Scroll untuk baca artikel
       
PendidikanInspirasiSastra

Pengemis Kecil Itu

166
×

Pengemis Kecil Itu

Sebarkan artikel ini

Karya:  Aprilia Dwi Iriani

Cerita Pendek Uugh! Udara siang ini panas sekali. Mana rumah masih jauh pula,” gerutuku. Memang, matahari kali ini tak seteduh biasanya. Aku berjalan sambil menahan rasa lapar. Aku berharap ibu telah selesai memasak. Jadi, ketika sampai di rumah, aku langsung bisa makan. Kutendang kerikil-kerikil di tengah jalan yang lengang ini. Seketika pikiranku kembali pada kejadian di sekolah tadi.

“Selamat siang, anak-anak. Pada perpisahan siswa kelas tiga tahun ini, sekolah kita mengadakan liburan bersama ke Bali.”

“Horeee! Kita liburan ke Bali!” seru temantemanku.

“Tapi, setiap siswa wajib berpartisipasi dalam urusan anggaran dananya. Ibu akan membagikan surat permohonan izin pada orang tua kalian. Dalam surat itu juga sudah terdapat rincian biaya perjalanan…”

“Ooh, no! Biaya sendiri?” Pupuslah harapan liburanku. Ayah dan ibu pasti tak akan menandatangani surat permohonan izin ini.

“Hei, Randy. Kamu ikut, kan?” tanya Tio.

“Hhhmm, belum tau. Nanti kutanyakan dulu pada ayah dan ibu.”

“Hahaha, kayaknya kamu nggak bakal diizinkan, deh, Ran. Paling orang tuamu nggak bisa bayar. Kalau aku sudah pasti ikut. Masalah biaya, mah, gampang. Aku kan anak orang kaya. Hahaha….” Begitulah sombongnya Dimas padaku. Aku kesal. Aku harus ikut ke Bali agar Dimas tak meremehkanku lagi.

Setelah kurang lebih 20 menit, aku sampai juga di rumahku yang meskipun kecil, tetapi lumayan nyaman untuk ditinggali.

“Assalamualaikum, Bu!” salamku pada ibu. Kulempar sepatuku ke atas rak sepatu silver di samping dapur.

“Waalaikumsalam. Pulang sekolah, kok marahmarah, Ran?”

“Bu, di perpisahan kelas tiga tahun ini sekolah ngadain liburan ke Bali. Ini surat permohonan izinnya dari sekolah. Aku ikut, ya? Semua temanku pada ikut, Bu. Aku bakalan malu kalau nggak ikut. Pokoknya, aku harus ikut!” paksaku pada ibu sambil membantingkan diri ke sofa ruang tamu.

“Biaya sendiri, Ran? Sebanyak ini? Kayaknya ayah dan ibu nggak bisa, deh.”

“Ayolah, Bu. Semua teman Randy pasti ikut, masak Randy nggak boleh?” jawabnya ketus.

“Bukannya nggak boleh, sayang. Kamu kan tahu sendiri, uang ayah dan ibu tidak banyak. Kamu akan masuk SMA dan Mbak Vita kan kuliah. Tahun ini kita butuh biaya yang nggak sedikit untuk sekolah kalian. Jadi, kita harus memilih hal-hal yang prioritas. Kalau hanya sekadar liburan, kamu kan bisa jalan-jalan dan main sama teman-teman kompleks atau sama Mbak

Vita.”

“Aahhh, Ibu, tapi aku malu diejek teman-teman kalau nggak ikut. Ibu mau kalau kita dibilang miskin hanya karena nggak punya uang untuk liburan?”

“Assalamualaikum!” sapa Mbak Vita. Umur panjang, tu, mbak Vita. Baru disebut namanya, eh udah muncul.

“Waalaikumsalam,” jawabku dan ibu. Ah, aku sudah malas bicara. Segera aku beranjak dari sofa dan menuju ke kamarku.

“Kenapa, Bu, si Randy? Ngambek ya?” tanya mbak Vita.

“Ran, nanti Ibu coba bicarakan dengan Ayah dulu. Kamu ganti baju lalu langsung makan, ya?” teriak ibu dari ruang tamu.

“Terlambat, Bu. Nafsu makanku telah lenyap seiring pernyataan tiada biaya untuk liburanku tadi.” Gubrakk! Kubanting pintu keras-keras untuk melampiaskan kekesalanku.

