkah itu dengan pendekatan yang menyentuh langsung pelaku ekonomi.
Jalan usaha tani sepanjang 25 kilometer dibangun, membuka akses bagi sekitar 763 hektare lahan pertanian masyarakat. Sumur bor pertanian dibangun di 22 titik. Bantuan alat dan mesin pertanian, bibit, pupuk, dan obat ternak disalurkan secara gratis di tiga zona utama: Poleang, Kabaena, dan Rumbia.
“Kita telah membangun jalan usaha tani, membangun sumur bor, dan menyalurkan bantuan pertanian tanpa dipungut biaya. Semua ini untuk memastikan sektor pertanian benar-benar menjadi tulang punggung kesejahteraan masyarakat,” ujar Burhanuddin.
Selanjutnya, untuk cetak sawah baru mencapai 750 hektare dari dukungan APBN, ditambah 13 hektare dari APBD. Jaringan irigasi dan sumur bor memperkuat ketahanan air di lahan persawahan.
Di sektor perikanan, bantuan mesin, alat tangkap, dan pupuk tambak didistribusikan. Tambak direhabilitasi. Jalan produksi tambak diperbaiki. Tambatan perahu dibangun.
Langkah ini diperkuat dengan pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Poleang Tenggara. Semua itu menjadi simbol sinergi pemerintah pusat dan daerah dalam menghidupkan kembali ekonomi pesisir.
“Sejatinya kami tidak memburu uang semata, tetapi kami ingin memastikan bahwa setiap aktivitas ekonomi memberikan manfaat dan benar-benar masuk untuk kesejahteraan daerah dan masyarakat,” kata Burhanuddin.

Bupati mengaskan, perubahan tidak selalu datang dalam bentuk angka statistik. Ia terlihat dari aktivitas di tambak yang kembali hidup, perahu yang kembali melaut, dan pasar yang kembali ramai.
Melampaui Infrastruktur, Investasi pada Manusia
Pemerintahan Burhanuddin–Ahmad Yani memahami betul bahwa pembangunan tidak hanya soal fisik, tetapi juga manusia. Hal itu bisa dibuktikan melalui sektor pendidikan. Ada beasiswa yang diberikan kepada 816 pelajar Bombana. Adapula Seragam sekolah gratis dibagikan kepada siswa SD dan SMP. Ruang kelas baru dibangun dan sekolah direhabilitasi.
Sementara di sektor kesehatan, Bombana mempertahankan Universal Health Coverage dan bahkan meraih UHC Award kategori Utama. Lebih dari 95 persen masyarakat kini terlindungi dalam sistem jaminan kesehatan nasional.
Bupati Burhanuddin menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia adalah fondasi masa depan daerah.
“Berbagai program pembinaan telah kita jalankan, karena kami menyadari bahwa pembangunan yang sejati adalah pembangunan manusia. Pemerintah hadir bekerja di tengah masyarakat, memastikan setiap warga memiliki kesempatan yang sama untuk maju,” ujar orang nomor satu di Bombana itu.
Kota, Ruang Publik, dan Simbol Perubahan
Perubahan juga tampak dari wajah kota. Ruang terbuka hijau ditata. Taman diperbaiki. Pelataran masjid diperindah. Event olahraga digelar. Aktivitas sosial dan ekonomi kembali bergerak.
Kota perlahan menemukan ritmenya kembali.
Satu tahun bukan waktu untuk merayakan kemenangan. Tetapi cukup untuk melihat arah. Burhanuddin menyadari perjalanan ini belum sempurna.
“Saya menyadari masih ada kekurangan yang perlu dibenahi. Masih ada harapan yang belum sepenuhnya tertunaikan. Namun dengan dukungan dan doa seluruh masyarakat, tidak ada tantangan yang terlalu besar untuk kita hadapi,” ujarnya.

Namun dalam 365 hari pertama, satu hal mulai terlihat jelas: fondasi sedang diletakkan. Fondasi itu mungkin belum sempurna. Sebagian masih berupa kerangka. Sebagian baru berupa rencana. Tetapi arah telah ditentukan.
“Mari kita tutup lembaran tahun pertama ini dengan sujud syukur, dan kita buka lembaran tahun kedua dengan kerja keras yang lebih hebat. Mari terus melangkah maju, dari desa hingga kota, dari pesisir hingga daratan, menuju Bombana yang lebih berdaya saing dan sejahtera,” pungkasnya














