Scroll untuk baca artikel
       
SastraPendidikan

Antara Langit dan Bumi Bab II: Menjelma Manusia

21
×

Antara Langit dan Bumi Bab II: Menjelma Manusia

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ken Fauzy

Cerpen– Namira mengerutkan keningnya melihat pria itu tersenyum. “Aku tanya Anda mau naik atau turun, tidak ada yang lucu soal itu tapi kenapa Anda tersenyum?” Idris terdiam lalu menjawab, “Oh, ya betul tidak ada yang lucu, aku hanya menunggu teman.” Namira mengerutkan keningnya lagi. “Teman Anda bekerja di gedung ini?” tanya Namira sambil menekan tombol turun. “Iya,” angguk Idris dengan terus menatap Namira.

Tatapan itu membuat Namira hilang diri untuk sesaat dan ia kembali berhasil menguasai dirinya saat suara pintu lift terdengar terbuka. “Baiklah aku duluan kalau gitu,” kata Namira dan melangkah masuk ke dalam lift. Idris hanya mengangguk dengan terus menatap perempuan itu. Pintu lift tertutup dan Namira menghela nafas.

Baca Juga: Antara Langit dan Bumi Bab 1

Apa itu tadi? Seru Namira dalam hati. Kenapa tatapannya bisa membuat diriku nyaris tak sadarkan diri? Namira tak mengerti. Selama ia hidup, baru kali ini ada tatapan mata dari seorang pria yang bisa langsung menembus jiwanya. Seorang pria asing yang baru dilihatnya dan anehnya tatapan itu membuatnya tenang.

Pintu lift terbuka. Namira melangkah keluar dan terpekik kaget ketika melihat pria itu sudah berada di lobi gedung. “Ba … bagaimana bisa Anda sudah ada di sini mendahuluiku?” heran Namira. “Aku melompat,” kata Idris. “Hah?” kaget Namira lalu menggeleng mencoba mencerna maksud ucapan pria berwajah bersih di depannya itu. “Maksud Anda, Anda lewat tangga darurat begitu?”

Idris hanya tersenyum. “Sudah ketemu temannya?” tanya Namira. “Sudah, namanya Namira dan aku sedang bicara dengannya sekarang,” jawab Idris. Namira menatap bingung. “Aku? Memang kita pernah kenal? Dan dari mana Anda tahu namaku?” Idris menunjuk pada kartu identitas kantor yang masih tergantung di kantong kemeja Namira. Namira menghela nafas lalu mencabut kartu identitas tersebut.

“Nama Anda siapa?”

“Idris.”

“Ok Idris, senang berkenalan dengan Anda, maaf, bukan bermaksud tak sopan, tapi saya harus pergi sekarang,” kata Namira lalu berjalan meninggalkan Idris. Idris hanya diam menatap perempuan itu tak berkata-kata. Di depan lobi gedung, Ferdi telah menunggunya. Pria itu menggandeng tangan Namira. Namira menoleh pada Idris sesaat lalu baru masuk ke dalam mobil. Idris masih memandanginya dalam diam tak berkata-kata.

Pria lanjut usia bernama Berto itu tengah asyik mengunyah permen-permen manis di atas sofa yang lalu disembunyikannya di balik bantal saat mendengar langkah kaki yang masuk ke dalam kamarnya. “Selamat malam Pak Berto, Apakah Bapak mencari saya?” sapa senyum Namira di pintu kamar. Berto terlihat senang. “Kamu pasti yang namanya Namira bukan?!” Namira mengangguk. Berto membuka kedua tangannya lalu memeluk Namira.

“Senang bertemu Bapak,” ucap Namira. “Kamu sudah terkenal di rumah lansia ini Mi, semua kaumku senang bila bertemu kamu,” kata Berto. “Ah itu dilebih-lebihkan,” cengir Namira sambil duduk di sofa. Berto terkejut melihat Namira menduduki permen-permennya. “Ya ampun Pak!” kaget Namira melihat permen-permen itu. Berto terlihat malu-malu karena ketahuan menyembunyikan permen. “Pak, aku tadi lihat catatan medis Bapak, Bapak itu punya diabet loh, seharusnya Bapak sudah ga boleh makan yang terlalu manis begini,” geleng-geleng Namira.

“Sekali doang kok,” cengir Berto dengan kerutan di ujung-ujung matanya. Namira mengambil semua permen itu. “Kalau Bapak mau, minta sama aku ya, jadi aku yang atur makannya,” kata Namira. “Siap Bu,” tawa Berto. “Jadi apa cerita Pak Berto bisa ke rumah lansia ini?” tanya Namira.

