Scroll untuk baca artikel
       
SastraInspirasi

Antara Langit dan Bumi Bab 3: Kita Semua Kesepian

11
×

Antara Langit dan Bumi Bab 3: Kita Semua Kesepian

Sebarkan artikel ini

Infobombana.id – “Kalau ini waktuku untuk pergi, sampaikan pada yang mengirimmu, tidak hari ini, aku akan sehat, aku tidak akan mati dulu, aku masih akan berjuang untuk terus hidup!” tegas pria lanjut usia itu. Idris mendekat ke samping Berto lalu menggeleng. “Jadi bukan untuk menjemputku kamu datang kesini?” heran Berto. Idris mengangguk. “Oh syukurlah, jadi kamu kesini mau ngapain?” tanya Berto. Idris hanya diam.

Berto tertawa. “Oh, aku tahu … kamu datang kesini karena mau tanya-tanya soal Namira ya? Hmmm … kamu suka sama dia ya?” goda Berto. Idris mengangguk pelan. “Namira memang gadis yang cantik, baik hati dan periang, siapa yang tidak suka dengan gadis seperti itu bukan?” sambungnya.

Pria tua itu melompat turun dari ranjangnya. Membuka gorden jendela dan melongok ke sana kemari memastikan tidak ada siapa-siapa di luar kamarnya. Kemudian ia kembali pada Idris. “Kamu pikir pria tua ini tidak tahu siapa kamu? Aku tahu siapa kamu saat pertama kali kamu masuk ke dalam kamar ini,” ungkap Berto dengan mata menatap Idris.

“Memangnya siapa aku?” tanya balik Idris.

“Jangan mengetesku Idris, ayo kita ngobrol di luar saja, kamar ini terlalu sempit untuk membicarakan hal besar, seperti siapa kamu dan dari mana asalmu.” Berto mengajak Idris keluar kamar sembari membawa kue-kue basah. “Tadi anak-anakku datang membawa kue-kue ini, ini kue-kue enak dan pasti kamu tidak bisa memakannya ‘kan?” ledek Berto sembari mengunyah sepotong lemper isi daging ayam.

Idris melihat betapa nikmatnya Berto mengunyah makanan itu. Mereka duduk di taman kecil. Malam itu tak seorang pun berada di luar kamar kecuali mereka berdua. “Tadi Pak Berto bilang tahu siapa aku, apakah itu hanya menebak atau—”

“Tidak, aku tidak menebaknya … dari kecanggunganmu, dari tatapan matamu, dari kamu yang tak tahu cara bersalaman karena kamu pikir itu sebuah tanda yang lain dan dari kamu yang menolak untuk makan, juga asalmu yang kamu bilang dari Bali, kamu melihat nama kota itu dari kaos yang aku pakai bukan? … Ya aku tahu siapa kamu,” urai Berto.

Idris terdiam. “Tapi Dris, apakah kamu tahu siapa sebenarnya aku?” Berto bertanya balik. Idris menggeleng. Berto menjulurkan tangannya. “Ayo kita kenalan lagi, kali ini aku akan berkata jujur, jabat tanganku,” perintah Berto. Idris menjabat tangan pria lanjut usia itu.

“Perkenalkan saya adalah Alberto, seorang manusia yang dulunya adalah malaikat!”

Idris terkejut menarik tangannya. “Tidak mungkin!” seru Idris.

“Hahaha … baiklah aku buktikan … kalian para malaikat selalu berpakaian hitam, kalian adalah guardian angel tapi juga penjemput manusia, kalian tidak makan, tidak minum, tidak merasakan apa pun tapi kalian memiliki akal ….”

“Kalian terbang secepat cahaya, kalian menyukai berada di tempat tinggi, atau di taman kota, kalian selalu berkumpul saat matahari terbit dan saat matahari terbenam mendengarkan sonata hening di awan … dan satu lagi kalian bisa mendengarkan pikiran manusia seperti yang kamu lakukan sekarang,” beber Berto lalu tertawa lagi.

Idris terpana mendengarnya. “Itu semua benar,” ucap Idris. “Tentu saja Anak Muda,” sahut Berto, “jadi, katakan padaku, apa tujuanmu menampakkan wujudmu pada Namira?”

