Scroll untuk baca artikel
       
PendidikanSastra

Cintaku di Tangga Sekolah

78
×

Cintaku di Tangga Sekolah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

Karya: Utari Ardini Amalia

Cerpen -Tidak kusangka waktu begitu cepat berputar. Kini aku telah duduk di bangku SMA. Bangganya diriku karena aku bisa diterima di SMA Negeri 1 Jayapura, sekolah yang selama ini aku incar. Suasana baru tercipta di sana, bersama teman-teman yang baru, sekolah yang baru, dan semua serba baru.

Masa-masa memasuki SMA, kucoba untuk merasakan cinta. Dia yang membuatku jatuh cinta padanya. Dia yang selalu membuatku lebih berarti dan berwarna. Dia menggoreskan berbagai kenangan indah dalam hidupku. Dia pujaan hatiku, dia bernama Ari. Kulewati hari-hari dengannya. Awal yang indah untuk memulai semua bersamanya.

Sebelum memulai hubungan dengannya, aku adalah cewek yang jadul dan tidak tahu tren saat ini. Namun, ketika bersamanya terjadi perubahan drastis dalam hidupku. Perubahan ini ternyata membuat ibuku curiga. Ibu selalu memperhatikanku tanpa kusadari. Ibu pernah menanyakan hal itu, tetapi aku berusaha mengelak sekuat tenaga. Prestasi yang selama ini kucapai mendadak tenggelam sejak mengenal Ari. Waktuku dipenuhi semua tentang Ari.

Hubungan yang kami bina secara diam-diam terus berjalan tanpa hambatan. Waktu terus berjalan, tidak terasa umur hubungan kami hampir memasuki satu tahun. Bahagianya diriku akan semua ini. Ditambah lagi, hubungan kami telah mendapatkan sinyal-sinyal baik dari keluarga Ari. Namun, aku belum cukup yakin untuk mengenalkan Ari kepada keluargaku karena kedua orang tuaku belum memberi izin aku untuk berpacaran. Untuk sekarang, mereka ingin agar aku konsentrasi pada sekolah terlebih dahulu. Begitu banyak pertimbangan jika aku sudah mulai mengenal cinta di usia yang sedini ini. Belum lagi melihat perkembangan anak muda zaman sekarang yang mudah percaya pada seseorang dan akhirnya terjerumus. Kejadian-kejadian itulah yang membuat kekhawatiran orang tuaku begitu besar.

Aku mengerti akan keinginan kedua orang tuaku, tetapi apakah aku tidak boleh merasakan indahnya masa muda? Melihat perkembangan teman-temanku, aku pun ingin merasakannya. Aku putuskan untuk mencoba dengan niat sekadar iseng semata. Namun, aku terjebak oleh kekuatan cinta yang diberikan oleh Ari.

Ari kini telah lulus SMA dan melanjutkan sekolahnya keluar kota. Aku pun tidak bisa menahannya dan dengan terpaksa kami harus menjalani hubungan jarak jauh (long distance). Awalnya, sangat sulit untuk melakukan dan merelakannya pergi, tetapi apa dayaku? Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Waktu Ari akan berangkat pun semakin dekat. Setiap malam rasa gelisah selalu hadir dalam pikiranku. Ingin rasanya aku menghentikan waktu. Harapku semua ini hanyalah sebuah kembang yang menghiasi mimpiku. Namun, tidak bisa kupungkiri bahwa semua ini sudah menjadi goresan takdir untukku dan Ari.

Hari ini adalah hari terberat hidupku. Aku harus terpisah dari Ari. Yang lebih aku sesali, aku tidak bisa mengantarnya. Namun, sebelum Ari pergi, ia selalu menyemangatiku. Setidaknya, rasa takut sedikit menghilang dari benakku. Dia yang selalu ada di saat aku terjatuh, di saat aku rapuh. Kini aku hanya bisa menceritakan semua keluh kesahku tanpa harus berada di dekatnya.

