Scroll untuk baca artikel
       
SastraPendidikan

Janji Manismu Mama

78
×

Janji Manismu Mama

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

Karya: Dinda Yuni Sari

Cerita Pendek – Aku berdiri terpaku melihat dangan saksama. Sosok wanita bertubuh mungil, berkulit putih pucat, rambut lurus panjang sepinggang. Dari wajahnya terpancar ekspresi scdih dan kesepian, sepertinya langit mendung penuh kedukaan dan ketakutan yang terus menyelimutinya. Wanita itu terlihat seperti mayat hidup, bingung, dan rapuh. Dia :berdiri di hadapanku, tepatnya di dalam cermin berbingkai kayu jati yang terukir indah. Wanita dalam cermin itu adalah aku.

Melihat diriku di cermin, sebuah memori tentang janji manis berakar kuat di otak dan di salah satu relung hatiku. Memori yang muncul dengan rasa sakit, mengiris hatiku tanpa belas kasihan, menghancurkan dindingdinding hati yang rapuh, dan menyisakan potongan kecil yang hancur tercabik-cabik tanpa sisa. Memori itu menjadi mimpi buruk yang selalu menemani malammalam sepi di sepanjang hidupku. Memori tentang janji yang diucapkan mama.

“Kamu adalah malaikat kecil Mama, bintang penerang dalam hidup Mama. Anugerah terindah dari Tuhan yang pernah Mama terima. Mama berjanji sayang, Mama akan selalu menjagamu selamanya dan cinta Mama akan abadi dengan rasa dan kasih yang kita miliki. Bersama untuk selamanya hingga maut memisahkan kita.”

Janji yang hanya sekadar janji, tidak pernah kembali setelah mama mengucapkannya. Kecelakaan itu membawa pergi mama dan janjinya untuk selamanya, membekaskan luka yang menyakitkan di hatiku, membuat lubang besar yang tidak akan pernah tertutup.

***

 “TOK…TOK….TOK,” terdengar suara ketukan di luar kamar. Perlahan pintu kamarku terbuka. Sosok wanita berwajah keibuan dan anggun masuk dan mendekatiku.

“Veela, kamu sudah siap sayang,” katanya begitu berdiri tepat di sampingku.

“Sudah, Tante,” balasku singkat.

“Mang Mamang sudah tungguin kamu di depan,” balasnya lagi. “Iya, Tante, sebentar lagi Veela turun,” jawabku tak bersemangat.

“Sayang, ayolah, inilah hari pertama kamu masuk sekolah. Tersenyumlah, jangan murung seperti ini. Mama ingin setelah kita pindah kamu lebih baik.”

“Hah…, Mama! Kita sudah pernah buat perjanjian, bukan? Saya hanya akan memanggilmu dengan sebutan Tante,” balasku dengan suara mulai meninggi.

“Maafkan Tante, Sayang. Jangan kita mulai pagi ini dengan pertengkaran kecil ini. Siap-siap ya, Sayang,

Tante tunggu kamu di bawah.”

***

“Selamat pagi, dunia. Aku mohon, semoga hari ini lebih berjalan dengan cepat,” ujarku dalam hati begitu menginjakkan kaki di gerbang sebuah SMA swasta. Di papan namanya bertuliskan “SMA ANGKASA”

Aku memasuki koridor sekolah tersebut, mencari papan nama ruangan yang bertuliskan ruang kepala sekolah. Koridor sekolah ini tampak sepi, hanya terdengar suara guru mengajar dan beberapa siswa-siswi terlambat.

“Uuuh… pasti saya dikerjain satpam gendut itu.

Mana ruangan kepala sekolahnya tidak ketemu dari tadi.”

“BRUK…,” terdengar bunyi sesuatu jatuh, tidak jauh dari tempatku berdiri. Dengan bergegas aku menuju sumber suara. Tampak sosok cowok berkulit kecoklatan, tinggi, bertubuh atletis, berambut hitam ikal, duduk santai sambil mengikat tali sepatunya yang lepas, di antara buku-buku yang berserakan. Aku melangkah mendekatinya, mengumpulkan bukunya yang berserakan. Ia memandangku dengan tatapan bingung. Bola mata hitamnya memancarkan ketenangan, tetapi ada kejahilan dan rasa ingin tahu. Pancaran matanya itu berbinar bagaikan telaga yang teduh.