“Aku melihat Namira dan mengagumi hatinya yang baik,” jawab Idris. “Lalu dari situ kamu menyukainya dan ingin menjadi … mmm … apa? Pacarnya?” tebak Berto. Idris mengangkat kedua bahunya. “Aku tak tahu apa itu pacar, aku hanya kesepian.”

Berto menghela nafas. “Dris, kamu pikir kamu bisa menampakkan dirimu lalu mendapatkan pasangan? Bahkan yang sudah lama tinggal di bumi masih banyak yang belum memiliki pasangan.”

“Begini, anggap saja kamu itu adalah turis yang datang dari langit lalu main-main ke bumi, kamu boleh menikmati semua yang ada di sini, tapi setelah itu kembalilah ke tempat asalmu, jangan berharap kesepianmu terobati karena di bumi pun banyak manusia yang kesepian.”

Idris terdiam mendengarkan penjelasan pria lanjut usia yang lalu menyuap lempernya lagi. “Bagaimana Pak Berto bisa menjadi manusia?” tanya Idris. Berto berhenti mengunyah dan menatap Idris. “Jangan bilang kamu mau jadi manusia Dris.”

“Aku belum memikirkan itu,” geleng Idris. Berto berdecak. “Baiklah, aku kasih tahu rahasianya … saat sonata hening di matahari terbit, kamu hanya perlu melompat dari awan ke bumi tanpa berpikir apa pun, lompat saja dan biarkan tubuhmu menghempas bumi,” ungkap Berto.

“Lalu apa yang terjadi?” tanya Idris.

“Aku tidak tahu untukmu, tapi yang aku rasakan adalah rasa sakit di seluruh badan, pegal dan gatal,” jawab Berto, “tapi kamu harus tahu, menjadi manusia itu tidak mudah Dris.”

“Kenapa begitu?”

“Manusia butuh makan, rumah dan pekerjaan, belum lagi kalau hidupmu penuh ujian, miskin atau banyak masalah, hidupmu akan terasa seperti di neraka. Beda dengan malaikat yang tidak pernah mendapat ujian … ah sejujurnya tidak menarik menjadi manusia itu Dris.”

“Apakah Pak Berto menyesal?”

Pria lanjut usia yang telah menyelesaikan makan lempernya itu tertawa. Ia mengeluarkan dompet dari kantong celananya dan membuka dompet tersebut lalu menunjukkan foto-foto. “Ini foto-foto anak dan cucuku, dan ini foto mendiang istriku, karena mereka aku tidak pernah menyesal. Kau tahu? Aku memutuskan untuk melompat dari awan juga karena wanita … wanita cantik ini.” Berto menatap foto sang istri.

Idris melihat foto-foto itu dan tersenyum. Berto kemudian memandangi langit. “Tapi terkadang aku rindu dengan ketenangan di atas sana, suasana syahdu, ketaatan serta kebersihan jiwa,” ucapnya pelan. Idris turut menatap langit malam berbintang itu.

“Ya ampun Pak Berto apa yang Bapak lakukan di luar kamar malam-malam begini?!” cetus seorang perawat yang sedang mengontrol para penghuni rumah lansia. Berto terkejut. Ia menghela nafas lega ketika melihat Idris sudah hilang dari sebelahnya. “Hanya mencari angin malam saja Bu,” cengir Berto. “Sudah malam Pak, nanti Bapak masuk angin, sebaiknya kembali ke dalam kamar,” perintah perawat. Berto mengangguk dan masuk ke dalam kamar sedang Idris telah berdiri di atap rumah lansia kemudian melesat cepat ke langit.

***

Sebuah mobil berhenti di depan rumah. Namira turun dan tersenyum. “Terima kasih Fer,” ucapnya lalu membalikkan badan melangkah menuju rumahnya. “Mi, tunggu!” seru Ferdi. Namira berhenti. Ferdi bergegas turun dari mobilnya menghampiri Namira. Wajah Ferdi terlihat tegang. “Ada apa Fer? Kamu baik-baik saja? Wajahmu tegang banget,” tanya Namira.

“Mi, aku hanya ingin nanya, sebetulnya kemana arah hubungan kita ini?”