Hari pertama mungkin sangat sulit untuk kujalani. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, kini aku sudah terbiasa dengan keadaan ini. Setelah kulalui, ternyata tidak seberat yang kubayangkan. Aku pun bahagia karena ada sahabat-sahabatku yang setia menemani hari-hariku. Mereka yang selalu ada di saat aku membutuhkan mereka.

Setelah berjalan begitu lama, hubunganku dengan Ari pun diterjang masalah. Dia yang dulu selalu ada waktu buatku sekarang seakan-akan hilang bersama waktu. Komunikasi antara kam pun semakin redup. Aku bingung, sebenarnya apa yang terjadi padanya hingga ia berubah sedrastis ini? Pertanyaan ini selalu menghantuiku.

Aku putuskan untuk menanyakan hal tersebut. Ari pun menjawabnya dengan cuek dan tidak memuaskan hatiku. Aku pun membiarkannya dengan tujuan agar dia bisa merenungi kesalahannya. Aku berusaha untuk tidak menghubunginya terlebih dahulu. Sekian lama berlalu, ternyata Ari pun tidak kunjung memberi kabar kepadaku. Pikiranku kacau dan berbagai kemungkinan yang tidak baik pun berdatangan. Berkomunikasi itu pun bisa dihitung jari dalam waktu sebulan, ditambah lagi pendapat sahabat-sahabatku yang tidak benar.

Memang, jika dipikir, mereka ada benarnya juga karena tidak semua omongan laki-laki bisa dipercaya. Jarak pun dapat mengurangi rasa sayang kami. Aku mencoba bertahan dengan keadaan ini. Namun, setelah aku mendengar kabar dari Dio, teman Ari, aku mulai bimbang dengan keputusanku. Dio adalah teman satu kampus dengan Ari. Dio mengatakan bahwa selama ini Ari sedang mendekati teman satu fakultasnya. Aku tidak percaya, tetapi perkataan Dio begitu serius.

Hatiku perih mendengar semua itu. Dia yang aku banggakan. Dia yang selama ini aku sayang. Dia yang telah membuatku mengerti akan arti cinta. Dia pun yang membuat aku menangis. Lama-kelamaan, Ari pun mengakui akan kesalahannya. Ia jujur bahwa selama ini rasa sayangnya sudah mulai memudar. Mungkin semua ini karena jarak yang memisahkan kami. Aku seakan tak sanggup. Aku marah, sedih, kecewa, dan sangat sangat ingin meluapkan emosiku ini pada dirinya.

Aku menceritakan semuanya kepada sahabatku. Mereka menyarankan aku untuk melepas Ari agar tidak menangis untuk kedua kalinya. Dengan penuh luapan amarah, aku pun memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Ari. Sejak itu, aku dan Ari pun hilang kontak sama sekali. Awal perpisahan dengannya, cukup membuatku rapuh. Namun, sahabatkulah yang selalu hadir untuk menghiburku. Luka yang dulu memenuhi hatiku pun, semakin lama menipis. Aku jalani semua hari-hariku dengan keluarga dan sahabat. Memulai untuk membuka halaman baru adalah awal yang baik untuk hidupku.