Aku mengulurkan buku-buku itu kepadanya, yang diraih oleh tangan panjangnya. Ia berdiri dan menyeimbangkan tubuhnya serta menggaruk kepala yang sepertinya tidak gatal. Dia tersenyum kepadaku, senyum tengil yang manis dan menggemaskan.

“Anak baru yaaa?” katanya membuka topik pembicaraan. Aku hanya membalasnya  dengan satu anggukan kepala. Dia menatapku bingung dengan mengangkat salah satu alisnya. Karena merasa tidak ada urusan lagi, aku berbalik hendak pergi, tetapi tangan panjangnya menghentikan langkahku. Tangannya mendarat hangat di pundakku, aku berbalik dan melihatnya.

“Cari ruang kepala sekolah ya?” tanyanya yang kubalas dengan sekali anggukan kepala. Dia menatapku gemas. “Tidak bisa ngomong atau suaramu habis, cewek suara mahal,” lanjutnya.

Aku menatap papan nama yang terlekat di seragam putihnya bertulis nama cowok ini “BISMA KARISMA.”

“Namaku Veela, jangan memanggilku dengan sok akrab seperti tadi, Tuan Bisma Karisma,” jawabku dengan suara sedikit tidak bersahabat.

Dia tampak bingung. Kami belum berkenalan, tetapi aku sudah menyebut nama panjangnya. Jari telunjukku menunjuk papan nama di balik jaket merahnya. Dia hanya memasang ekspresi mengerti.

“Bisa kau bantu aku menunjukkan ruangannya?” pintaku dengan nada suara yang seimbang.

“Ooooh, tentu dan terima kasih, ya,” jawabnya sambil mengulurkan tangannya.

Aku membalas jabat tangan itu, tetapi tetap memberi jarak.

“Bisa kamu tunjukkan ruangannya sekarang? Sepertinya kamu terlambat,” balasku lagi sambil menunjukkan jam tangan ungu di tanganku.

“Aduh, mampus! Aaah itu urusan nanti, biar kuantar kamu dulu.”

Aku hanya membalas dengan mengangkat bahuku.

Kami sampai di depan ruangan yang bertuliskan ruangan yang aku cari sejak tadi. Saat kutekan grendel pintu, tangan hangat itu menggenggam tanganku yang spontan aku tarik.

“Maaf aku tidak sengaja, hanya memastikan. Sepertinya kamu tidak familiar, aku hanya merasa pernah kenal dekat dengan kamu,” jelasnya.

“Aku orang baru di kota ini. Bisa aku masuk sekarang? dan sepertinya kamu sudah sangat terlambat.”

“Waduh…! Mampus tujuh tanjakan nggak turunturun nih. Saya balik ke kelas dulu yaaa,” ucapnya yang kemudian dia lenyap dari hadapanku sebelum aku mengucapkan terima kasih.

Sebulan sudah aku bersekolah di sini. Parahnya, aku sekelas dengan laki-laki tengil itu. Laki-laki yang menjadi kepala dari sebuah gerombolan cowok jahil dan iseng. Kerjanya hanya membuat aksi konyol yang kadang membuat garis senyuman di wajahku yang aku tutupi begitu dia sadar. Aksi yang membuat semua guru di sekolah itu siap-siap terkena hipertensi.

“Veela, tungguin,” terdengar suara memanggilku di belakang. Suara yang sangat akrab, dengan cepat kuayunkan kaki ini menjauhi suara itu, sehingga tangan itu lagi menghentikan langkahku.

“Kenapa sih kamu lari terus dari aku. Aku hanya mau bicara dengan kamu,” katanya yang keluar begitu saja saat dia berhasil menghentikan langkahku.

“Mau ngomong apa, bicara saja,” balasku dengan suara ketus.

“Tidak di sini!” katanya lagi. Dia melirik jam hitam di tangannya. “Ada waktu sebentar untuk makan siang sebelum rapat OSIS, bagaimana?” lanjutnya.

“Aku harus pulang dan kehadiranmu sangat dibutuhkan, Ketua OSIS yang terhormat,” balasku dan siap untuk pergi dari tempat itu secepatnya. Oh tetapi tangan itu menghentikan langkahku. “Ada apa lagi?” kini suaraku meninggi.

