
Rumbia, Infobombana.id- Hampir satu semester ini, nyaris tak ada lagi keluhan masyarakat di Kabupaten Bombana soal angka kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) alias inflasi. Padahal, riak-riak warga, terkhusus di ibukota di daerah itu masih terdengar merintih di awal semester lalu, tepatnya di bulan Januari, Februari hingga Maret tahun 2024.
Warga mengeluh harga beras, telur, bawang merah, bawang putih, cabai dan jenis bahan sembako lainnya meroket, dan bahkan melambung diatas harga. Derita ini juga ikut dirasakan oleh jajaran pemerintah daerah Bombana saat berbelanja.
Kala itu, Kabupaten Bombana baru saja kedatangan sosok birokrat yang diturunkan Mendagri untuk memimpin Bombana. Nama lengkapnya Drs. Edy Suharmanto, M. Si. Bagi kerabatnya kerap menyapa dia Bung Edy. Parasnya berkumis, tampan, ramah dan berkarakter tenang. Pilihan Mendagri, Muhammad Tito Karnavian sepertinya tak keliru. Sebab, kehadiran Edy Suharmanto di bumi munajah seolah menjadi jawaban bahkan solusi atas ragam keluhan masyarakat dan diharapkan mampu membawa dampak bagi kesejahteraan masyarakat di daerah itu melalui kebijakannya.
Semenjak dirinya dilantik pada 27 November 2023, ia telah diperhadapkan dengan keluhan soal kenaikan harga yang telah dialami warga Bombana sejak Agustus tahun 2023. Pihaknya juga cukup merasakan karena sembako merupakan kebutuhan paling mendesak. Saat itu, sang birokrat Bung Edy menyadari bahwa warganya tengah menghadapi tantangan inflasi yang mengancam stabilitas ekonomi di daerah itu.
Seluruh jajaran instansi terkait pun dikumpulkan mulai dari dinas Perindakop, pertanian, perum bulog, dinas ketahanan pangan dan instansi lainnya. Mereka dirembuk dan membentuk satu tim yaitu Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Pertemuan itu tak lain untuk membahas secara mendalam penyebab atas terjadinya kenaikan harga yang salah satunya ialah dampak dari teradinya cuaca ekstrim alias Elnino sejak pertengahan dan penghujung tahun 2023. Belum lagi soal meningkatnya kebutuhan masyarakat di momen Ramadhan, hari raya Idul Fitri, dan juga momentum akhir tahun yakni hari natal dan tahun baru. Kasus kenaikan IPH ini bahkan masih sangat terasa hingga menjelang bulan Maret Tahun 2024.
Pertemuan TPID dalam hal pembahasan kasus inflasi ini bahkan menjadi agenda rutin di setiap awal pekan. Pj. Bupati Edy Suharmanto dengan rutin melaporkan perkembangan penurunan kasus inflasi ke ranah Kemendagri melalui pertemuan virtual dan melibatkan seuruh instansi terkait di Bombana.
Tak main-main, hadirnya Pj Bupati Edy memang boleh dikata membawa perubahan besar bagi daerah Bombana. Padahal saat itu, kehadirannya di bumi munajah tergolong masih seumur jagung. Ia bahkan mampu beradaptasi secara spontan dan bergerak cepat secara gotong royong bersama jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Forkompkmda untuk menuntaskan misinya dan mendahulukan skala prioritas nasional, seperti persoalan stunting, inflasi dan kemiskinan ekstrim.
Seiring berjalannya waktu, status inflasi di Kabupaten Bombana menunjukkan tern positif setelah dilakukan ragam pergerakan masif. Guna menekan laju inflasi terutama di hari-hari besar seperti momentum Ramadhan dan Idulfitri, Edy Suharmanto mengajak seluruh stakeholder untuk bekerja keras. Edy bahkan meluangkan waktunya untuk turun gunung bersama pimpinan DPRD, TNI/Polri, Sekda Bombana, dinas terkait, Perum Bulog dan lainnya masuk ke kebun warga menanam cabai.