“Kenapa, Yah? Padahal, kan tidak membutuhkan banyak biaya. Aku pengen sekali ikut. Aku kan belum pernah ke Bali, Yah. Kalau aku nggak ikut, apa kata teman-teman nanti?”

“Apa kamu bilang? Tidak membutuhkan banyak biaya? Kamu kira liburan ke Bali kayak mancing di sungai kampung sebelah? Biarkan saja teman-temanmu itu mengolok-olokmu. Memangnya, mereka yang membiayai hidupmu? Kamu kan tahu, Nak. Ayah hanya seorang guru. Penghasilan ayah nggak seberapa, sedangkan ibumu tidak bekerja. Gaji ayah harus cukup untuk menghidupi kalian dalam sebulan.”

“Tapi, Yah….”

“Sudahlah, pokoknya kamu nggak bisa liburan ke

Bali. Titik. Kalau kamu masih melawan, pilih, liburan ke

Bali atau melanjutkan sekolahmu ke SMA?”

Ayah beranjak ke ruang tengah menyisakan bisu di mulutku. Diputarnya TV dengan volume keras. Aku berpikir sejenak, mana mungkin hanya karena liburan ke Bali lalu aku tidak melanjutkan sekolah? Tapi, aku malu pada teman-teman. Mereka pasti mengatai aku miskin. Aarrghh! Aku pusing!

Kupikir lebih baik aku bermain saja di luar rumah.

Kutinggalkan tugas menyapu dari ibu. Kan ada mbak Vita, biar dia saja yang mengerjakannya. Kucari sandal hitam bututku yang berserakan di antara sandal-sandal penghuni rumah lainnya. Entah mengapa mereka enggan menata sandal-sandal mereka di rak sepatu, sehingga teras rumahku yang kecil ini menjadi lautan sandal. Awalnya, aku ingin mengubah kebiasaan itu. Namun, tidak ada kesadaran dari mereka. Ya sudah, aku juga masa bodoh. Ikut kuletakkan pula sandalku di teras.

Setelah sandalku ketemu, segera kutelusuri setiap ruas jalanan kampungku. “Kok sepi, ya? Ke mana anakanak yang biasa meramaikan kampung di pinggiran kota ini? Mungkin mereka lagi istirahat.” Niatku untuk bermain terhapus oleh sepinya jalan. Aku pun terus melanjutkan perjalanan sambil masih memikirkan cara agar aku tetap bisa liburan ke Bali.

“Kenapa, ya, orang tuaku miskin? Minta ini nggak dipenuhi, minta itu nggak bisa juga. Coba kayak temantemanku, orang tua mereka ada yang dokter, pegawai bank hingga pejabat negara. Uang mereka banyak. Kenapa ayahku cuma guru yang gajinya sangat kecil? Ke mana hormat negara ini pada guru-gurunya?” Beragam tanya menghinggapi otakku.

Tak terasa sudah hampir 1.800 detik aku berjalan tanpa arah. Di mana ini? Kutengokkan kepala ke kanan dan kiri, mencari-cari nama daerah tempatku berdiri sekarang. “Oooh, ternyata Desa Sukasari, tidak begitu jauh dari kampungku.” Namun, letak desa ini lebih ke tengah kota dibanding kampungku. Suasananya lebih ramai.

Tiba-tiba, “Kak, kasihani saya, Kak. Sudah dua hari belum makan.” Sebuah suara lirih mengagetkanku. Kutundukkan kepala. Terlihat seorang bocah yang kirakira berumur delapan tahun, berpakaian tambalan serta lusuh menengadahkan tangan padaku. Aku menelan ludah, terdiam sesaat mengamatinya. “Gila! Anak sekecil ini diajari ngemis? Dia pun belum makan dua hari!” Kurogoh saku celana, hanya menemukan tiga ratus rupiah.

“Aku hanya punya segini,” kataku, lalu menaruhnya di telapak tangan bocah malang itu.

“Nggak apa-apa, Kak. Ini pun sudah cukup.

Makasih, ya, Kak.”

“Makanan apa yang harganya tiga ratus?” tanyaku heran sambil membayangkan betapa kecilnya porsi makanan itu.

“Satu bungkus roti nanas di warung itu, Kak. Sekali lagi makasih, ya, Kak.” jawabnya sambil berlalu menuju warung di seberang jalan.

