
Rumbia, Infobombana.id – Impian besar itu setidaknya sempat menggantung tinggi di atas Kabupaten Bombana. Kolam renang mulai dirancang, arena-arena olahraga diproyeksikan, dan lobi demi lobi dijalankan hingga ke tingkat provinsi. Bupati Ir. H. Burhanuddin, M.Si. bahkan turun langsung, mencoba meyakinkan bahwa Bombana siap menjadi panggung olahraga terbesar di Sulawesi Tenggara (Sultra).
Namun sayangmya, keputusan akhir berkata lain. Bombana belum diberi kesempatan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi Sultra tahun 2026.
Di hadapan publik, tepat di depan pavilium, Burhanuddin tak menyembunyikan kekecewaan itu. Ia mengakui telah mengerahkan seluruh upaya untuk membawa ajang olahraga empat tahunan tersebut ke wilayahnya.
“Kami punya keinginan besar untuk membawa Porprov tahun 2026 hadir di Bombana. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin melakukan lobi. Tapi karena alasan efisiensi dan pemotongan anggaran, pemerintah provinsi memilih daerah yang sudah memiliki venue, sehingga tidak perlu lagi membangun baru,” kata Burhanuddin, dalam acara Tasyakuran satu tahun masa kepemimpinannya di Rujab Bupati Setempat, Jumat (20/2/2026).
Keputusan itu, menurut dia, tak lepas dari kebijakan efisiensi yang diterapkan Pemerintah Provinsi Sultra. Provinsi cenderung menunjuk daerah yang infrastrukturnya telah siap, demi menghindari beban pembangunan fasilitas baru yang membutuhkan anggaran besar, yaitu Kota Kendari.
Padahal, bagi Bombana, Porprov bukan hanya sekedar ajang olahraga, namun merupakan momentum peningkatan sektor ekonomi. Di samping itu, peluang promosi daerah, dan simbol kebangkitan infrastruktur olahraga lokal juga ikut berkembang.
Meski Bombana gagal menjadi tuan rumah utama, Burhanuddin belum sepenuhnya melepaskan harapan. Ia kini mengalihkan strategi dengan memastikan Bombana tetap ambil bagian sebagai tuan rumah beberapa cabang olahraga.
“Kami berusaha minimal beberapa cabang olahraga bisa dilaksanakan di Bombana, terutama otomotif seperti trail, serta olahraga basket dan bola voli. Sehingga Bombana tetap menjadi bagian dari perhelatan Porprov 2026,” ujarnya.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Burhanuddin melihat setiap pertandingan yang digelar di Bombana akan membawa pergerakan ekonomi. Artinya, fasilitas seperti hotel bisa terisi, warung makan ramai, transportasi bergerak, dan pelaku UMKM ikut merasakan dampaknya.
“Kita berharap dengan adanya kegiatan olahraga nantinya akan mengangkat perekonomian masyarakat kita,” katanya.
Gagal menjadi tuan rumah Porprov 2026 tidak serta-merta menghentikan pembangunan infrastruktur olahraga di Bombana. Justru, pengalaman ini menjadi pelajaran penting bahwa kesiapan venue adalah faktor utama dalam penentuan tuan rumah.
Kolam renang yang direncanakan, lapangan yang mulai dibenahi, dan fasilitas olahraga lainnya kini dipandang sebagai investasi jangka panjang. Bukan hanya untuk satu perhelatan, tetapi untuk masa depan olahraga Bombana.
Di balik kegagalan itu, tersimpan tekad yang belum padam. Bombana mungkin belum menjadi tuan rumah hari ini. Tapi dengan fondasi yang mulai dibangun, daerah ini sedang mempersiapkan diri untuk kesempatan yang lebih besar di masa depan.
Bagi Bupati Burhanuddin, Porprov bukan hanya membahas soal lokasi pertandingan, namun tentang membangun kepercayaan diri daerah. Mungkin sajja suatu hari nanti, Bombana tidak hanya menjadi penonton, tetapi pusat perhelatan olahraga Sulawesi Tenggara.