Namira tak terkejut mendapat pertanyaan yang sudah pernah ditanyakan Ferdi itu. “Fer, kita sudah pernah membahasnya dan rasanya saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya lagi, aku capek, seharian tadi pekerjaan di kantor banyak banget, aku hanya ingin istirahat.”

“Aku selalu ada buat kamu Mi, aku mengantar jemput kamu hampir setiap hari, aku juga menemani kamu saat kamu bersedih, aku menunggu kamu, tapi ucapan kamu kalau hubungan kita hanyalah persahabatan itu menggangguku.” Tampaknya Ferdi tak menggubris kalimat Namira sebelumnya.

Namira menunduk, mengatur pikirannya yang seharian tadi sudah lelah dipakainya untuk berpikir di kantor dan sekarang pikirannya harus membahas hal ini lagi.

“Fer, aku tidak pernah meminta itu semua, kamu yang memaksa bukan? Tapi aku menghargai semua yang telah kamu lakukan buatku … kamu teman baik buatku dan aku tidak mau merubah itu. Aku nyaman menjadi sahabat bagimu.”

“Tapi Mi, kenapa saat aku menggandeng tanganmu kamu diam saja? Bukankah itu artinya ada sesuatu?”

Namira menghela nafas. “Terus aku harus bagaimana? Menepis tanganmu dan membuatmu tersinggung? Aku tidak mau itu terjadi Fer, aku minta maaf kalau itu akhirnya membuatmu salah arti, aku hanya menganggap itu pegangan tangan biasa, itu tidak ada artinya apa-apa buatku Fer ….”

  “Aku ingin menikah denganmu!” tegas Ferdi. Namira terkejut. “Apa kamu mau aku berlutut?” Ferdi pun berlutut. “Jangan Fer! Banyak tetangga di luar sini dan mereka mulai memerhatikan kita,” cetus Namira lalu menarik lengan Ferdi untuk kembali berdiri.

“Fer, aku tidak ingin dianggap sebagai pemberi harapan palsu, jadi sebaiknya kamu jangan mengantar jemputku lagi, kamu juga tidak harus selalu ada buatku, kamu harus membuka diri untuk teman-teman wanitamu di kantormu, aku yakin di antara mereka ada yang menyukaimu dan kalau nanti kamu jadian sama salah satu di antara mereka, kamu ceritain sama aku ya,” senyum Namira menghibur pria yang kini menunduk itu.

“Baiklah, tapi aku masih ingin menikah denganmu, kalau kamu berubah pikiran, aku akan sujud syukur,” ucap Ferdi, Namira tertawa. Dengan lesu Ferdi pun kembali ke mobilnya lalu pergi meninggalkan Namira di depan pagar rumahnya.

***

Sore itu, sepulang kerja, Namira tengah duduk di kursi di sebuah taman seberang gedung kantornya. Ia duduk di bawah pohon rindang. Namira menikmati suasananya. Ia teringat Idris yang menyentuh tangannya di taman ini. “Hai,” sapa Idris yang tiba-tiba muncul di depannya. “Ya Tuhan! Kamu bikin kaget saja Dris! Aku ga lihat kamu datang!” pekik Namira memegangi dadanya. “Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu kaget,” kata Idris.

“Ya kamu ga salah, hanya aku sedang melamun tadi,” ucap Namira. Melamunkan kamu. Idris mendengar pikiran Namira itu. Namira menatap Idris yang berdiri di depannya lalu berkata, “Sepertinya kamu sangat menyukai pakaian hitam-hitam ya? Aku belum pernah melihat kamu memakai baju dan celana dengan warna lain.” Idris tak bisa menjawab.

Orang-orang berpakaian hitam di taman mulai memerhatikan Idris dan Namira tapi Raju tidak ada. Idris kini tidak mengindahkan tatapan-tatapan itu lagi. Ia bahkan duduk di samping Namira. “Kamu itu sebetulnya siapa?” celetuk Namira membuat Idris menoleh pada Namira dan menatapnya. Duh tatapan itu lagi, hatiku jadi luruh begini. “Maksudmu?” tanya Idris.

