Rumbia, infobombana.id– Bombana, sebuah wilayah yang dahulu dikenal sebagai Onder Afdeling Kabupaten Buton pada masa kolonial Belanda. Sejarah Bombana tak lepas dari dinamika politik, sosial, dan ekonomi yang mewarnai perkembangan daerah ini. Kini, Bombana meretas jalan menuju modernitas.
Bombana adalah salah satu kabupaten yang berlokasi di Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia. Kabupaten Bombana ber ibu kota di Kasipute. Kabupaten Bombana dibentuk berdasarkan Undang-Undang nomor 29 tahun 2003 tanggal 18 Desember 2003 yang merupakan hasil pemekaran Kabupaten Buton. Jumlah penduduk pada tahun 2005 berjumlah 110.029 jiwa.Tercatat laki-laki sebanyak 54.635 jiwa dan perempuan 55.394 jiwa, dan pada pertengahan 2024 berjumlah 166.134 jiwa.
Sejarah
Pada masa kolonial, Bombana merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kesultanan Buton. Wilayah ini kemudian masuk dalam administrasi kolonial Belanda sebagai Onder Afdeling (bagian bawah) dari Kabupaten Buton. Dalam struktur administrasi kolonial, Onder Afdeling merupakan unit pemerintahan di bawah Afdeling, yang berada di bawah Keresidenan. Pembagian ini dibuat oleh pemerintah Belanda untuk memudahkan kontrol dan pengelolaan wilayah jajahan.
Bombana dahulu merupakan bagian dari Kabupaten Buton sebelum akhirnya berdiri sendiri sebagai kabupaten pada tahun 2003. Sejak saat itu, Bombana telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya dan membangun fondasi yang kuat untuk masa depan.
Bombana memiliki suku asli yang dikenal sebagai suku moronene yang tersebar di berbagai kecamatan di kabupaten bombana. Secara umum tersebar di kecamatan rarowatu, rarowatu utara, rumbia, dan kecamatan sekitarnya.
Wilayah Kabupaten Bombana merupakan wilayah yang dihuni oleh Suku Moronene. Di Sulawesi Tenggara, suku Moronene adalah salah satu kelompok etnis yang merupakan penduduk asli. Kabupaten Bombana oleh Suku Moronene dimitoskan sebagai Negeri Dewi Padi (Dewi Sri). Konon, sang dewi pernah turun di sebuah tempat yang belakangan disebut Tau Bonto (saat ini lebih dikenal dengan penulisan Taubonto, ibu kota Kecamatan Rarowatu).
Dalam Bahasa Moronene, ‘tau bonto’ berarti tahun pembusukan, karena ketika Dewi Padi itu turun di tempat tersebut, produksi padi ladang melimpah ruah sehingga penduduk kewalahan memanennya. Akibatnya, banyak padi tertinggal dan membusuk di ladang. Padahal, luasan ladang yang dibuka tak seberapa, hanya beberapa hektare saja untuk setiap keluarga.
Taubonto menjadi pusat pemerintahan pada zaman kekuasaan mokole, gelar raja di wilayah Moronene pada masa lalu. Pada masa pemerintahan swapraja Buton pasca kemerdekaan, wilayah kekuasaan mokole berubah menjadi wilayah distrik dan selanjutnya sekarang menjadi kecamatan.
Secara sejarah, wilayah Moronene berada di daratan besar jazirah Sulawesi Tenggara mencakup sebagian Kecamatan Watubangga di Kabupaten Kolaka sekarang. Namun, yang masuk wilayah administrasi Kabupaten Buton (waktu itu) hanya Kecamatan Poleang dan Kecamatan Rumbia. Saat itu telah berkembang menjadi empat kecamatan. Dua kecamatan tambahan sebagai hasil pemekaran adalah Poleang Timur dan Rarowatu. Kecamatan Rarowatu berpusat di Taubonto.
Pulau Kabaena juga termasuk wilayah Moronene, sebab penduduk asli pulau penghasil gula merah itu adalah suku Moronene. Meski demikian, pemerintahan Mokole di Kabaena bersifat otonom, tidak ada hubungan struktural maupun hubungan afiliatif dengan kekuasaan Mokole di daratan besar, akan tetapi hubungan kekerabatan di antara mokole dan rakyat sangat erat terutama bahasa dan budaya yang khas.
Kekuasaan mokole di Kabaena berada di bawah kontrol Kesultanan Buton, seperti halnya mokole lainnya di daratan besar jazirah Sulawesi Tenggara. Sultan Buton menempatkan petugas keraton di Kabaena yang bergelar Lakina Kobaena. Karena itu secara struktural Kabaena lebih dekat dengan Buton, walaupun begitu secara kultural lebih dekat dengan Bombana, terkait budaya dan bahasa serta ras.
Infrastruktur
Salah satu indikator utama dari modernitas adalah infrastruktur yang semakim memadai. Pemerintah Kabupaten Bombana telah berinvestasi besar-besaran dalam pembangunan jalan, jembatan, dan fasilitas umum lainnya. Jalan-jalan utama yang menghubungkan desa-desa di Bombana kini dalam kondisi yang lebih baik, memungkinkan transportasi barang dan orang menjadi lebih efisien.
Pendidikan dan Kesehatan
Tidak hanya di bidang infrastruktur, Bombana juga berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan. Banyak sekolah dan pusat kesehatan yang telah dibangun atau direnovasi, memberikan akses yang lebih baik bagi masyarakat. Pemerintah daerah juga aktif dalam program beasiswa dan pelatihan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah ini.
Ekonomi dan Pariwisata
Bombana memiliki potensi besar di sektor ekonomi dan pariwisata. Dengan kekayaan alam yang melimpah, seperti tambang emas dan potensi wisata alam yang menakjubkan, Bombana sedang bertransformasi menjadi pusat ekonomi baru di Sulawesi Tenggara. Destinasi wisata seperti Pulau Sagori dan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara.
Meskipun banyak kemajuan yang telah dicapai, Bombana masih menghadapi berbagai tantangan. Infrastruktur yang masih perlu ditingkatkan, akses ke pendidikan yang merata, serta pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan adalah beberapa isu yang masih perlu diatasi. Namun, dengan semangat gotong royong dan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat, Bombana optimis dapat terus maju dan meretas jalan di atas modernitas.
Bombana bukan lagi hanya sebuah bekas Onder Afdeling, tetapi sebuah kabupaten yang berdiri kokoh dengan visi dan misi yang jelas untuk masa depan yang lebih baik.
(Artikel ini merupakan gabungan dari sumber terpercaya: Bombanakab. go. Id, Ensiklopedia Dunia)