Aku bahagia, tanpa kehadiran dirinya, seakan hidupku lebih sempurna. Prestasi di sekolah pun dapat kuraih kembali. Dengan semua yang kini kucapai, aku sangat bersyukur. Aku di kelas XI IPA1 sekarang. Begitu banyak cerita yang kulalui sendiri dengan semua kegiatan yang aku senangi. Aku yang sudah bisa melupakannya, kini ia muncul kembali dalam hidupku. Seolah-olah tidak sadar akan kesalahan yang dulu telah ia perbuat. Dengan polosnya, ia ingin kembali kepadaku. Aku harus berpikir seribu kali lagi untuk bisa membuka hati ini untuknya. Setelah luka yang ia goreskan dulu, dengan penuh pertimbangan, aku pun harus menolak kehadirannya di hidupku karena terlalu sakit akan luka yang dulu ia buat. Dia mengeluarkan semua janji-janji manis dari mulutnya. Dia menyesal akan perbuatannya dulu. “Tapi kenapa kau tak pernah mengerti akan perasaanku dulu? Apakah kau telah mati rasa? Cukup bodoh rasanya jika aku menerimamu  kembali. Aku bukanlah cewek yang lemah seperti dulu. Kini aku lebih tegar dari sebelumnya. Terima kasih atas luka yang dulu, karena dengan begitu aku bisa lebih kuat menghadapi semuanya. Kembalilah dengan seseorang yang kau kejar dahulu. Aku di sini sudah bahagia tanpa dirimu dan aku sudah tidak peduli kepadamu. Aku hanya bisa berkata, terima kasih atas kenangan yang pernah kau lukis dalam kehidupanku.

Sekarang semua telah sirna dan tak akan pernah ku ingat kembali. Anggaplah aku hanyalah seorang yang hadir dalam mimpimu dan tak untuk jadi nyata.

Perpisahanku adalah awal yang baik dalam hidupku. Semasa liburan semester aku dan keluargaku memutuskan untuk berwisata ke Bali. Di sana begitu indah. Banyak kenangan indah yang terjadi, menjadi salah satu cara untuk menyegarkan segala pikiranku dan sejenak melupakan masalah-masalahku. Liburanku kali ini sungguh bermakna buatku dan keluarga. Akibat dari liburan kali ini, menimbulkan hasrat untuk kuliah di luar kota. Pindah pun menjadi harapan pertama buat keluargaku. Aku berharap dapat menghabiskan waktu di luar kota, khususnya di kampung halaman ibuku, yaitu di Jawa karena di sana banyak terdapat keluargaku. Kami ingin berkumpul menjadi satu agar tali silahturahmi dapat dieratkan.

Sepulang dari liburan, aku menjalani aktivitas seperti biasa. Aku berjuang agar prestasiku terus meningkat. Hasil jerih payahku selama ini pun berbuah, aku dapat mengikuti lomba-lomba untuk perwakilan sekolah. Betapa bangganya kedua orang tuaku, ketika melihatku dapat memenangkan lomba dan mengharumkan nama sekolah. Kehidupanku kini begitu sempurna. Kegiatan yang begitu banyak ini membuat aku lupa akan seseorang yang diam-diam selalu memperhatikanku.

Aku sama sekali tidak memperhatikan gerak geriknya selama ini, semua itu pun aku tahu dari sahabatku. Dia yang selalu memperhatikan segala tingkah lakuku di sekolah. Dalam hati terbersit rasa penasaran akan si dia yang diam-diam mengidolakanku. Rita, sahabatku pun menunjukkan si dia. Dia ternyata bernama Ryan, seorang bintang basket di sekolah kami. Saat ia memperhatikanku dan aku pun balik menatapnya. Akhirnya, ia memalingkan perhatiannya. Namun, lamakelamaan ia mulai memberanikan diri untuk mendekatiku. Pertama kali ia berkenalan denganku ketika bertemu di tangga sekolah. Saat itu, seakan matanya tidak berhenti menatap mataku. Aku pun salah tingkah dibuatnya. Begitu banyak cewek yang mengidolakan Ryan, si kapten basket sekolah kami. Namun, sepertinya akulah yang berhasil membuat bintang basket ini jatuh hati.

Jujur, sebelumnya aku pun tidak pernah mengenal Ryan. Aku baru mengetahuinya ketika Rina yang memberitahuku. Ini semua mungkin akibat kesibukanku dengan lomba-lomba sehingga tidak mengikuti perkembangan sekolah. Selama ini di pikiranku hanyalah belajar, belajar, dan belajar. Para sahabatku menyetujui bila aku bisa bersama Ryan. Namun, sulit bagiku untuk bisa membuka kembali lembaran baru. Aku takut tersakiti, aku takut semua  yang telah kugapai selama ini sia-sia hanya karena hadirnya dirinya. “Huh, sulit sekali untuk mengambil keputusan ini. Bahkan, Ryan yang selalu meyakinkan perasaannya padaku, tak cukup bisa membuatku percaya.”

