Scroll untuk baca artikel
       
PendidikanSastra

Antara Langit dan Bumi Bab 4: Kaum Bersayap

5
×

Antara Langit dan Bumi Bab 4: Kaum Bersayap

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ken Fauzy

Novel– Raju memerhatikan kepergian Idris dan Namira dari atas kincir angin. Namira lalu menghentikan sebuah taksi dan mengajak Idris masuk kemudian mereka pergi dari pasar malam. Raju pun melesat ke langit.

***

“Ini rumahku,” kata Namira setelah mereka sampai di depan pintu gerbang rumahnya. Idris mengangguk. “Oh aku hampir lupa, lusa aku bikin acara makan-makan kecil di sini, mengundang beberapa teman, juga Pak Berto, apakah kamu mau datang?” tanya Namira. Idris mengangguk lagi. “Baiklah sampai ketemu lusa kalau gitu,” ucap Namira tersenyum lalu berjalan menuju pintu rumah. Ia menoleh dan melihat Idris masih berdiri di pintu gerbang menatapnya.

“Kenapa masih di situ? Apakah kamu belum mau pulang?” tanya Namira. Ya Tuhan semakin hari dia semakin membuatku jatuh cinta saja, tatapannya semakin membuatku tak berdaya. “Baiklah, aku pulang sekarang,” kata Idris. Namira mengangguk seraya mengeluarkan kunci rumahnya dan terjatuh. Namira berdecak mengambil kuncinya dari rerumputan lalu melihat pada Idris, tapi Idris sudah tidak ada di sana.

Namira terkejut lalu menggaruk-garuk kepalanya. “Kemana dia, tadi masih berdiri di situ, kok sekarang sudah ga ada?” gumam Namira bingung. Ia melongok ke kanan dan kiri jalan, tapi Idris tak terlihat. “Misterius sekali, datang tiba-tiba, pulang tak meninggalkan kata-kata,” desah Namira.

Ia masuk ke dalam rumah. Duduk di ruang tamunya lalu mengingat wajah Idris dan malam ini yang dihabiskan bersamanya. Namira tersenyum sendiri. Rasanya aku memang jatuh cinta padanya. Ia pun mengangkat kedua tangannya seakan merayakan perasaan bahagianya.

***

“Apa yang kau pikirkan Idris? Kita diberi akal bukan untuk seperti itu,” protes Raju. Idris menatap langit senja yang akan berganti malam. Mereka sedang berdiri di tumpukkan awan putih yang bergumpal seperti kapas yang ditenun halus dengan pola tertentu. “Menurutmu akal kita untuk apa?” tanya Idris.

“Untuk ketaatan dan patuh, untuk mengerti apa maksud dari kalimat manusia.”

“Aku mencintai Dia, tapi aku juga mencintai manusia.”

“Idris, mencintai adalah merasakan, kamu tidak memiliki itu.”

“Lalu kenapa aku bisa terpukau saat melihatnya?”

Kalimat itu membuat Raju terdiam. Cahaya terakhir matahari perlahan meninggalkan garis batas antara langit dan bumi memberikan ruang bagi malam untuk datang. Idris, Raju dan yang lainnya memejamkan mata. Sonata hening itu dimulai.

***

Suasana rumah Namira begitu ramai. Teman-teman Namira juga Berto terlihat di situ. Berto sedang duduk-duduk di halaman belakang sedang Namira tengah berada di dapur bersama teman-temannya menyiapkan makanan dan minuman. Tiba-tiba Idris muncul di depan Berto. “Astaga! Kamu tidak bisa muncul begitu saja Dris!” kaget Berto memegangi dadanya. Idris terlihat bingung.

“Kamu harus mengetuk pintu dulu, jangan tiba-tiba muncul begitu saja jadi aneh nanti keliatannya! Cepet ulangi lagi sebelum Namira lihat kamu!” tukas Berto. Idris mengangguk lalu melesat hilang. Berto geleng-geleng. “Bikin jantungan saja!” gerundelnya.

Namira mendengar pintu rumahnya diketuk. Ia pun meninggalkan dapur menuju ruang depan dan saat membuka pintu, wajahnya bahagia sekali karena melihat Idris berdiri di situ. “Senangnya kamu datang,” senyum Namira. Idris mengangguk tersenyum. Namira memeluk Idris lalu mengajaknya masuk dan memperkenalkannya pada teman-temannya.

