SastraInspirasiPendidikan

Sepotong Senja untuk Pacarku

16
×

Sepotong Senja untuk Pacarku

Sebarkan artikel ini

Surat cinta yang berisi potongan senja

Oleh: Seno Gumira Ajidarma

Alina tercinta,

Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja, dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali perahu yang lewat di kejauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu per satu. Mestinya ada juga lokan, batu-batu berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretak pada buih, yang bagaikan impian, selalu saja membuatku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu, meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

Kukirimkan sepotong senja ini untukmu, Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar kata-kata.

Sudah terlalu banyak kata di dunia ini, Alina, dan kata-kata ternyata tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia. Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula, siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-kata mereka sendiri.

Sebuah dunia yang kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita, Alina.

Kukirimkan sepotong senja untukmu, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan, yang nyata dan betul-betul ada, dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.

Alina yang manis, Alina yang sendu,

Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.

Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu, memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam. Meski buih pada debur ombak yang menghempas tetap saja putih seperti kapas, langit tetap ungu, angin tetap lembap dan basah, dan pasir tetap hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.

Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar.

Keindahan berkutat melawan waktu, dan aku tiba-tiba teringat padamu.

“Barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku.

Maka kupotong senja itu sebelum terlambat. Kukerat pada empat sisi, lalu kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.

Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya, karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita: hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai, di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit, berangan-angan, dan bertanya-tanya apakah semua ini benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.

Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong. Mereka gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala berlubang sebesar kartu pos.

Alina sayang,

Semua itu telah terjadi dan akan tetap seperti itu.

Aku telah sampai ke mobil ketika, di antara kerumunan, kulihat seseorang menunjuk ke arahku.

“Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”

Orang-orang melangkah ke arahku. Aku segera masuk mobil dan tancap gas.

“Catat nomornya! Catat nomornya!”

Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu, dan hanya untukmu saja, Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku cemas, meskipun kaca mobilku gelap, cahaya senja tentu cukup terang terlihat dari luar. Dan benar saja, cahaya itu menembus segenap kegelapan mobilku, membuat mobilku meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.

Dari radio yang kusetel aku tahu berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil, bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah panik seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing?

Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan, dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran agar bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan.

“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”

(cerita berlanjut sebagaimana naskah aslinya)

Catatan:

“Sepotong Senja untuk Pacarku” adalah cerpen karya Seno Gumira Ajidarma, bagian dari Trilogi Alina:

  • Sepotong Senja untuk Pacarku
  • Jawaban Alina
  • Tukang Pos

Pertama kali dimuat di Harian Kompas, 9 Februari 1991, dan diterbitkan kembali dalam berbagai antologi serta diterjemahkan ke bahasa Inggris.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!