Aku tersadar dari diamku. Aku segera mengikuti anak itu. Ternyata, ia sedang menikmati roti nanas di bawah pohon ketapang di samping warung. Di sebelahnya tergelar koran yang di atasnya terdapat sebuah kaleng berisi sekitar empat atau lima uang logam. Aku duduk di sampingnya.

“Eh, Kakak. Makasih, ya, rotinya. Sekarang perutku nggak melilit lagi.” katanya sambil melahap potongan terakhir roti nanas dengan rakusnya. Memang, gaya makannya bagaikan tidak menyentuh makanan seminggu.

“Namamu siapa? Kamu kenapa bisa nggak makan dua hari?” tanyaku.

“Namaku Iwan. Ibu udah nggak punya uang lagi. Semua persediaan makanan juga sudah habis. Jadi, ibu menyuruh kami berusaha sendiri mencari makan di jalan. Ibu pun mencari makan sendiri.” jawabnya polos.

“Ibu macam apa itu? Menyerah  begitu saja. Bagaimana bisa dia menelantarkan anaknya di jalan tanpa tanggung jawab.” aku bergumam dalam hati. Terlihat bocah itu melamun.

“Kamu kenapa?” tanyaku membuyarkan lamunannya.

“Aku lagi mikir, ibu dan saudara-saudaraku udah dapat makan belum, ya?” jawabnya dengan raut muka

lelah. “Sepertinya, ia telah berhari-hari tidak istirahat.”

“Saudaramu berapa? Ke mana ayahmu? Kok ayah dan ibumu tidak bekerja untuk dapat uang?” cecarku karena rasa iba yang dibalut penasaran.

“Saudaraku ada empat. Ayah sudah meninggal. Hiiks…sudah meninggal dua minggu lalu, dikeroyok preman terminal pas lagi jualan hiikks…” jawabnya dengan gaya cerita khas anak kecil disertai isak tangis yang terdengar pelan. Hatiku tertusuk mendengar cerita bocah ini. Aku kasihan padanya. Terbersit keinginan melihat kehidupan keluarganya.

“Kamu tinggal di mana? Aku boleh main ke rumahmu?”

“Di sana,” jarinya menunjuk ke arah utara.

“Kakak mau main apa di rumahku? Tidak ada mainan apa-apa, rumahku nggak enak. Kakak nggak usah ikut aku pulang.”

Namun, aku tetap bersikeras ikut pulang bersamanya. Akhirnya, aku diperbolehkan.

Aku tahu sekarang mengapa tadi Iwan melarangku ke rumahnya. Ternyata, rumahnya hanya sepetak ruangan yang terbuat dari susunan kardus-kardus bekas dengan dedaunan kering yang ditumpuk-tumpuk sebagai atapnya. Rumah tetangganya pun sama, terbuat dari kardus. Wilayahnya lumayan kotor. Padahal, di tengah kota. Di samping wilayah ini berdiri sebuah gedung megah bertingkat-tingkat yang entah berlantai berapa.

Terlihat dua anak kecil terbaring lemah di dalam rumah kardus milik Iwan. Mereka itu adik-adik Iwan. Tidak seberuntung Iwan, hari ini mereka belum mendapat makanan apa pun.

Beberapa saat kemudian, seorang anak yang kirakira berumur dua tahun di bawahku memasuki rumah kardus ini.

“Adik-adik, ini Kakak bawa sebungkus nasi. Ayo kita makan sama-sama.” Ternyata, ia kakaknya Iwan.

“Horeee! Akhirnya, kita makan!” sorak kedua adik Iwan dan seketika terlintas senyum di wajah mereka.

“Iwan, kamu kok nggak makan?” tanya kakaknya dengan mulut penuh makanan.

“Jatah Iwan buat yang lainnya aja. Tadi Iwan sudah makan roti di jalan. Kakak itu yang kasih.” jawabnya sambil menunjuk ke arahku.

Lalu aku pun berkenalan dengan saudara-saudara Iwan. Kakak Iwan bernama Didi, sedangkan kedua adiknya bernama Amad dan Bobi. Setelah itu, aku diam saja, tidak ingin mengganggu kenikmatan acara makan mereka.