Semua terpana melihat Idris yang begitu bersih dan tampan. “Sebaiknya kamu ke halaman belakang saja Dris, sebelum teman-temanku ini memangsamu!” canda Namira. Idris tersenyum. Ia pun menuruti Namira. “Apa kabarnya langit?” tanya Berto pada Idris yang telah duduk di sampingnya. “Masih sama seperti dulu,” jawab Idris. Berto tertawa. “Waktunya makan!” teriak Namira membawa makanan dari dapur.

Acara makan pun dimulai di sebuah meja panjang di halaman belakang. Idris hanya duduk melihat mereka menyantap semua hidangan. “Kamu kenapa ga makan Dris?” tanya Namira menyodorkan sepotong ayam panggang dengan nasi merah dan lalapan. Berto memerhatikan itu. “Ini ayam panggang kalasan loh, bumbunya aku yang buat sendiri, rasanya manis, gurih dan lezat,” ucap Namira.

Idris terdiam menatap makanan itu. “Dia baru saja makan Mi, tadi dia bilang begitu,” celetuk Berto. Namira terlihat kecewa. “Maaf,” ucap Idris. “Ga apa-apa, tapi kamu harus coba pudingnya ya,” kata Namira. Idris menggeleng. Namira menghela nafas. “Jangan dipaksa Mi, nanti kekenyangan dia,” kata Berto lagi mencoba menyelamatkan Idris. Namira akhirnya tak memaksa lagi.

Setelah acara makan selesai. Namira duduk di sebelah Berto menatap Idris yang tengah membantu membersihkan meja dengan teman-teman Namira.

“Ada yang aneh sama dia Pak,” ucap Namira. “Aneh apanya?” tanya Berto memancing. “Banyak sekali, tapi aku yakin, Pak Berto juga bisa merasakan itu semua sejak bertemu sama dia,” jawab Namira. “Dia mungkin canggung,” kilah Berto. Namira menatap Berto lalu menggeleng. “Dia seperti bukan dari sini.” Berto terkejut, apakah itu artinya Namira tahu siapa Idris?

“Maksudmu? Dia dari mana? Planet?” tanya Berto memancing lagi. “Bukan Pak, maksudku dia seperti bukan dari negeri kita, dia bukan dari Bali, dia seperti datang dari negeri jauh,” jelas Namira. “Ooh,” ucap Berto lega, berarti Namira belum tahu siapa sebenarnya Idris. “Dari pakaiannya, kebiasaannya dan hal-hal aneh lainnya … tapi negeri mana ya yang pakaiannya selalu hitam seperti itu?” Namira bertanya-tanya sendiri.

Idris kemudian datang menghampiri Namira dan Berto. “Ada yang bisa saya bantu lagi?” tanya Idris. Namira menggeleng kemudian mengambil sisa ayam panggang yang masih belum terpotong. “Dris, mungkin sekarang kamu kenyang, tapi aku potongin buat kamu bawa pulang ya siapa tahu nanti di rumah kamu lapar,” kata Namira sambil memotong ayam dengan pisau.

Idris dan Berto saling lihat-lihatan. Namira tampak kesulitan memotong ayam itu. “Yang ini masih agak alot, bisa tolong potongin Dris?” Idris terlihat bingung saat Namira memberinya pisau. Berto tampak tegang hatinya bertanya-tanya, apakah dia tahu caranya memotong? Idris memegang pisau lalu memotong ayam panggang itu.

Teman-teman Namira datang lalu berpamitan pulang pada Namira juga pada Berto dan Idris. Idris mengangguk pada teman-teman Namira itu dan tak sengaja ia memotong jarinya sendiri tepat saat Namira melihatnya. Namira menjerit. “Dris! Jarimu terpotong!” Idris dengan cepat menarik tangannya. Berto terkesiap.

“Sini aku periksa Dris,” kata Namira menarik tangan kiri Idris. Idris menunjukkan tangannya. Namira pun dibuat melongo. Jari jemari Idris tak ada yang terluka sedikit pun. “Apa? Tadi aku lihat pisau itu memotong jari jempol kirimu Dris,” bingung Namira. “Ah kamu salah lihat kali Mi,” sahut Berto sambil melirik Idris. Idris dengan cepat mengangguk. “Iya, kamu salah lihat,” ucapnya.

Namira menggelengkan kepala. “Ga mungkin, tadi setelah teman-temanku pamitan pulang, aku pas lihat banget saat pisau itu memotong jempolmu.” Berto tertawa. “Itu tandanya kamu sudah lelah dan mengantuk Mi, jadi salah lihat … aku lihat tadi tidak ada yang terpotong kok … kalau begitu sebaiknya aku dan Idris juga pamit pulang, supaya kamu bisa beristirahat.”