“Kenapa harus lari dari aku? Aku hanya mau ngomong soal kemarin. Kenapa kamu keluar demi aku kemarin?”

“Tidak usah ge-er kamu, aku hanya mau bertanggung jawab atas kesalahanku. Memang aku kan yang melempar kertas itu dan aku bukan lari dari kamu, aku hanya tidak suka pada kamu. Cukup, selamat siang,” jelasku panjang lebar. Kali ini tangan itu menghentikan langkahku lagi, terasa hampa dan kosong.

Baca Juga: Cintaku di Tangga Sekolah

   ***

Mimpi itu datang lagi, mengoyak hatiku yang pedih dan kosong. Mimpi tempat aku melihat pertengkaran terakhir mama dan papa sebelum kecelakaan itu. Papa memukul mama tanpa belas kasih, menarik rambutnya, dan menghantamkan tubuhnya yang lemah ke lantai marmer yang keras dan dingin. Perkelahian itu selesai saat darah segar mengucur di kening mama.

Papa membawanya ke rumah sakit, tetapi kecelakaan yang mereka alami dalam perjalanan malah merenggut nyawa mereka dan membawa pergi orang yang paling kusayang dan menerbangkan semua janjinya ke angkasa dan hilang untuk selamanya.

“Mama!” jeritku saat terbangun dari mimpi buruk itu. Mimpi yang menguras semua emosi dan hati. Mimpi yang membuat lubang di hatiku menganga besar, berdenyut perih, dan sakit. Mimpi yang mengoyak dan menghancurkan dinding hati yang tidak akan utuh lagi.

Selama jam pelajaran, tidak ada satu pun pelajaran yang menempel di otakku. Mimpi itu terus berputar dalam benakku. Hari ini pun tidak seperti hari-hari biasanya, aku tidak mendengar tingkah-tingkah konyol dan ocehan segerombalan cowok, terutama dia.

Satu hari ini dia hanya diam tidak bertingkah sesuatu yang selalu membuatku jengkel dan sedikit bahagia. Apa karena sikapku yang menjauh darinya? Aku hanya  manusia biasa. Walau terbayang kisah yang menyakitkan di dalam hidupku, aku pun pasti akan mengalami jatuh cinta. Itu adalah sesuatu yang aku hindari dari dia.

Selama aku berpikir dalam perjalanan pulang, tibatiba sebuah mobil merah telah berhenti di hadapanku. Pintu mobil itu pun perlahan terbuka dan sesuatu menarikku ke dalam. Seperti yang kutebak, ternyata dia. Mobil itu pun melaju dengan kecepatan tinggi sebelum aku sempat kabur.

Aku tidak memberi perlawanan, walaupun hal itu bisa dikatagorikan penculikan. Tenagaku telah habis. Dia telah membuat benteng pembatasku meleleh perlahan. Aku hanya bisa menikmati perjalanan yang sepertinya mengarah ke luar kota. Aku menatapnya garang sedangkan dia membalas dengan senyum separuh membuat wajahnya tampak licik. Sia-sia saja kabur, sudah terlambat.

Kami pun tiba di suatu tempat. Aku hanya melihat sekelilingku tampak alang-alang setinggi tubuhku. Tempat itu indah, tenang, dan sunyi. Terdapat lapangan basket tua yang sudah tidak terurus, di tengah-tengah lapangan penuh alang-alang kering ini. Dia pun menggandeng tanganku. Kami berjalan melewati jalan kecil di antara alang-alang kering ini. Kami berjalan tanpa suara, diam seribu bahasa.

Selama perjalanan yang membosankan ini, jarijemariku menari-nari di daun-daun kering yang kami lewati hingga sesuatu menancap di jari telunjukku. Darah pun mengalir keluar. Tubuhku mengejang, menatap kosong ke arah luka kecil bekas sayatan duri di jari telunjukku. Dia pun berhenti menatap wajahku yang telah pucat pasi. Bibirnya yang lembut dan hangat mengisap darah yang keluar dari tanganku. Dia mengeluarkan sapu tangan hitam dari saku celananya dan dirobeknya sapu tangan itu, dan dililitkannya di jariku. Tubuhnya yang kokoh menopang badanku yang hampir ambruk.

“Kamu takut dengan darah?” ujarnya sambil menatap mataku lekat-lekat.

