Rumbia, infobombana.id – Kemenangan di Pilkada bukan hanya soal angka di kotak suara, tapi merupakan sebuah kisah panjang perjuangan. Begitu pula dengan pasangan Ir. H. Burhanuddin, M.Si dan Ahmad Yani, S.Pd., M.Si atau Bur-Yani yang berhasil mengibarkan panji kemenangan di Pilkada Bombana 2024. Pasangan ini menang dengan perolehan 51.053 suara atau 53,93%. Namun, kemenangan itu lebih dari sekadar hasil, ini adalah rajutan mimpi yang sempat terkoyak tujuh tahun lalu.
Kisah mereka tidak hanya menceritakan tentang dua nama yang mendadak bersinar di atas panggung politik, namun boleh dikata sebuah reuni perjuangan. Ahmad Yani, sang Wakil Bupati terpilih, menjadi saksi hidup dari kekalahan tipis di Pilkada 2017. Kala itu, ia berjuang di barisan Berkah (bersama Kasra Jaru Munara dan Man Arfah), namun harus merelakan kemenangan tergelincir dari genggaman, kalah 1.266 suara dari petahana H. Tafdil-Johan Salim.
Namun, politik selalu punya cara mempertemukan mereka yang belum selesai. Tujuh tahun kemudian, Ahmad Yani tak lagi berdiri di sisi Kasra sebagai lawan petahana, melainkan bergandengan tangan dengan Burhanuddin dalam kapal politik baru bernama Berani (Burhanuddin-Ahmad Yani).
Yang menarik, meski Ahmad Yani berlayar dengan perahu baru, ia tak benar-benar kehilangan awak lamanya. Kasra Jaru Munara, yang dulu menjadi rival Tafdil, justru kembali merapat, memberikan dorongan kuat bagi Berani. Tapi politik memang tak selalu menyatukan, Man Arfah, sahabat seperjuangan tujuh tahun silam, memilih berlabuh di kapal lain, mendukung pasangan Andi Nirwana Sebbu – Hariyanto.
Titik balik emosional terjadi pada 6 September 2024. Di kediaman Kasra, sebuah deklarasi dukungan lahir. Bukan sekedar pengumuman politik, melainkan rekonsiliasi batin antar pejuang lama. Ahmad Yani, dengan suara bergetar, berkata:
“Ini bukan semata tentang politik. Ini tentang janji yang pernah kami buat kepada rakyat Bombana tujuh tahun lalu. Hari ini, saya berdiri di sini bukan sendirian, tapi bersama mereka yang dulu berjuang di barisan Berkah. Kami kembali, bukan untuk balas dendam, tapi untuk menuntaskan janji.” ujar Ahmad Yani.
Kasra pun turut bersuara. Baginya, dukungan kepada Berani bukan keputusan instan.
“Kita bergabung bukan sekedar ingin memenangkan kandidat semata, tetapi kami ingin melanjutkan mimpi yang pernah tertunda. Burhanuddin dan Ahmad Yani punya keberanian untuk mengubah Bombana. Itulah sebabnya kami di sini,” tegasnya.
Namun jalan kemenangan ternyata tak selalu mulus. Perpecahan antara Kasra dan Man Arfah membuat Berani harus bekerja lebih keras. Di sisi lain, dukungan justru mengalir dari mereka yang dulu berdiri di kubu lawan, seperti H. Rasyid dan H. Abustam, tokoh kuat dari daratan Poleang, yang dikenal sebagai bidak penting dalam kemenangan Tafdil pada Pilkada sebelumnya.
Tak hanya itu, Andi Firman, mantan kader Partai Amanat Nasional (PAN) juga melakukan manuver mengejutkan. Dari semula berada di barisan Tafdil-Johan, ia berbalik arah dan menyatakan dukungan penuh kepada Berani lewat deklarasi di kediamannya.
Seiring waktu, dukungan demi dukungan terus berdatangan. Pergerakan politik yang senyap namun tajam membuat aroma kemenangan Berani kian terasa.
Hingga akhirnya, ketika KPU Bombana resmi menetapkan Burhanuddin-Ahmad Yani sebagai pemenang, yakni usai menerima Buku Registrasi Perkara Konstitusi (BPRK) dari Mahkamah Konstitusi tanpa adanya gugatan, suasana Bombana bukan hanya diramaikan sorak-sorai. Ada rasa lega yang membuncah.
Kini, kemenangan itu telah digenggam. Namun, perjuangan belum usai. Rajutan mimpi tujuh tahun lalu telah menjelma menjadi simpul amanah untuk lima tahun ke depan. Burhanuddin dan Ahmad Yani kini memegang kendali Bombana, dengan harapan rakyat yang setia membayangi di setiap langkah mereka.
Kemenangan itu pula tak hanya dilihat dari angka, namun semua itu menjadi gambaran bahwa perlawanan lama bisa menemukan jalannya kembali. Bukan untuk membalas dendam, akan tetapi untuk menuntaskan janji yang pernah melayang di langit politik Bombana.
Pertanyaannya kini, apakah kemenangan ini akan merajut harapan baru? Atau justru memicu babak persaingan yang lebih sengit di masa depan? Hanya waktu yang akan memberi jawabannya.