PendidikanSosial

Apresiasi Program MBG, Kepsek SMAN 03 Bombana Nilai Beri Dampak Ganda bagi Siswa dan Ekonomi Lokal

44
×

Apresiasi Program MBG, Kepsek SMAN 03 Bombana Nilai Beri Dampak Ganda bagi Siswa dan Ekonomi Lokal

Sebarkan artikel ini
Kepala SMAN 03 Bombana, Yakob Simpson, S. Pd., M. Pd., MM

Rumbia, Infobombana.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterapkan di SMAN 03 Bombana mulai menunjukkan dampak nyata, tidak hanya bagi kesehatan dan kehadiran siswa, tetapi juga terhadap aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.

Kepala SMAN 03 Bombana, Yakob Simpson Bathimeus, mengatakan bahwa sejak program tersebut berjalan, suasana belajar di sekolahnya menjadi lebih kondusif. Para siswa tampak lebih fokus mengikuti pelajaran karena kebutuhan gizi mereka terpenuhi.

“Sejauh ini program berjalan sangat baik, tidak ada kendala berarti. Distribusi makanan tertib dan kualitasnya terjaga,” ujar Yakob saat ditemui di SMAN 03 Bombana, Rumbia, Bombana, Sulawesi Tenggara, Jumat (23/1/2026).

Menurut Yakob, makanan yang dibagikan kepada siswa telah memenuhi standar kebersihan dan gizi. Setiap menjelang siang hari, siswa secara teratur mengambil jatah makan mereka, lalu kembali ke kelas dengan kondisi yang lebih siap mengikuti pembelajaran. Ia menilai, meski variasi menu tidak selalu sesuai selera semua siswa, hal tersebut tidak menjadi persoalan utama.

“Dengan jumlah penerima yang besar, tentu tidak semua selera bisa terpenuhi. Yang terpenting adalah nilai gizinya,” kata dia.

Yakob mengungkapkan, dampak program MBG mulai terlihat dari meningkatnya kehadiran siswa di sekolah. Beberapa siswa yang sebelumnya kerap absen, kini lebih rutin mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Bagi siswa dari keluarga kurang mampu, MBG menjadi penopang penting. Lauk bergizi seperti telur, ayam, dan sayuran yang sebelumnya jarang mereka konsumsi di rumah, kini bisa dinikmati secara rutin di sekolah.

“Sekitar pukul 12 siang, anak-anak sudah menunggu waktu makan. Itu menandakan bahwa makanan ini memang mereka butuhkan,” ujarnya.

Yakob juga menyebutkan bahwa pada awal pelaksanaan sempat muncul keluhan terkait rasa makanan yang dianggap kurang gurih. Namun, pihak sekolah menjadikan hal itu sebagai sarana edukasi mengenai pentingnya pola makan sehat.

“Makanan ini rendah garam dan tanpa penyedap berlebihan. Awalnya anak-anak perlu beradaptasi, tapi sekarang sudah terbiasa,” jelasnya.

Menariknya, manfaat program MBG tidak hanya dirasakan oleh siswa. Guru-guru di sekolah tersebut juga turut menerima jatah makanan. Dalam kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil, termasuk adanya guru yang belum menerima gaji tepat waktu, MBG dinilai cukup membantu.

Lebih jauh, Yakob menilai program ini memiliki dampak berantai atau multiplier effect bagi perekonomian lokal. Kebutuhan bahan pangan setiap hari mendorong aktivitas peternak, petani, dan pedagang di Bombana.

“Setiap hari ada distribusi telur, ayam, sayur, buah, sampai susu. Bahkan sekarang stok susu kemasan kecil mulai terbatas di pasaran,” ujarnya.

Olehnya itu, ia berharap program MBG dapat terus berlanjut karena dinilai tidak hanya meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan siswa, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

“Program ini bukan sekedar soal makan, tapi tentang kehadiran negara di sekolah dan kehidupan anak-anak,” kata Yakob.

Di SMAN 03 Bombana, waktu makan siang kini menjadi bagian penting dari proses pendidikan, menciptakan ruang belajar yang lebih manusiawi dan memberi harapan bagi siswa untuk tumbuh dengan lebih sehat dan fokus.

Sementara itu, salah seorang siswa kelas XI yang enggan disebutkan namanya mengaku terbantu dengan adanya program tersebut. Ia mengatakan, setelah makan di sekolah, konsentrasinya dalam belajar menjadi lebih baik.

“Kalau sudah makan, rasanya lebih fokus belajar. Dulu kadang susah konsentrasi karena lapar,” ujar siswa tersebut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!