“Aku membalasnya dengan anggukan ragu karena luka dalam hatiku telah berdenyut kuat dan mengeluarkan memori menyakitkan itu di mata kecilku melihat darah yang mengalir di kening mama saat malam pertengkaran itu. Di saat tangan kecilku merangkul mayat mama yang bersimbah darah, semua begitu jelas dalam benakku. Memori itu berputar dalam pikiranku membuat perutku mual. Bisma memelukku erat dan masih menatapku bingung, hingga kata-kata itu keluar dari mulutku memecahkan keheningan di antara kami.

“Kenapa?” tanyaku dengan suara kaku dan gigi yang gemetaran.

“Maksudmu?” balasnya balik bertanya padaku.

“Membawaku ke tempat asing ini.”

“Nanti juga kamu akan tahu,” jawabnya dengan penuh percaya diri.

“A.. aku perlu jawabannya sekarang,” kataku tandas.

“Sudah kutebak mata kecoklatan ini penuh rahasia,” balasnya mengalihkan pembicaraan.

“Jangan membuat semuanya rumit!”

“Kamu yang membuat semuanya rumit Veela Anggriana Hanggono. Hemmm… Hanggono nama keluarga kaya raya yang meninggal akibat kecelakaan naas dan kamu menyandang nama itu. Artinya, kamu anak dari Wisnu Hanggono!” Perkataannya membuat tubuhku mengejang, “Siapa sebenarnya dia?”

“Tahu apa kamu tentang aku? Jangan pernah ikut campur masalah keluargaku. Tolong bawa aku pulang!” balasku dengan nada suara yang mulai meninggi.

“Menurut kamu, buat apa aku membawamu ke sini?” balasnya dengan menatapku licik.

Aku pun memandang sekelilingku dengan saksama. Mataku terpaku dengan rumah megah berwarna putih dan tidak terurus, yang tak jauh dari tempat kami. Ada sesuatu yang bergejolak di hatiku. Rasa kangen dan rindu. Aku berdiri dan berlari, tidak menggubris sosok tadi yang memelukku erat. Aku berlari mendekati rumah itu walau luka itu telah menyerang dinding hatiku. Tanganku menahan dada ini, tidak membiarkan sedikit pun kepingan hati ini jatuh, hingga tubuh ini tak sanggup lagi berlari. Aku jatuh terkulai di halaman rumah megah itu. Tubuhku terasa lemas. Aku meringkuk kesakitan. Perlahan Bisma menarik tubuhku ke dalam pelukannya yang erat. Napasnya terasa menghembus hangat di ubunubunku. Pelukannya terasa berbeda. Ada aroma ketulusan dan cinta yang mengalir.

Air mataku pun tidak terbendung lagi. Air mataku membanjiri baju seragamnya. Hujan yang perlahan turun pun tidak bisa menghentikan tangisku. Tubuhku meringkuk ketakutan dalam pelukannya, gemetar. Semuanya membuatku frustasi. Semuanya terlihat nyata, begitu kakiku menginjak taman belakang rumah ini, rumah lamaku, rumah yang menyimpan semua kenangan pahit. Semua kenangan ini menjelma bak slide usang dari sebuah foto. Tanganku perlahan membentang, ingin menggapai gadis kecil yang melepas kepergian mobil hitam, pergi selamanya dan tidak akan kembali, membawa pergi mamanya dan kembali dengan keadaan tak bernyawa.

“M…a…am…a, ja…ja…ngan per…pe..pergi. kem… kembali Ma-ma, kembali!” pekikku di derasnya hujan. “Cepat, Bisma! Cepat, cegat mobil itu! Cegat mobil itu!” teriakku lebih keras.

Tubuh ini pun terasa mati rasa. Semua kenangan pahit itu terlalu nyata berputar-putar. Pandanganku perlahan hitam. Aku tidak bisa merasakan sekitarku, semua pun hilang.

***

Semua gelap. Aku tersesat dalam kegelapan itu. Aku berusaha mencari arah dalam gelap yang pekat ini. Tiba-tiba aku merasakan hembusan hangat membelai rambutku dan berbisik, “Kembali Veela, kembali. Aku mencintaimu.” Suara itu pun hilang. Aku berteriak di tengah kegelapan mencari asal suara hingga aku terjatuh pada lubang yang terang dan tidak asing. Semua kenangan ada di dalam lubang itu. Semuanya,  tidak satu pun terlewatkan, hingga terdengar seseorang memanggilku.

