HeadlineHUKUMSosial

Dari Miras ke Narkotika, Wajah Kejahatan Bombana Bergeser di Tahun 2025

88
×

Dari Miras ke Narkotika, Wajah Kejahatan Bombana Bergeser di Tahun 2025

Sebarkan artikel ini

Rumbia, Infobombana.id Wajah kriminalitas di Kabupaten Bombana mengalami perubahan mencolok sepanjang 2025. Jika pada tahun sebelumnya kejahatan lebih banyak dipicu konsumsi minuman keras dan tensi politik, maka pada 2025 narkotika tampil sebagai ancaman paling dominan. Pergeseran ini menandai perubahan karakter kejahatan, dari kekerasan yang spontan dan emosional menuju kejahatan yang lebih terorganisasi, senyap, dan sistemik.

Perubahan tersebut terungkap dalam paparan kinerja Polres Bombana pada jumpa pers akhir tahun yang digelar Rabu (31/12/2025). Secara umum, jumlah perkara pidana mengalami peningkatan dibanding 2024, sejalan dengan kenaikan gangguan kamtibmas sebesar 13,86 persen.

Kasat Narkoba Polres Bombana, AKP Muhammad Arman, mengungkapkan bahwa sepanjang 2025 pihaknya menangani 21 laporan kasus narkotika. Dari jumlah tersebut, 32 orang ditetapkan sebagai tersangka, terdiri dari 28 laki-laki dan 4 perempuan, dengan total barang bukti narkotika mencapai 189,65 gram. Dari seluruh perkara itu, 19 kasus telah dilimpahkan ke kejaksaan.

Angka ini menunjukkan lonjakan signifikan dibanding 2024. Pada tahun tersebut, Polres Bombana mencatat 18 kasus narkotika dengan barang bukti sabu seberat 78,28 gram dan 23 tersangka. Kenaikan barang bukti yang hampir tiga kali lipat dalam kurun waktu satu tahun mengindikasikan bahwa peredaran narkotika tidak hanya meningkat secara jumlah, tetapi juga berkembang dalam skala distribusi.

“Narkotika kini menjadi kasus paling menonjol di Bombana sepanjang tahun 2025,” ujar Arman. Ia menyebut wilayah pesisir serta jalur antar-kecamatan sebagai titik rawan peredaran, dengan sasaran utama kelompok usia produktif.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan situasi kriminalitas pada 2024. Saat itu, penganiayaan menjadi tindak pidana yang paling dominan. Kapolres Bombana kala itu, AKBP Rony Syahendrrra, menilai konsumsi minuman keras yang disertai kepemilikan senjata tajam sebagai pemicu utama. Dinamika politik, mulai dari Pemilu hingga Pilkada, turut memperbesar eskalasi konflik sosial di tengah masyarakat.

Data menunjukkan, pada 2024 total tindak pidana melonjak dari 73 kasus pada 2023 menjadi 145 kasus. Namun di sisi lain, tingkat penyelesaian perkara justru menurun menjadi 88 persen, dari sebelumnya yang mencapai 104 persen. Kondisi tersebut mencerminkan beban kerja aparat yang meningkat lebih cepat dibanding kemampuan penyelesaian perkara.

Memasuki 2025, Polres Bombana menempuh pendekatan yang lebih variatif dalam penanganan perkara. KBO Satreskrim Ipda Mahadi Gandhi Hutagaol menjelaskan, dari 70 perkara tindak pidana umum yang ditangani, 46 perkara berhasil diselesaikan. Sebanyak 10 perkara diselesaikan melalui mekanisme restorative justice, sementara 33 perkara lainnya dilimpahkan ke kejaksaan.

Meski demikian, kejahatan konvensional masih mendominasi. Sepanjang 2025, tercatat 163 kasus atau sekitar 86,7 persen dari total kejahatan tergolong kejahatan konvensional, mulai dari pencurian hingga penganiayaan. Pencurian dengan pemberatan tercatat sebanyak sembilan kasus dan menjadi jenis kejahatan yang paling sering muncul, terutama di wilayah padat penduduk seperti Rumbia dan Poleang Timur.

Sementara itu, kejahatan berdampak tinggi juga masih terjadi. Sepanjang 2025, dua kasus pembunuhan tercatat, yang umumnya dipicu konflik personal dan konsumsi alkohol. Selain itu, masing-masing satu kasus perkosaan dan penganiayaan berat juga terjadi, menunjukkan masih rapuhnya perlindungan sosial terhadap kelompok rentan.

Kabag Ops Polres Bombana, AKP Muh. Nur Sultan, mengakui adanya peningkatan jumlah kasus dibanding tahun sebelumnya. Ia menekankan pentingnya pengawasan yang lebih ketat, terutama peran orang tua dalam mengawasi lingkungan keluarga dan pergaulan anak.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa tantangan keamanan di Bombana tidak lagi sebatas persoalan penindakan hukum. Pengawasan sosial dan ketahanan keluarga menjadi faktor kunci, terlebih sepanjang 2025 tercatat 32 kegiatan unjuk rasa yang berlangsung aman, namun membawa isu-isu ekonomi, pendidikan, dan sumber daya alam yang berpotensi memicu konflik laten jika tidak dikelola dengan baik.

Kapolres Bombana AKBP Wisnu Hadi, S.I.K., M.I.K., menilai pergeseran pola kejahatan dari dominasi miras menuju narkotika sebagai sinyal serius yang tidak bisa ditangani dengan pendekatan konvensional semata. Menurutnya, tahun 2025 memperlihatkan perubahan karakter kejahatan yang lebih terstruktur dan menyasar generasi produktif.

Ia menegaskan bahwa peningkatan kasus narkotika tidak hanya soal angka, tetapi juga mencerminkan perubahan modus dan jaringan peredaran. Karena itu, Polres Bombana mengombinasikan penegakan hukum dengan penguatan intelijen, pemetaan wilayah rawan, serta kerja sama lintas sektor.

“Penegakan hukum tetap menjadi prioritas, tetapi pencegahan harus berjalan seiring. Peran keluarga, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah sangat penting untuk membentengi masyarakat dari narkoba, miras, dan kekerasan,” kata Wisnu.

Ia menambahkan, stabilitas kamtibmas tidak bisa dilepaskan dari faktor sosial dan ekonomi. Tanpa kepedulian bersama dan penguatan ketahanan sosial, kejahatan akan terus berganti wajah dan mencari celah baru.

Jika 2024 dikenal sebagai tahun ledakan kriminalitas akibat miras dan dinamika politik, maka 2025 menunjukkan wajah kriminalitas yang lebih terorganisasi dengan narkotika sebagai motor utamanya. Pergeseran ini menuntut strategi penanganan yang berbeda, tidak cukup dengan razia dan patroli, tetapi juga pemutusan jaringan, penguatan ekonomi lokal, serta pengawasan wilayah rawan.

Polres Bombana pun menegaskan komitmen pencegahan ke depan, termasuk larangan keras kepemilikan senjata api ilegal dan ajakan kepada masyarakat untuk terlibat aktif menjaga keamanan lingkungan. Namun data dua tahun terakhir menunjukkan satu hal yang tak terbantahkan: tanpa penanganan faktor ekonomi, narkoba, dan alkohol secara simultan, kriminalitas di Bombana berisiko terus berulang dengan wajah yang semakin kompleks.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!