Begitu banyak pengorbanan yang Ryan lakukan untuk mendapatkan cintaku. Itu semua kurasa belum cukup untuk membuatku menerimanya. Aku tahu, dia juga tidak seperti Ari. Dia setidaknya memiliki prestasi yang bagus di sekolah, tetapi apakah itu menjamin semuanya? Hatiku terasa campur aduk. Prestasi dan cinta semuanya membuatku bimbang, manakah yang aku pilih? Terkadang jika aku termenung sendiri, rasa kangen akan hadirnya seseorang pun melanda hatiku. Terus dan terus berpikir mana yang harus aku lakukan.

Ryan yang tidak henti-hentinya mendekatiku, akhirnya sedikit demi sedikit bisa meluluhkan kerasnya hatiku. Selama ini, tidak ada sedikit pun sikapnya yang membuat aku ill feel terhadapnya. Itu yang membuat aku semakin sulit untuk berkata tidak terhadapnya. Aku putuskan untuk mencoba semua dengannya, walau masih terdapat sisa-sisa keraguan dalam hatiku. Tibalah waktu Ryan menunggu jawabanku. Secara tak sengaja, kami pun bertemu kembali di tangga-tangga tempat pertama kali kami bertemu dan di tempat itulah yang menjadi saksi buta permulaan hubungan ini. Oleh sebab itu, Rina menjuluki kami dengan sebutan “cintaku di tangga sekolah”. Tidak lelah Rina menggoda kami sehingga wajah kami berubah menjadi merah merona.

Aku menjalankan semua ini dengan suasana yang baru. Memang, terdapat sedikit perbedaan ketika aku berpacaran dengan Ari. Ryan selalu mengerti akan keadaanku yang dipenuhi dengan lomba-lomba di sekolah. Dia tidak pernah mengeluh akan kurangnya perhatian dariku. Ia selalu mendukung semua yang aku lakukan. Tidak adil rasanya jika aku tidak seperti dia. Jika ia mengikuti lomba basket, akulah yang harus mencoba mengerti akan kesibukannya dan semangatlah yang ia butuhkan dariku. Pengertian itulah yang sangat dibutuhkan dalam menjalani hubungan ini. Waktu yang kami jalani seolah sangat bermakna karena adanya sikap saling mengerti. Aku sungguh bersyukur karena tidak salah memilih orang dan aku harap Ryanlah yang kelak akan selalu bersamaku selamanya.

Waktu terus berjalan dan kami sudah duduk di bangku SMA kelas 3. Prestasi kami pun tidak menurun sedikit pun walaupun kami sedang menjalani hubungan ini. Berbeda semasa aku bersama Ari yang membuat aku terbuai akan semuanya. Orang tua kami pun bangga melihat prestasi kami. Di sekolah kami dikenal sebagai pasangan yang sangat cocok karena saling melengkapi. Selain prestasi yang kami raih, kami juga memiliki banyak persamaan. Banyak yang mendoakan agar hubunganku dengan Ryan adem ayem selamanya. Guruguru di sekolah pun merestui hubungan yang telah kami rajut.

Masa kelas 3 SMA adalah masa yang cukup berat yang harus kami lalui. Agar kami dapat konsentrasi ke pelajaran, kami pun memutuskan break sementara waktu. Ini bukanlah semata karena apa-apa, melainkan kami ingin mendapatkan prestasi kelak. Ini adalah keputusan terbaik untukku dan dia. Ujian untuk kelulusan kami pun tiba. Aku dan Ryan berjuang sekuat tenaga agar bisa mendapatkan nilai yang memuaskan. Perjuangan kami selama ini pun tidak sia-sia. Aku dapat mengukir prestasi menjadi juara 1 umum di sekolah dan Ryan mendapatkan juara 2 umum di sekolah kami. Ini merupakan awal yang baik untuk kami berdua.

