Scroll untuk baca artikel
       
BerandaHeadlineWisata

Eksotis di Kirab Budaya, Kecamatan Kabaena Sulap Klobot Jadi Mahakarya

180
×

Eksotis di Kirab Budaya, Kecamatan Kabaena Sulap Klobot Jadi Mahakarya

Sebarkan artikel ini
Kulit jagung (Kolimpuhu dalam bahasa Kabaena) atau Klobot dalam bahasa Jawa, berhasil disulap menjadi sebuah mahakarya

Rumbia, Infobombana.id- Kecamatan Kabaena tampil memukau di ajang Festival Kirab Budaya yang dihelat di Eks Pelataran MTQ, Ruang Terbuka Hijau, Kabupaten Bombana, Selasa (17/12/2024). Kecamatan Kabaena menyulap dirinya menjadi panggung eksotis dalam acara Kirab Budaya tahunan menjelang hari jadi daerah itu yang ke-21 tahun

Di antara semaraknya momen festival itu, sebuah keajaiban sederhana namun memukau, mampu mencuri perhatian penonton dengan hadirnya sosok jelmaan ratu yang mengenakan gaun peri yang terbuat dari klobot alias kulit jagung.

Di tangan para perajin lokal yang penuh kreativitas asal Kabaena, kulit jagung yang biasa kita abaikan, malah disulap menjadi sebuah mahakarya. Setiap helai klobot dipilih, dirajut, dan dirangkai dengan teliti, membentuk gaun yang mengalir lembut seakan berbisik pada angin. Warna alami klobot yang putih kekuningan itu memberikan sentuhan elegan dan kesederhanaan yang tak tergantikan.

Hadirnya sosok gaun peri ini juga mencerminkan simbol dari kearifan lokal dan keberanian untuk bermimpi besar. Di pelataran, tepat di depan panggung utama Kirab Budaya, seorang wanita dengan penuh keanggunan mengenakan gaun tersebut, melangkah dengan keyakinan. Senyumnya merekah, menyampaikan pesan bahwa keindahan sejati berasal dari alam dan tangan yang terampil.

Masyarakat yang hadir pun terpana, merasakan magis yang terpancar dari gaun klobot. Tepuk tangan bergemuruh, menyambut inovasi yang memadukan tradisi dengan kreativitas. Dalam gaun peri dari klobot ini, tercermin kecintaan pada warisan budaya dan semangat untuk terus berinovasi.

Hadirnya Kecamatan Kabaena dengan menampilkan desain klobot di ajang festival kirab budaya ini menjadi peringatan bagi warga Bombana bahwa jagung merupakan sumber kehidupan serta kebutuhan pokok masyarakat di jaman dahulu dan bahkan sampai saat ini.

Dahulu, menanam jagung mungkin menjadi pilihan utama karena berbagai alasan seperti kebutuhan pangan lokal, kesesuaian iklim, dan lahan yang tersedia. Namun, seiring perkembangan zaman, banyak masyarakat yang beralih ke tanaman lain atau bahkan kegiatan ekonomi lainnya, terkhusus di Pulau Kabaena.

Hal ini juga diungkapkan Camat Kabaena, Agus Salam, bahwa dari jumlah enam kecamatan yang ada di pulau itu, sangat jarang warga petani yang menanam jagung. Sehingga, cukup menyulitkan bagi para pelaku usaha untuk menjalankan usahanya , seperti warga yang menjadikan gula kelapa sebagai sumber penghasilannya.

“Memang untuk pembuatan kreasi gaun dari jagung ini kami rasakan kerumitan tersendiri, karena kulit jagungnya yang susah kami dapatkan, pembuatannya juga sangat membutuhkan waktu dan kesabaran,” ucap Agus Salam.

Agus mengakui kerumitan dalam mendapatkan bahan baku kulit jagung yang salah satunya karena potensi perkebunan jagung di Pulau Kabaena yang telah mengalami kemunduran,  bahkan seolah akan mengalami kepunahan.

” Maka dari itu, kami hadir menampilkan ini supaya ada perhatian pemerintah untuk tetap memberikan ruang gerak bagi lerkebunan rakyat, paling tidak untuk menggalakkan kembali, menanam kembali demi menambah ketahanan pangan kita,” cetus Agus Salam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!