“Istriku meninggal beberapa tahun lalu, anak-anak sudah mencoba untuk mengurusku tapi aku merasa aku hanya menjadi penghambat perkembangan rumah tangga mereka, jadi aku meminta mereka untuk mengirim aku kesini,” ungkap Berto. Namira mendengarkan.

“Mereka anak-anak yang baik tapi orang tua sepertiku harus tahu diri, masa mereka di depan, masaku sudah di belakang, itu tidak akan bisa bertemu, jadi biarlah mereka mengejar masa depan mereka tanpa direpotkan oleh kehadiranku, sedang aku menunggu di sini saja. Aku bersemangat untuk berada di sini bersama teman-teman seusiaku!” tawa Berto.

Namira memegang bahu pria lanjut usia dengan kerutan hampir di seluruh wajahnya itu. “Bapak tidak perlu membohongiku, aku tahu Bapak punya sakit, apakah anak-anak Bapak tahu soal ini?” Berto menatap Namira. “Mereka tidak perlu tahu karena aku yakin aku akan sehat Mi,” yakin Berto. Namira tersenyum mengangguk. “Setuju! Bapak betul! Bapak harus sehat, jadi untuk melupakan sakit, maka malam ini kita akan berkaraoke!” Berto bertepuk tangan senang dan tak lama teman-teman lansia lainnya berdatangan untuk menghabiskan malam bersama-sama.

Idris menatap Namira dari luar jendela. Tersenyum melihat betapa perempuan itu berusaha sangat keras untuk membuat bahagia para lansia.

“Bagaimana rasanya bisa dilihat manusia?’ tanya Raju. “Bingung,” jawab Idris. Raju tertawa. “Hanya itu rasanya?” Idris menatap jalan-jalan kota di bawah mereka. Saat itu ia dan Raju tengah duduk di puncak gedung pencakar langit. “Belum semuanya, ada yang belum aku rasakan,” ucap Idris. “Apa itu?” tanya Raju. Idris menyatukan kedua tangannya lalu saling bergenggaman erat. “Idris, Idris … kau memang terlalu banyak ingin tahu … kau tahu manusia bisa menyakitimu?” Raju mengingatkan.

Idris hanya diam. “Bahkan malaikat yang diusir dari surga pun sekarang malu dengan kelakuan manusia, mereka sudah kalah menakutkannya dengan manusia,” kata Raju. “Tapi manusia yang baik pun banyak,” sela Idris. Raju mengangguk. “Ya aku tahu itu.”

Namira berjalan di lorong rumah lansia membawa makanan rendah gula untuk Berto. Ia terkejut ketika melihat seorang pria berpakaian hitam berdiri di depan pintu kamar. “Idris?” ucapnya terkejut. Idris mengangguk tersenyum. “Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Namira. “Tadi aku ke gedungmu tapi kamu tidak ada,” jawab Idris. Namira tertawa. “Tentu saja tidak ada, sekarang ‘kan hari Minggu, kantorku libur.” Idris mengangguk-ngangguk. “Oh, manusia ada liburnya ya?”

“Ya iyalah, kamu pikir kita malaikat? Kamu kenal Pak Berto?” tanya Namira. Idris menggeleng. “Aku hanya penjenguk.” Namira mengajak Idris. “Kalau gitu ayo kita sama-sama masuk, Pak Berto pasti senang ada yang menjenguk.” Idris mengikuti Namira. “Selamat siang Pak, gimana sesi olahraganya tadi pagi?” sapa Namira.

“Wah bikin badan sueger Mi, tadi juga aku sempet maen sepak bola di lapangan kecil situ bareng teman-teman remajaku, wah rasanya seru banget,” jawab Berto. Namira tertawa. Ya kita harus menstimulan pikiran kita dengan hal-hal positif agar tubuh selalu sehat dan muda.

“Ini Pak, aku bawain makanan siang sehat, tadi perawat sudah mengecek bawaanku, kata mereka aman,” ucap Namira meletakkan ketan putih dan ketan merah matang tanpa kelapa dalam daun pisang juga beberapa tempe kukus. “Wah ini enak banget Mi, paduan yang pas, ketan dan tempe, kamu bikin sendiri?” Berto mengambil sebuah tempe dan ketan putih lalu mengunyahnya. “Ga lah Pak, aku pesen online,” senyum Namira.