“Veela…hai malaikat kecil Mama. Apa kabar, Sayang?” Sosok mama yang anggun dan mata cokelatnya memancarkan kerinduan. Dia memeluk tubuhku. Aku pun memeluk pelukan hangat yang kurindukan.

“Mama, Veela sayang Mama, Veela kangen sama Mama!” balasku.

“Mama pun begitu, sayang. Mama kangen sama kamu. Sudah lama, ya, Sayang kita tidak bertemu,” balas mama menebarkan senyum hangat yang aku rindukan.

“Mam, Veela ingin bersama Mama!”

Mama pun melepas pelukan itu. Tangannya yang terasa lembut membelai sayang pipiku.

“Dengar mama, Sayang. Mama kembali untuk menepati janji Mama. Tidak ada janji yang tidak tertepati. Tidak ada penantian yang tidak berujung, Sayang. Mama sudah menepati semua. Mama sudah menjaga dan terus bersamamu. Memang, Mama tidak selalu di sampingmu. Tuhan memang sudah berhendak seperti ini. Tapi, satu yang perlu kamu tahu, cinta dan kasih Mama selalu mengiringmu selamanya hingga takdir memisahkan kita. Mama akan selalu di sampingmu sayang, selamanya,” kata Mama yang tiba-tiba saja mendorong tubuhku.

“Kembalilah, Sayang, Mama mencintaimu!” suara mama dan bayangan mama pun menghilang. Ada rasa lega yang mengalir di hatiku. Benar kata mama. Di sana, orang-orang yang menyayangiku sudah menunggu dan mama telah memberiku semua janji manisnya. “Aku pun menyayangimu, Mama.”

***

Aku pun tersadar dari komaku. Semuanya telah menunggu kehadiranku. Tante Kania, yang tidak aku sadari, wajahnya sangat mirip mama. Om Suryo, sosok bapak yang aku idamkan, Bibi Asih yang telah merawatku dari kecil, dan terakhir dia yang telah memberi warna pada hidup kelabuku, memberi warna dengan cintanya yang tulus. Apa yang dikatakan mama semuanya benar. Aku harus melanjutkan hidupku. Tante Kania memeluk dan mengecup keningku diikuti yang lainnya, dan terakhir dia. “Terima kasih, Bisma, kamu telah menyadarkan aku.”

Di dalam ruangan itu pun tampak bahagia. Aku menyayangi mereka semua. Bisma pun mengecup pipiku. Tanganku yang masih terasa lemas pun memeluknya dengan erat.

Ini  janjiku. Jika aku tersadar dari komaku, aku akan mengunjungi makam mama yang tidak pernah aku datangi semenjak kepergiannya.

“Veela datang, Mama. Veela minta maaf baru mengunjungi makam Mama sekarang. Selama ini Veela menghabiskan waktu dengan meratapi kepergiaan Mama. Terima kasih, Mama atas semua cinta yang Mama berikan. Maaf kalau Veela hanya mampu membalasnya dengan doa dan cinta. Selamat tinggal, Mama, tidurlah yang nyenyak. Veela menyayangi Mama.”

Setelah aku mencium nisan bertuliskan Hannum Anggriana, aku pun beranjak dan mendekati sosok cowok di belakangku, dengan manja kurangkul lengannya

“Siap!” katanya.

Aku membalasnya dengan, “Siap untuk semuanya.” Aku pun tersenyum padanya. Dia mengecup keningku mesra.

Mentari sore itu masih memancarkan kehangatannya. Awan bergerak perlahan menutupi sebagian sinarnya, hangat dan lembut lembayung sore itu. Pesona alam yang indah itu seakan memberi semangat baru untuk diriku. Aku harus terus hidup dengan kenyataan yang lebih berarti. Hidup dengan semangat dan tantangan baru. Akan kujalani dan kutantang hidupku di masa depan.

Dinda Yuni Sari merupakan Siswi SMA Negeri 2 Merauke. Beralamat di Kabupaten Merauke.

Penyunting
Supriyanto Widodo, S.S., M.Hum.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Balai Bahasa Papua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!