Setelah lulus, hubungan ini kembali kami rajut.

Aku memutuskan untuk mengambil kuliah di Jawa dan Ryan mengambil kuliah di Sumatera. Aku terpaksa harus mengulangi keadaan  seperti dulu. Namun, kali ini aku tak setakut dulu karena Ryan adalah tipe yang setia dan tidak mungkin bertingkah seperti Ari. Sambil menunggu waktu saat kami harus berpisah, Ryan pun mencoba mengenalkanku kepada keluarganya. Aku diajaknya menghadiri acara keluarganya dan pada saat itu juga ia mengenalkannya padaku. Sambutan dari keluarga Ryan sungguh sangat menyenangkan buatku. Mereka pun merestui hubungan ini. Selain itu, ibu Ryan sudah mengetahui prestasi yang sudah kami berdua raih semasa SMA.

Sekarang, giliranku untuk mengenalkan Ryan kepada keluargaku. Dengan penuh rasa takut aku pun mencoba membawa Ryan berkunjung ke rumah. Aku mencoba menjelaskan siapa Ryan kepada kedua orang tuaku. Ryan dilontari beribu pertanyaan dari orang tuaku, terutama ayahku. Mungkin karena aku adalah anak satusatunya sehingga membuat kekhawatiran yang begitu besar dari kedua orang tuaku. Seketika Ryan ditanya, aku hanya dapat berdoa semoga kami bisa mendapatkan restu. Keringat sebesar biji jagung pun terus muncul dengan tiba-tiba melihat perbincangan serius antara kedua orang tuaku dengan Ryan. Aku takut karena Ryan adalah satu-satunya cowok yang aku bawa untuk diperkenalkan kepada keluargaku. Semua ketakutanku seolah musnah ketika orang tuaku memberi restu kepada aku dan Ryan.

Aku rasa perlengkapan buat keberangkatanku sudah siap semua. Besok aku harus berangkat bersama kedua orang tuaku. Kami pun memutuskan untuk pindah ke Jawa. Ryan bersedia mengantarkan kami ke bandara. Tidak sanggup rasanya harus berpisah, tetapi inilah yang harus aku terima. Selang beberapa hari setelah aku berangkat, Ryan pun berangkat ke Sumatera untuk melanjutkan kuliahnya. Selama ini hanyalah komunikasi yang selalu kami jaga. Setidaknya dalam sehari harus memberi kabar dengan tujuan agar komunikasi antara kami terus berjalan. Keluarga Ryan sementara ini masih tinggal di Jayapura. Jika liburan semester, Ryan meluangkan waktu untuk menengok kedua orang tuanya. Setelah itu, tidak lupa ia juga menyempatkan diri singgah ke Jawa untuk bertemu denganku. Tidak terasa waktu pun berjalan tanpa henti. Dua semester sudah kami lalui dengan keadaan seperti ini. Kami melakukannya dengan sepenuh hati.

Aku berniat ingin kuliah sungguh-sungguh hingga aku menggapai cita-citaku. Aku rasa Ryan pun memiliki misi yang sama sepertiku. Aku berjuang agar mendapatkan IP yang tinggi dan berusaha untuk tidak mengambil semester pendek. Selama dua semester ini, nilaiku memuaskan, begitu pun dengan Ryan. Ingin rasanya cepat-cepat kerja agar dapat menghidupi keluargaku. Menggantikan ayahku agar ia tidak usah bekerja kembali lantaran usia yang sudah tua. Aku ingin ayah hanya menghabiskan masa tuanya dengan bersantai di rumah.