Berto melirik pada seorang pria yang sedari tadi berdiri tak bersuara. “Sepertinya kau membawa teman Mi,” ucap Berto dengan terus mengunyah. “Astaga, iya, aku sampe lupa Pak, Pak Berto kenalkan ini Idris, dia juga penjenguk seperti saya.” Namira memperkenalkan. Berto menjulurkan tangannya. Idris hanya melihat tangan itu. Berto menatap mata Idris, berkata, “Aku mengajakmu bersalaman Anak Muda.” Idris terlihat bingung.

Namira mengerutkan keningnya melihat Idris yang hanya berdiri menatap tangan Berto yang terjulur, ia lalu menyalami tangan Berto. “Ini yang namanya bersalaman,” kata Namira memberi contoh. Idris baru mengerti. “Oh aku pikir … karena ini belum waktunya,” ucap Idris sendiri. Ia lalu mengikuti apa yang dilakukan Namira.

“Dari mana asalmu Dris?” tanya Berto setelah bersalaman. “Langit,” jawab Idris lugu. Berto menatap Idris begitu juga Namira dengan terkejut lalu mereka berdua tertawa. “Aku tahu kita semua memang berasal dari langit, menurut dongeng asal bayi-bayi itu dari surga bukan? Tapi maksudku kamu dari kota mana?” tanya Berto lagi.

“Oh kota …” sadar Idris lalu mencari-cari nama di kamar yang bisa disebutkannya menjadi asal kotanya. “Bali,” ucap Idris setelah menemukan. Namira terkejut. “Wah jauh juga asalmu.” Idris mengangguk pelan. “Ini enak sekali Mi, kamu harus cobain Dris,” kata Berto lalu menyodorkan sepotong tempe pada Idris.

Idris menggeleng. “Kenapa? Kamu ga suka tempe? Ini makanan penuh gizi loh,” sambung Berto. “Aku … baru makan,” kilah Idris. Berto manggut-manggut dan melanjutkan makannya dengan ujung matanya melirik tajam pada Idris. “Baiklah Pak, kalau gitu saya pamit dulu, besok atau lusa saya kesini lagi,” kata Namira. “Ok Mi, terima kasih banyak ya,” ucap Berto. Mereka saling berpelukan. “Aku pamit juga Pak,” kata Idris.

Berto mengangguk. “Ok Dris, sampai ketemu lagi ya, aku rasa kita pasti akan bertemu lagi.” Idris menatap pria tua yang tersenyum padanya sambil mengunyah makanannya itu lalu menyusul Namira yang telah keluar kamar.

“Aku pikir kamu masih ingin bersama Pak Berto,” kata Namira. Idris menggeleng. Sepanjang mereka berjalan berdua orang-orang yang berpakaian hitam itu menatap mereka, termasuk Raju. Idris melihat mereka semua tapi Namira tidak.

“Namira, maukah ikut denganku sebentar?” tanya Idris. Namira menghentikan langkahnya lalu menatap Idris. “Kemana?” tanyanya. Tatapan teduh itu sungguh menyejukkan hatinya. “Tak jauh dari sini ada taman,” jawab Idris. Namira mengangguk. “Ya aku tahu, taman kota, di seberang gedung ini.” Mereka berdua pun melanjutkan langkah menuju taman kota.

Beberapa saat kemudian. Idris dan Namira telah sampai di taman kota tepat saat sore tiba. Idris menatap sekeliling dan tak tampak satu pun orang-orang berpakaian hitam di antara manusia yang tersebar di taman itu. “Ada apa dengan mengajakku ke taman ini Dris?” tanya Namira membuat Idris menoleh padanya.

“Lihat telapak tanganmu,” kata Idris. Namira terlihat bingung tapi perlahan ia menjulurkan tangannya. Ada hal yang membuat hatinya percaya pada pria tinggi di hadapannya ini. Idris menyentuhkan ujung jemarinya pada telapak tangan Namira lalu memijit-mijitnya lembut.

“Apa yang kamu lakukan?” bingung Namira. Idris menatap Namira. “Apakah kamu merasakan?” tanya Idris. “I … iya … merasakan kalau jarimu mijit-mijit telapak tanganku,” gugup Namira. Kenapa aku jadi gugup ya? Idris mendengar pikiran Namira. “Jangan gugup, selain itu apa lagi yang kamu rasakan?” tanya Idris.

Namira menarik tangannya. “Kamu membuatku takut Dris,” ucap Namira. “Aku tidak ingin membuatmu takut, aku hanya ingin tahu,” jelas Idris. Namira menatap dalam kedua bola mata Idris. Ia nyaris tak sadarkan diri lagi kalau saja ia tak menguasai dirinya. “Aku sebaiknya pulang sudah sore.” Setelah mengatakan itu Namira berjalan tergesa meninggalkan Idris lalu menoleh beberapa kali pada Idris yang terus menatapnya. Hati Namira terasa berdebar.