“Maksudku, kamu itu misterius … aku … aku tidak tahu nomor WA kamu, aku tidak tahu sosial media kamu, karena biasanya kaum pria itu kalau kenalan sama cewek pasti minta nomor WA atau sosial medianya tapi kamu tidak … kamu bikin aku penasaran, terus kemana aku harus menghubungi kamu kalau aku ingin bertemu?” ucap Namira tapi kalimatnya itu membuat Namira terkejut sendiri. Ya Tuhan, kenapa aku bisa jujur sekali?!

Idris hanya menatap Namira. “Jangan bilang, kamu ga punya WA dan ga punya sosial media ya?” terka Namira melihat wajah Idris yang tampak bingung. Idris mengangguk. “Ya ampun, kamu hidup di jaman apa sih?” geleng Namira. Idris hanya tersenyum. “Apakah kamu betul-betul dari Bali?” tanya Namira. Idris menggeleng. “Terus kamu dari mana?” bingung Namira.

Idris menunjuk. Namira diam sebentar melihat pada arah yang ditunjuk Idris. “Langit? Kamu dari langit?” tanya Namira tak percaya. Idris mengangguk. “Kalau kamu dari langit berarti aku dari Planet Mars, kamu itu unik ya, sudah misterius, lucu lagi.” Namira pun tertawa. Idris hanya tersenyum.

“Kamu suka dengan hal-hal malaikat?” tanya Idris. Namira mengerutkan kening. “Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?” Idris tersenyum. “Aku teringat dengan buku yang kamu bacakan pada Bu Sis, apakah kamu menyukai malaikat?” Namira manggut-manggut tahu arah pertanyaan Idris.

“Tapi dari mana kamu tahu kalau aku suka membacakan buku itu pada mendiang Bu Sis?” selidik Namira. Idris terdiam. “Perawat di sana pernah bercerita soal itu,” kelit Idris. Namira manggut-manggut. “Jadi apa menurutmu tentang malaikat?” lanjut Idris.

“Menurutku, semua manusia pasti menyukai malaikat dan membenci iblis, kita harus percaya kalau mereka itu ada, itu juga yang diajari kepada kita bukan?”

“Tidak semua orang membenci iblis, ada manusia yang bersekutu dengan dia,” sanggah Idris.

“Ya kamu benar,” angguk Namira. Idris menatap taman dengan orang-orang berpakaian hitam yang semakin memerhatikan kedekatan mereka, kali ini Raju sudah hadir di antara mereka. Raju menatap Idris, Idris tahu maksud tatapan mata Raju yang memintanya untuk tidak melanjutkan semua yang ia ingin lakukan tapi Idris tidak mengindahkannya.

“Dris, kenapa diam? Apa yang kamu lihat di bawah pohon sana?” tanya Namira penasaran. Idris menggeleng. “Tidak ada apa-apa,” ucapnya. Namira melirik pada pohon yang dedaunannya menaungi mereka tetapi memang tidak ada apa-apa di sana meski tanpa sepenglihatan Namira, ada Raju dan yang lainnya tengah berdiri di situ.

“Dris, katanya, setiap manusia itu memiliki satu malaikat penjaga, coba bayangin, kalau semua orang yang ada di taman ini memiliki satu malaikat penjaga pasti taman ini akan ramai sekali,” kata Namira. Idris melihat pada semua orang berpakaian hitam yang tengah bersama manusia di taman itu, ia tersenyum, Namira tak bisa melihat itu.

“Kadang di saat aku kesepian aku suka mengkhayal kalau malaikat penjagaku itu muncul dan menemaniku, rasanya pasti senang sekali,” senyum Namira. “Seperti aku?” sahut Idris. Namira menatap Idris lalu tertawa. “Ya seperti kamu, tahu-tahu muncul, tahu-tahu ilang.” Idris tersenyum.

“Pekerjaanmu apa sih Dris?” tanya Namira. “Aku seorang penjemput,” jawab Idris. Namira mencoba berpikir apa jenis pekerjaan seperti itu. “Seperti antar jemput paket bukan?” tebak Namira. Idris mengangguk saja.

“Eh kamu suka ke pasar malam ga?” tanya Namira. “Pernah, aku pernah menjemput ke sana,” jawab Idris. “Kalau sekarang kita kesana, mau ga?” tanya Namira berharap. Idris mengangguk. Yes, dia mau! Duh jadi seneng dan deg-degan gini. Idris terseynum mendengar pikiran Namira. Mereka pun berdiri dari kursi taman dan berjalan. Idris ingat ketika Ferdi menggengam jemari Namira saat mereka berjalan maka Idris pun mencoba hal yang sama.

