EkobisBeritaSosial

Klarifikasi PT Almhariq: Longsor di Kabaena Dipicu Hujan Tinggi, Bukan Aktivitas Tambang

2
×

Klarifikasi PT Almhariq: Longsor di Kabaena Dipicu Hujan Tinggi, Bukan Aktivitas Tambang

Sebarkan artikel ini
Ketgam: Pipa Air Bersih Yg Diduga Disabotase Untuk Menyudutkan PT. Almhariq. Foto: Hasil Screensot Vidio Yang Beredar Dimedia Sosial.

Kabaena, Infobombana.id – Pihak PT Almhariq memberikan klarifikasi terkait peristiwa longsor yang terjadi di wilayah Olondoro, Desa Rahadopi, Kecamatan Kabaena, Kabupaten Bombana. Perusahaan menegaskan bahwa kejadian tersebut dipicu oleh tingginya curah hujan, bukan akibat aktivitas pertambangan.

Kepala Teknik Tambang (KTT) PT Almhariq, Yazid, mengatakan intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan kondisi tanah menjadi labil dan mudah bergerak, terutama di area dengan kemiringan atau tebing.

“Tingginya curah hujan membuat air meresap ke dalam tanah, sehingga mengurangi daya ikat tanah. Kondisi ini memperbesar potensi longsor, apalagi di daerah lereng karena air menambah beban tanah,” ujar Yazid, Sabtu (114/2026).

Ia menjelaskan, kejadian serupa juga pernah terjadi pada Juni 2025, saat perusahaan tidak sedang beroperasi. Longsor tersebut, kata dia, terjadi di lokasi yang sama, yakni di sisi badan jalan, bukan di area pit tambang.

“Artinya, kejadian ini memiliki pola yang sama, yakni dipicu faktor alam, bukan aktivitas tambang,” kata dia.

Yazid juga menepis anggapan bahwa longsor tersebut berdampak pada sumber mata air masyarakat. Ia menyebutkan jarak antara lokasi longsor dan sumber mata air sekitar 500 meter.

“Bukan mata air yang tertimbun material longsor. Yang terdampak adalah pipa salah satu penyedia jasa air bersih yang dikelola oleh yayasan,” ucapnya.

Menurut Yazid, perusahaan telah melakukan langkah cepat dengan menurunkan tim dan alat berat ke lokasi untuk melakukan penanganan. Koordinasi juga dilakukan dengan pemerintah Desa Rahadopi guna memastikan proses penanganan berjalan lancar.

Namun, ia mengungkapkan adanya kendala saat penanganan longsor ketiga. Berdasarkan dokumentasi yang beredar, posisi pipa disebut berada di atas permukaan tanah, berbeda dengan kondisi sebelumnya yang berada di bawah tanah.

“Kami menduga ada pihak-pihak tertentu yang mencoba menyudutkan perusahaan dengan memanfaatkan situasi ini,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa alat berat milik perusahaan sempat dihentikan oleh sejumlah oknum tanpa alasan yang jelas, meskipun di waktu yang sama terdapat alat berat lain yang diduga milik perusahaan berbeda yang dapat beroperasi di lokasi.

“Kami tetap menyiagakan alat untuk memastikan penanganan bisa dilanjutkan kapan saja,” kata Yazid.

Lebih lanjut, Yazid merujuk pada hasil peninjauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bombana pada 27 Maret 2026. Dalam berita acara tersebut, disebutkan bahwa kondisi mata air Lare’ete masih jernih dan tidak ditemukan endapan lumpur akibat longsor.

Hal serupa juga dilaporkan pada sumber air yang dikelola yayasan dan digunakan oleh warga di sejumlah wilayah, seperti Teomokole, Rahampuu, Sikeli, Baliara, Baliara Selatan, dan Desa Langkema.

“Semua sumber air tersebut masih dalam kondisi jernih dan tidak terdampak longsor,” tutur Yazid.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!