Hari terus berlalu, sekarang kami berada di semester akhir. Ini merupakan waktu yang sangat sibuk buat kami. Dengan semua kerja keras, akhirnya aku mendapatkan gelar S1. Aku tidak bisa menggambarkan kebahagiaanku ini. Apalagi pacarku, Ryan juga sudah menyandang gelar S1 sepertiku. Dengan IP yang aku raih semasa kuliah, kini aku diterima menjadi dokter di salah satu rumah sakit terkenal di Malang. Tidak hentihentinya aku mengucap syukur. Ryan pun ingin sekali mewujudkan cita-citanya, yaitu menjadi seorang tentara. la pun mengikuti tes sesuai dengan prosedur dan akhirnya dapat diterima.

Suasana baru mulai aku rasakan kembali, tempat kerja yang baru, dan teman-teman yang baru. Selama pendidikan, aku tidak bisa mengganggu Ryan. Untuk sementara kami tidak bisa berkomunikasi karena selama pendidikan dilarang untuk membawa alat komunikasi. Enam bulan tidak berjumpa dengan Ryan, sungguh menyisakan rindu yang mendalam untuknya. Setelah pendidikan, Ryan dilantik menjadi tentara sesuai dengan keinginannya. Ryan pun ditugaskan di Malang. Mendengar kabar itu, aku sungguh bahagia. Tidak ada alasan lagi untuk kami menjalani hubungan jarak jauh. Namun, beberapa bulan setelah Ryan dilantik, ayahandanya meninggal akibat faktor usia. Mengetahui hal itu, aku dan Ryan pun dengan segera menuju Jayapura. Sayangnya, Ryan tidak sempat melihat ayahnya untuk terakhir kalinya. Betapa sedih hatinya. Ia sudah sukses, tetapi ayahnya tidak sempat merasakan kebahagiaan yang Ryan raih. Ryan sangat terpukul dengan kepergian ayahnya. Selama ini ia belum sempat membahagiakan ayahnya, tetapi ajal sudah mengambilnya terlebih dahulu. Ibu Ryan begitu syok dengan keadaan ini. Namun, ini semua adalah cobaan yang harus dijalani. Awalnya sangat berat, tetapi mungkin ini yang terbaik buat semuanya. Ryan memutuskan untuk membawa ibunya ke Malang, tempat ia ditugaskan. Mereka akhirnya tinggal bersama aku dan keluargaku di Malang.

Gaji pertamaku aku berikan kepada kedua orang tuaku yang telah mendidik dan membesarkan aku. Tanpa mereka, aku tidak mungkin bisa seperti ini. Ternyata Ryan juga sepaham denganku. Ia menyerahkan semua gaji pertamanya kepada ibunya seorang. Ibunya sangat bangga kepada Ryan karena Ryan tidak pernah mengecewakannya. Hubungan kami semakin awet saja semakin hari.

Ryan sudah mapan sekarang dan ia memutuskan untuk meminangku. Tanpa membutuhkan banyak waktu, akhirnya kami pun menikah. Setelah kami menikah, Ryan berniat untuk mengajak ibunya tinggal di rumah kami. Kami tinggal bersama dalam satu rumah lengkaplah sudah kebahagiaan keluarga kami.

Terkadang ketika aku sedang berdua bersama Ryan, teringat masa-masa ketika masih SMA dulu. Masih mengingat julukan dari sahabatku Rina buat kami berdua, yaitu “cintaku di tangga sekolah”. Aku dan Ryan pun tersenyum jika mengingat semua itu. Tidak akan pernah terbersit olehku dan Ryan untuk melupakan semua kenangan indah itu.

Sumber:

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Balai Bahasa Papua

Penyunting;

Supriyanto Widodo, S.S., M.Hum.

Penulis:

Utari Andini Amalia merupakan
Siswi SMA Negeri 1 Jayapura, Jalan Biak, Abepura, Jayapura. Penulis juga merupakan pemenang Sayembara Cerpen Tahun 2016 lalu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!