“Kamu ga apa-apa?” tanya Idris sebelum pulang. Namira mengangguk. Berto dan Idris pun pulang bersama meninggalkan Namira yang masih terlihat bingung. “Tidak mungkin aku salah lihat …” gumam Namira setelah semua orang pulang. Dugaan hatinya semakin menguat akan ada sesuatu yang aneh terhadap pria yang dicintainya itu.

Namira jadi terngiang-ngiang kalimat peramal gipsi tua waktu itu. Aku pernah melihatmu di gambar-gambar kuno, di dalam kitab-kitab peninggalan sejarah mengenai langit dan bumi, kau kaum bersayap bukan kaum iblis, kau di pihak surga bukan pihak neraka, kau tidak jatuh, kau menjelmakan, buat apa? Tempatmu bukan di sini.

“Apa maksud peramal itu?” Namira mengambil telepon genggamnya lalu mencoba mencari tahu lewat internet. Ia menemukan kalau kaum bersayap adalah malaikat. Malaikat terbuat dari cahaya dan tidak bisa difoto. Ia pun teringat pernah berfoto bersama Idris saat di pasar malam. Namira membuka galeri fotonya dan melihat, dirinya hanya berfoto dengan sebuah cahaya yang menyilaukan!

Namira terpaku dengan keterkejutannya sendiri hingga telepon genggamnya terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai.

***

“Dia sepertinya sudah tahu siapa aku,” ucap Idris pada Berto. Berto menggeleng. “Tidak, tenang saja Dris, dia masih menduga-duga, dia tidak akan berpikir sejauh itu,” sahut Berto. “Tapi kalau dia tahu yang sebenarnya bagaimana?” tanya Idris. “Jadi kamu belum memikirkan hal itu?” kaget Berto. Idris mengangguk. Berto menepuk jidatnya. “Ya ampun, kamu harusnya sudan punya rencana lain kalau penjelmaanmu ketahuan, sebagai manusia kita harus selalu siap dengan plan B kalau plan A kita tidak sukses.”

“Tapi aku sudah memikirkannya,” kata Idris.

“Memikirkan apa?”

“Menjadi seperti Anda.”

Berto terkejut lalu menggoyang-goyangkan jari telunjuknya dengan cepat. “No, no, no … jangan pernah memikirkan hal itu, apa dirimu sekarang itu jauh lebih mudah dibanding menjadi manusia yang tidak abadi.”

“Merasakan sentuhan, menikmati makanan, merasakan semua itu,” ujar Idris memejamkan mata seakan membayangkan. “Susah emang ngomong sama malaikat yang jatuh cinta,” dumel Berto. “Aku bisa mendengarmu Pak Berto,” sahut Idris dengan mata masih terpejam.

“Iya iya, maksudku Dris, jangan gegabah, karena ada saat-saat nanti kau akan menyesalinya,” ceplos Berto. Idris membuka matanya lalu menatap Berto. “Katanya Pak Berto tidak menyesal?” bingung Idris. “Ya aku sedikit berbohong, itulah salah satu kelihaian manusia, pandai menyimpan sesuatu,” cengir Berto.

“Apa yang membuat menyesal?”

“Saat-saat hidup terasa sangat berat, saat hati tersakiti … ini tidak terlalu sering terjadi padaku sih, tapi kadang aku suka merasakannya, penyesalan itu juga dirasakan oleh lainnya.”

Idris terkejut. “Jadi selain Pak Berto ada yang lainnya lagi?” Berto mengangguk. “Tentu saja, mereka bertebaran di bumi ini. Manusia-manusia berhati baik, itu sebagian dari kita.” Idris terdiam. Berto menepuk-nepuk bahu Idris. “Seperti yang pernah aku bilang, kamu itu sebaiknya jadi turis saja, jadi sewaktu-waktu bisa pulang ke langit lagi.”

Idris tak bicara lagi lalu melesat hilang. “Hey Dris! Dris! Jangan maen pergi aja dong, ini aku gimana turunnya dari atap rumah?” teriak Berto yang sedari tadi ternyata duduk di atas atap rumah lansia bersama Idris. “Dris! Jangan tinggalin aku di sini! Dris! Wadooh!” panik Berto. Idris muncul kembali. “Maaf,” ucap Idris lalu dengan sekejap mata, Berto sudah berada di depan pintu kamarnya. Berto pun geleng-geleng. ‘Untung dia balik lagi, kalau engga sampai besok pagi aku ada di atap rumah huh!” dumelnya.