Namira terkejut saat merasakan jemarinya disentuh jemari Idris tapi untuk yang ini, sentuhan jemari Idris sampai ke hatinya. Sentuhannya begitu lembut dan membuat hatinya bahagia. Ia merasakan senang dan tak ingin melepaskannya. Idris menatap wajah Namira yang bersemburat bahagia tapi ia masih belum merasakan hal yang sama. Namira melirik pada Idris yang tersenyum padanya.

Ya Tuhan, pria ini membuatku benar-benar jatuh cinta, terima kasih Tuhan telah mengirimkan salah seorang malaikatnya untukku.

Idris terkejut ketika mendengar pikiran Namira itu. Ia pikir Namira tahu siapa dirinya. Tapi setelah Namira bersenandung sebuah lagu dalam pikirannya, kirim aku malaikatmu, karna ku sepi berada di sini. Dan di dunia ini aku tak mau sendiri. Idris tahu maksud kalimat Namira hanya sekadar analogi, ia pun tersenyum.

Pasar malam terlihat ramai. Orang-orang berlalu lalang didampingi orang-orang berpakaian hitam. Berbagai wahana dan penjual makanan memenuhi pasar malam juga lampu-lampu warna yang berkerlap-kerlip.

“Dris kamu takut ketinggian ga? Kalau ga, kita naik wahana kincir angin itu yuk,” ajak Namira dengan tangan yang terus menggenggam jemari Idris. Idris melihat sebuah roda besar yang disebut kincir angin raksasa itu dan di puncak kincirnya tampak Raju tengah bediri menatapnya.

Idris menggeleng. “Ayo kalau gitu! Kita naik!” Namira tampak senang. Di dalam kincir angin, Namira mengeluarkan telepon genggamnya lalu mengambil foto selfie bersama Idris. Setelah memotret, Namira menyimpan telepon genggamnya.

“Setelah ini kita ke rumah hantu, kamu berani ga Dris?” tantang Namira. Idris tersenyum. “Mereka dulunya teman-temanku juga,” kata Idirs. Namira tertawa. Selesai dari kincir angin mereka berjalan menuju wahana rumah hantu tapi Namira melihat seorang peramal gipsi tua di sebuah meja.

“Gimana kalau kita main ramalan dulu, kamu mau?” tanya Namira. Idris menggeleng tidak mau. “Kita tidak boleh meramal, itu tidak bagus.” Namira menarik jemari Idris. “Ya aku tahu, tapi ini cuma main-main saja kok,” senyum Namira. Mereka berdua pun duduk di meja di depan seorang perempuan gipsi tua. Namira menyodorkan telapak tangan Idris. “Ramal dia dulu Bu,” senyumnya.

Perempuan gipsi itu melihat telapak tangan Idris yang tidak memiliki garis tangan lalu menatap Idris dan berkata, “Aku pernah melihatmu di gambar-gambar kuno, di dalam kitab-kitab peninggalan sejarah mengenai langit dan bumi, kau kaum bersayap bukan kaum iblis, kau di pihak surga bukan pihak neraka, kau tidak jatuh, kau menjelmakan, buat apa? Tempatmu bukan di sini.”

Namira bingung mendengar itu. Idris hanya tersenyum seraya menarik tangannya kembali. “Ramalan apa itu?” tanya Namira. Gipsi tua itu tersenyum. “Itu bukan ramalan dan dia tidak bisa diramal, saya hanya ngomong saja.” Namira manggut-manggut. “Oh, kalau gitu terima kasih.” Namira bergegas mengajak Idris untuk pergi dan tidak jadi melakukan ramalan. “Kamu betul, meramal itu tidak bagus, kita pergi saja dari sini,” bisik Namira pada Idris.

Peramal gipsi tua itu menatap Idris dari belakang. Aku tahu kamu bisa mendengar pikiranku. Aku juga tahu maksud penjelmaanmu. Kamu bukan manusia kamu tidak bisa mencintainya seperti dia mencintaimu. Idris menoleh pada peramal gipsi tua itu sesaat lalu kembali berjalan bersama Namira.

BERSAMBUNG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!