Rumbia, infobombana.id – Suasana di kampus Politeknik Bombana (Polina) kembali memanas. Puluhan dosen di lembaga pendidikan tinggi ini menggelar aksi protes atas gaji mereka. Aksi digelar di halaman kampus, Rabu (21/3/2025).
Jika sebelumnya mahasiswa lantang bersuara menuntut transparansi dana beasiswa hibah dari Pemkab Bombana, kini giliran para dosen yang angkat bicara.
Permasalahan semakin meruncing setelah terungkap bahwa pihak yayasan kampus diduga tak lagi mampu membayar gaji staf dan tenaga pengajar. Surat resmi yang diteken Wakil Direktur III Polina, Andi Juni Astika, mengungkapkan fakta pahit ini.
Surat bernomor 002/PB01.3/ HM.02.01/2025, yang diterbitkan pada 20 Maret 2025, secara tegas menyoroti tunggakan gaji, tunjangan, serta hak finansial lainnya yang belum diselesaikan oleh yayasan.
Sebagai bentuk protes, 33 anggota civitas akademika menandatangani surat tersebut dan mengajukan tuntutan langsung kepada pengurus serta pengawas yayasan Polina. Tidak hanya itu, pada Jumat (21/3), sejumlah dosen dan staf kampus turun ke jalan, menggelar aksi unjuk rasa di dalam lingkungan kampus. Dinding-dinding bangunan dicoret dengan tulisan bernada protes, menandakan kekecewaan yang memuncak.
“Kami sudah mencoba berdialog, tapi hasilnya nihil. Pihak yayasan selalu berdalih bahwa dana dari pemerintah daerah belum cair. Tapi harusnya, sebagai pengelola kampus, mereka punya tanggung jawab penuh terhadap gaji dosen dan staf,” ujar salah satu dosen yang enggan disebutkan namanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa akibat krisis finansial ini, beberapa rekannya terpaksa berutang atau menjual aset pribadi demi menyambung hidup. “Kami bekerja dengan profesional, tapi hak kami selalu tertunda. Kalau begini terus, banyak dari kami yang mungkin memilih hengkang,” tambahnya.
Selain keterlambatan gaji, para dosen turut menyoroti dugaan penyimpangan keuangan di tubuh yayasan. Transparansi pengelolaan anggaran dipertanyakan, sementara permintaan kejelasan hanya berujung pada jawaban klise: “anggaran sudah habis.”
Kisruh ini semakin menambah daftar panjang polemik di kampus Polina. Sebelumnya, pada Januari 2025, mahasiswa kampus ini sempat menggeruduk DPRD Bombana, mempertanyakan transparansi dana hibah Pemkab Bombana yang diperuntukkan bagi beasiswa. Isu pemotongan dana beasiswa pun sempat mencuat, menimbulkan kecurigaan adanya “corting anggaran” sebelum dana benar-benar sampai ke tangan mahasiswa.