Scroll untuk baca artikel
       
Inspirasi

Jejak Tiga Generasi: Merajut Kenangan di Pulau Kabaena

125
×

Jejak Tiga Generasi: Merajut Kenangan di Pulau Kabaena

Sebarkan artikel ini

Oleh: Usman Muis

Pada tahun 1976, saya menaiki perahu milik Lakandau dari Kota Bau-Bau menuju Dongkala, Pulau Kabaena. Perahu itu sejenis koli-koli, dengan penyeimbang di kiri dan kanannya yang disebut jarangka, berukuran panjang sekitar 4 meter dan lebar 95 sentimeter. Sebagai tenaga penggeraknya, digunakan layar pangaowa yang bergantung pada tiupan angin.

Ketika malam tiba, sekitar pukul 20.00 WITA, saya bersama Lina dan Almarhum Mansyuru (kakak dari Baharu, anggota Brimob yang kini menetap di Parepare, Sulawesi Selatan) merasakan ganasnya ombak. Pemilik perahu, Lakandau, juga tak luput dari kepanikan saat gelombang besar menghantam dan memasukkan air laut ke dalam perahu. Kami semua basah kuyup, berjuang menimba air dengan ember agar perahu tidak tenggelam.

Bibir perahu hanya berjarak sekitar 40 sentimeter dari permukaan laut, membuat kami semakin waspada. Akhirnya, kami memutuskan menepi di pantai yang tak berpenghuni untuk sekadar makan meskipun hanya dengan ubi kayu rebus. Melihat cuaca yang semakin ekstrem, kami berlayar dengan sangat hati-hati hingga akhirnya tiba di Dongkala setelah perjalanan melelahkan selama tiga hari dua malam.

Lakandau adalah warga Buton yang berprofesi sebagai pedagang gula merah. Ia rutin berlayar ke Pulau Kabaena untuk membeli gula merah di Pasar Dongkala atau Toli-Toli, lalu menjualnya di Pasar Boba, Bau-Bau. Perjalanan ini ia lakukan seminggu sekali.

Ilustrasi

Pada tahun 1970-an, Pasar Dongkala dan Pasar Toli-Toli di Desa Balo dibuka secara bergilir setiap minggu (Mehoti). Pekan pertama di Dongkala, pekan berikutnya di Toli-Toli. Namun, memasuki tahun 1980-an, pasar mingguan di wilayah Kabaena Timur akhirnya dipusatkan di Toli-Toli. Salah satu pertimbangannya karena pasar Dongkala terlalu jauh bagi warga Tangkeno, Enano, Lengora dan Lamonggi untuk berjalan kaki melewati  jalur Manuru/Ulungkura, Wumbuburo, Balo hingga Dongkala yang mencapai puluhan kilometer.

Alternatif yang kerap digunakan warga saat itu ialah dengan melintas di Desa  Ulungkura/Watumponu melalui wilayah  Wumbuburo (jalur pegunungan tanpa melewati Kampung Balo) menuju Dongkala. Jalur darat Wumbuburo pernah saya lalui dengan berjalan kaki bersama warga Tangkeno, Enano dan Lengora pada tahun 1970. Memang dekat tapi jalurnya lumayan ekstrim menurut ukuran dimasa itu.

Sementara itu, warga Kampung Tedubara dan Eemokolo lebih memilih berbelanja di Pasar Nusatari, yang kini masuk dalam wilayah Pising, Kecamatan Kabaena Utara.

Itulah kenangan yang tak terlupakan dari perjalanan kami, yang dialami oleh tiga generasi. Pahit getirnya masa itu menjadi renungan bagi kita yang pernah menjalaninya.

Perayaan 17 Agustusan di Teomokole

Di tahun yang sama, 1976, saya bersama teman-teman murid SD kelas 5 dan 6 dari wilayah Timur ikut serta dalam perayaan tahunan 17 Agustusan. Saat itu, acara digelar di Teomokole, ibu kota Kecamatan Kabaena.

Murid-murid dari Balo, Manuru/ Ulungkura serta Enano, Lengora, dan Lamonggi diwajibkan ikut memeriahkan acara. Kami berjalan kaki membawa bekal berupa kinokori (jagung parut yang dikemas dalam klobot dan dimasak hingga matang) . Makanan ini disimpan dalam wadah anyaman daun agel yang disebut balase.

Tak hanya itu, saya dan beberapa murid lainnya juga membawa alat musik bambu pompupu basi. Kami memikulnya sepanjang perjalanan yang melewati beberapa kampung, termasuk Desa Tangkeno. Perjalanan Saya dimulai dari Enano sekitar pukul 06.00 Wita, dan setelah menempuh rute panjang, kami tiba di Teomokole pada pukul 17.30 Wita.

Bersambung…

Profil Singkat:

Nama: Usman Muis, S.H., M.H.
Asal: Pulau Kabaena

Pendidikan:

S2 Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (2011)

Pendidikan Khusus Profesi Advokat, Fakultas Hukum Universitas Indonesia bekerja sama dengan PERADI (2012)

Riwayat Karier:

Peradilan Militer Jakarta (sebelumnya berdinas di lingkungan peradilan militer)

Biro Hukum Setda Provinsi Sulawesi Tenggara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!