Beberapa menit kemudian, mereka selesai makan. “Tapi, kok nasinya disisain ya? Lalu sisanya dibungkus lagi.”

“Kok, makanannya nggak dihabisin?” tanyaku.

“Ini untuk ibu, Kak. Ibu pasti belum dapat makan hari ini.” jawab Didi sambil mengikat bungkusan nasi itu dengan karet.

“Wow! Dalam keadaan kelaparan sekalipun mereka masih sanggup berbagi. Apa kenyang, ya, nasi segitu untuk makan rame-rame? Kalau di rumah, malah aku sering nambah.” Aku mulai  ngobrol dengan Iwan dan Didi, sedangkan Amad dan Bobi tidur untuk menutupi setengah rasa lapar yang masih tersisa.

“Dulu kami sekeluarga ngontrak rumah di gang itu.” Cerita Didi mengawali obrolan kami. Iwan hanya duduk dengan tatapan kosong di samping kakaknya.

“Waktu itu, ayah dan ibu masih jualan di terminal. Kami berempat pun masih sempat bersekolah.” Sekolah, ya sekolah. Hal itu lupa kutanyakan pada mereka.

“Tapi, suatu hari, ada seorang preman yang sering ngutang rokok pada ayah, saat ayah menagih utangnya, sang preman nggak terima. Dia manggil teman-temannya dan ngeroyok ayah. Akhirnya, ayah meninggal.” Diam merayapi kami.

“Ibu pun tak berjualan lagi di terminal. Karena tidak lagi punya uang, kami pun diusir dari rumah kontrakan. Kami bingung mau tinggal di mana. Akhirnya, atas ajakan teman ibu, kami tinggal di kompleks ini. Walaupun sangat tidak layak, yang penting masih bisa berteduh.”

“Deg! Oh, tidak!” Mereka rela tinggal di kompleks kumuh seperti ini? Lalu bagaimana dengan kebutuhan lainnya? Bagaimana dengan masa depan mereka? Bagaimana dengan sekolah mereka? Aku kasihan sekali pada mereka. Kok tidak ada yang membantu orang-orang seperti mereka, ya? Ke mana orang-orang kaya itu?

Aku membayangkan bagaimana kalau aku menjadi mereka, pasti aku lebih memilih mati. Makan susah, hidup susah, menangis pun tanpa air mata karena air mata itu sudah kering untuk menangisi kesusahankesusahan di hari kemarin.

“Sebenarnya, kami masih ingin melanjutkan sekolah, tapi apa daya untuk makan saja harus mengemis. Cari-cari pekerjaan lain, susah sekali. Mau tidak mau kami harus ngemis.” lanjut Didi.

“Sungguh sangat tidak bersyukur diriku jika masih menggerutu akan kehidupanku. Aku banyak menuntut pada orang tuaku. Sedangkan aku, apa yang aku berikan untuk mereka? Aku menyesali semua keluhanku di masa lalu. Padahal, masih banyak orang yang jauh di bawahku.

Ke mana aku selama ini?”

“Kak Randy, ini bagaimana?” tanya Iwan.

“Oh, ini begini…” jawabku dengan sabar walaupun soal ini telah berkali-kali kujelaskan, namun Iwan masih saja tidak bisa mengerjakannya.

Ya, di liburan panjang ini, aku mengajak Iwan serta saudara-saudara dan teman-temannya untuk bermain di rumahku. Kami bermain di halaman rumahku yang tidak begitu besar, tetapi lumayan asri. Kami main petak umpet, kejar-kejaran, berkebun, bahkan aku dan Mbak Vita juga mengajari mereka pelajaran-pelajaran dasar, seperti berhitung, menulis, membaca, dan lain-lain. Ternyata di antara mereka masih banyak yang belum bisa membaca.

Aku sudah melupakan liburanku ke Bali. Biarlah aku dikatai yang macam-macam oleh teman-temanku. Toh, memang ayah dan ibu lagi tidak punya uang untuk membiayainya. Aku tidak bisa memaksakan kehendakku, aku harus mengerti mereka. Mungkin, di lain waktu kalau mereka sudah punya uang, baru aku bisa jalan-jalan ke luar kota. Yang penting, liburanku kali ini berbeda dari liburan-liburan sebelumnya, lebih indah karena aku bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

Penyunting :

Supriyanto Widodo, S.S., M.Hum.

Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Balai Bahasa Papua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!