***

Idris mengetuk pintu rumah Namira. Namira membuka pintunya dan menatap Idris. “Aku tahu siapa kamu sebenarnya,” ucap Namira gemetar. “Boleh aku masuk?” tanya Idris. Namira membiarkan Idris melangkah masuk lalu menunjukkan foto di telepon genggamnya. “Teleponmu rusak,” kata Idris.

“Tidak, ini bukan rusak, iya layarnya retak karena hapeku jatuh kemarin tapi fotonya itu tidak rusak!” kesal Namira. Idris terdiam melihat foto itu. “Katakan siapa sebenarnya kamu?!” tanya Namira gelisah. “Aku Idris,” jawab Idris. Namira berdecak kesal. “Kamu pikir, kamu bisa membohongiku ya?”

Idris menggeleng. “Aku tidak pernah membohongimu, aku mengatakan sesungguhnya tapi kamu hanya tertawa.”

“Mau apa kamu datang kesini?”

“Aku ke gedung kantormu dan ke rumah lansia tapi katanya sudah beberapa hari ini kamu tidak kesana, jadi aku kesini untuk melihat apakah kamu sakit.”

“Kenapa kamu melakukan ini padaku Dris? Kenapa?” tanya Namira dengan suara serak tertahan sedih dan kecewa. “Aku menyukaimu,” jawab Idris. Namira pun menangis. “Jadi semuanya benar ‘kan? Semua keanehan yang aku lihat dan rasakan?” Idris mengangguk. Namira menggelengkan kepala. “Ini tidak mungkin, ini tidak adil!”

“Apa yang tidak mungkin dan tidak adil?” tanya Idris.

“Di saat aku mencintai seseorang, ternyata orang itu bukan manusia!” lirih Namira.

Idris terdiam. “Kenapa aku Dris?” Namira menatap Idris dengan linangan air matanya. “Aku mengagumi kebaikan hatimu dan kesungguhan hatimu untuk menyelamatkan Bu Sis dan sejak saat itu aku terpukau denganmu,” terang Idris.

“Kamu … kamu saat itu ada di situ?” kaget Namira.

“Ya, itu waktunya aku menjemput Bu Sis dan aku melihat semuanya.”

Namira menatap Idris kini ia tahu jawaban-jawaban dari semua keanehan yang dilihatnya tapi semua masih seperti mimpi baginya. “Sebaiknya kamu pergi dari sini Dris … aku masih belum bisa mengerti semua ini,” ucap Namira. “Aku hanya ingin menjadi teman hidupmu seperti lagu yang pernah kamu nyanyikan dalam pikiranmu waktu itu,” kata Idris.

“Apa? Kamu bisa membaca pikiranku juga?” kaget Namira. “Mendengarkan bukan membaca tapi itu kalau aku mau,” jelas Idris. “Sebaiknya kamu pergi Dris, aku butuh waktu untuk mencerna semua ini dalam pikiranku,” tegas Namira. Idris pun mengangguk dan pergi.

Seketika Namira merasa sunyi. Ia pun menangis sendiri.

***

“Semua sudah berakhir bukan?” ucap Raju pada Idris di saat mereka akan mengikuti sonata hening saat fajar pertama menyentuh garis antara langit dan bumi. Idris hanya diam. Ia memejamkan matanya. Begitu juga yang lainnya. Saat fajar pertama itu muncul, Idris merentangkan tangannya lalu perlahan menjatuhkan dirinya dari awan. Raju membuka matanya dan terkejut melihat itu.

“Idris!” teriaknya dalam hati.

Idris tak berpikir ia hanya membiarkan tubuhnya jatuh dan terus jatuh ke bumi.

BERSAMBUNG

Penulis Ken Fauzy adalah seorang penulis asal Indonesia yang lahir di Jakarta pada 2 Oktober dan saat ini berdomisili di Bandung, Jawa Barat. Ia dikenal sebagai pengarang yang produktif, dengan karya-karya yang mencakup berbagai genre seperti fantasi, horor, misteri, detektif, romansa, komedi, satir, dan aksi. Cerita-ceritanya sering kali memiliki unsur kejutan, alur yang dinamis, dan tema-tema unik. Karya tulis Ken Fauzy juga cukup familiar melalui cerita pendek yang di sajikan di Film/sinetron FTV.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!