Namira duduk di depan meja di dalam kamarnya sembari berpikir. Siapa dia? Kenapa tatapannya bisa membuatku sejatuh itu? Dan sentuhannya membuatku gugup. Aku tidak pernah begini sebelumnya. Namira menghelakan nafas, lalu membiarkan angin malam meniup pelan ujung rambutnya dari jendela kamar yang dibiarkannya terbuka. Hatiku berdebar tiap kali dia memandangiku. Debaran yang membuat perutku mulas sekaligus senang di hati. Ya Tuhan, apakah aku jatuh cinta? Tidak mungkin! Namira menggelengkan kepalanya.

Raju menatap Idris. “Sejak kau bergaul dengan manusia, kau sudah mulai berbohong Dris,” ucapnya. Idris diam. Mereka berdua sedang berdiri di atap sebuah rumah mewah. “Kau juga tidak hadir saat sonata hening di sore hari dan kau malah membawa Namira ke taman sore itu, kau tahu hukumannya bagi pembohong dan tak patuh?” cetus Raju. Idris hanya diam. “Seperti orang yang memiliki rumah ini, ikut aku,” perintah Raju.

Di dalam sebuah kamar mewah tampak seorang pria paruh baya berbaring dengan wajah pucat karena sakit juga karena selalu ketakutan. Di sekeliling tempat tidur ukiran berlapis emasnya berdiri semua anggota keluarga beserta dokter pribadinya. Sang dokter menggeleng pada seluruh keluarga, membuat semua keluarga bersedih. Tak ada yang bisa dilakukannya lagi.

Pria paruh baya itu sontak terkejut ketika melihat kemunculan Raju di depannya. “Tidak! Tidak!!” teriaknya ketakutan. Wajah Raju menjelma hitam sehitam keburukan yang dilakukan pria paruh baya itu. Mata Raju melotot. “Ini sudah waktunya!” teriaknya seraya menjulurkan tangannya lalu mencengkeram kepala pria paruh baya itu yang meronta-ronta.

Semua keluarga panik saat melihat tubuh pria itu blingsatan kesakitan dan berguling-guling di atas ranjang tidur emasnya. Idris yang berdiri di antara keluarga hanya diam melihat. “Tidak! Sakiiit!” teriak pria paruh baya itu lalu mengejan kencang dan tak bergerak lagi. Pecah tangisan seluruh keluarga melihat kepala keluarga mereka sudah tak bernyawa lagi.

Di jalanan panjang dan sepi, Raju menyeret pria paruh baya itu menuju ujung jalan yang gelap dan mengerikan. Suara-suara lolongan kesakitan terdengar dari sana. “Jangan, jangan! Aku tobat, ampuni aku!” jerit pria paruh baya itu. Tanpa ampun, Raju terus menyeretnya.

Sebelum pergi, Idris melihat sebuah koran di atas meja dalam kamar itu. Ada berita di halaman utama koran mengenai pria yang dijemput Raju. Pria paruh baya itu ternyata seorang pejabat negara yang melakukan korupsi. Idris pun pergi meninggalkan rumah mewah itu.

Berto tengah duduk di atas ranjang tidurnya sembari mengecek pesan-pesan WA dari anak dan cucunya. Ia tersenyum melihat foto-foto keluarganya. Tiba-tiba ia terdiam dan meletakkan telepon genggamnya. Matanya melihat ke sekeliling kamar. “Aku tahu kamu ada di sini! Keluarlah!” seru Berto.

Idris pun melangkah keluar dari pojok kamar yang gelap. “Apakah kau bisa melihatku?” tanya Idris. Berto tertawa. “Jelas dan terang,” jawabnya. Idris melangkah mendekat.

“Apakah sekarang waktunya aku pergi?” tanya Berto.

BERSAMBUNG>>>>

Penulis Ken Fauzy adalah seorang penulis asal Indonesia yang lahir di Jakarta pada 2 Oktober dan saat ini berdomisili di Bandung, Jawa Barat. Ia dikenal sebagai pengarang yang produktif, dengan karya-karya yang mencakup berbagai genre seperti fantasi, horor, misteri, detektif, romansa, komedi, satir, dan aksi. Cerita-ceritanya sering kali memiliki unsur kejutan, alur yang dinamis, dan tema-tema unik. Karya tulis Ken Fauzy juga cukup familiar melalui cerita pendek yang di sajikan di Film/sinetron FTV.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!