Kemudian ia rela masuk ke kandang ayam milik para peternak untuk mengecek harga telur, termasuk wilayah pasar-pasar untuk memastikan langsung harga kebutuhan pokok seperti Sembako, daging sayuran dan sebagainya.
Disisi lain, Forkompimda dan instansi terkait seperti dinas Perindakop Bombana beraksi melalui ragam kegiatan yang meliputi pengadaan kios inflasi, pasar murah. Ada pula dinas pertanian yang cukup lihai dalam menjalin hubungan erat dengan para petani melalui penyaluran bantuan berupa peralatan penunjang produksi pertanian. Instansi ini juga menggenjor berbagai kegiatan seperti gerakan tanam cabai, irigasi persawahan dan menjalin kerjasama dengan para petani untuk membuka lapak tani di pusat keramaian di Bombana demi menekan laju Inflasi.
Hal ini juga dilakukan bekerjasama dengan Dinas Ketahanan Pangan melalui aksi gerakan pangan murah keliling (Gaul). Salah satunya adalah penyaluran beras 10 kilogram bagi 12.948 kelompok penerima manfaat di Bombana.
Disamping itu pergerakan efektif juga dilakukan oleh TNI Kodim 1431 Bombana dengan aksinya membuka pasar murah dan gerakan tanam seribu pohon. Begitupula dengan Polri dan instansi vertikal lainnya selalu hadir mendampingi Pemkab Bombana demi menekan inflasi yang kala itu masih mencapai 5 persen. Semuanya berawal dari adanya Elnino Ekstrim yang berdampak pada tingginya harga permintaan dipasaran hingga terjadi inflasi.
Memasuki bulan Juni 2024, Bombana mampu menurunkan angka Inflasi dalam waktu yang tidak terlalu lama. Angka inflasi di daerah itu telah menurun dengan perubahan IPH 3,96. Angka ini pula termasuk signifikan karena menekan laju inflasi tergolong cukup rumit jika tak ada penanganan cepat.
Keberhasilan daerah itu dalam menekan laju inflasi merupakan bukti atas komitmen kuat serta kebijakan yang diterapkan Edy Suharmanto. Karakternya yang tenang dan santun berucap ternyata menyimpan secercah harapan dan semangat serta tekad yang kuat demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Bombana.
Pada akhirnya, Kabupaten Bombana berhasil tembus di posisi 10 besar. Bagi Edy Suharmanto, kasus inflasi sangat mudah jika dituntaskan secara masif. Meski kenyataannya tak mudah, tapi baginya prestasi itu tak bakalan bisa dicapai tanpa dukungan penuh dari semua stakeholder yang ada.
Olehnya itu, Edy Suharmanto menyatakan komitmennya untuk terus melakukan yang terbaik dan menunjukkan perkembangan positif dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Alhamdulillah, Bombana bisa masuk 10 besar dalam menekan lahu inflasi. Ini semua berkat kerjasama yang kompak ssmua stakeholder. Maka dari itu, kami berkomitmen akan terus menciptakan lingkungan yang lebih baik untuk pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan dengan program-program kerja yang nyata,” ujar Pj Bupati Bombana, (05/6/2024) lalu.
Memasuki semester dua tahun 2024, penanganan inflasi pun terus saja dilakukan melalui ragam pergerakan, salah satunya ialah Pemda Bombana membuka pasar murah di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bombana mulai di bulan Juni, Juli sampai pada bulan Oktober hingga November tahun 2024.
Bombana Tembus Tiga Besar Nasional Atasi Inflasi
Kerja solid semua stakeholder dilakukan secara terstruktur dan pada akhirnya Pemerintah Kabupaten Bombana terus menunjukkan tren positif dalam menekan laju inflasi.
Menurut data Badan Pusat Statistik, grafik IPH di pekan kedua Agustus 2024 pada kasus inflasi di Bombana menunjukan angka dibawah 3, 85 persen alias terendah ketiga secara nasional. Padahal di pekan kedua Mei 2024, masih di angka -2,91 persen.
“Secara umum, ketersediaan bahan kebutuhan pokok dan pangan yang strategis sampai September 2024 nanti, masih tersedia dan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Bombana,” kata Pj Bupati Bombana, Edy Suharmanto. (Adv)