Scroll untuk baca artikel
       
InspirasiPendidikanSastra

Pepatah Guru dari Lombok: “Tidak Ada Anak yang Bodoh”

27
×

Pepatah Guru dari Lombok: “Tidak Ada Anak yang Bodoh”

Sebarkan artikel ini

Oleh: Tony Liong

Menjadi guru adalah kesempatan sekaligus tantangan untuk mendukung perkembangan siswa. Itulah yang dirasakan Ibu Marda (32), seorang guru di sebuah SD di Pulau Lombok. Kepada awak media, ia berbagi pengalaman mengajar dan pandangannya tentang peran penting seorang guru.

Cerita dimulai ketika waktu menunjukan pukul 10 pagi. Bel berbunyi di sebuah Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Anak-anak kelas 2 yang sebelumnya bermain di koridor dan halaman sekolah segera bergegas masuk ke kelas, duduk rapi, dan membuka buku pelajaran.

Di sekolah ini, ruang kelas digunakan secara bergantian. Pagi hari hingga pukul 10 diperuntukkan bagi kelas 1, sedangkan kelas 2 memulai pelajaran setelahnya. Salah satu kelas 2, yakni kelas 2C, berisi 28 siswa yang siap belajar.

Tak lama, langkah kaki yang familiar terdengar dari pintu. “Selamat pagi, Ibu Guru!” seru para siswa serempak. “Selamat pagi, anak-anak,” jawab seorang perempuan berkerudung sembari berjalan memasuki kelas.

Ibu Marda berjalan menuju meja di depan kelas, memperhatikan siswanya yang duduk berkelompok. Wajah-wajah penuh semangat itu semakin menumbuhkan motivasinya sebagai seorang pendidik. Ia bukan hanya mengenal nama mereka, tetapi juga karakter dan kebiasaan masing-masing.

Para murid bergegas menuju ruang kelas untuk mengikuti proses pembelajaran

Setiap Anak Punya Keistimewaan

Bagi Ibu Marda, memahami karakter siswa adalah kunci mengajar yang efektif. “Tidak ada anak yang bodoh,” tegasnya. “Setiap anak memiliki kemampuan unik. Ada yang unggul di matematika, ada yang berbakat di seni, dan ada pula yang butuh waktu lebih lama untuk memahami pelajaran. Yang penting bukan membandingkan mereka, tetapi menemukan cara terbaik agar mereka bisa berkembang.”

Selain itu, ia menyadari bahwa setiap anak membutuhkan perhatian berbeda. Ada yang suka mencari perhatian dengan bersikap aktif, ada pula yang pendiam. Oleh karena itu, pendekatan personal sangat penting. “Kita harus lebih dulu mengenali anak sebelum menentukan cara menghadapinya,” ujar Ibu Marda.

Kemampuan guru dalam memahami karaktet siswanya. Itulah yang dilakukan oleh Ibu Marda

Menumbuhkan Semangat Belajar

Salah satu tantangan dalam mengajar adalah fluktuasi mood siswa. Terkadang, hal-hal di luar sekolah mempengaruhi semangat mereka. Meski anak-anak umumnya cepat kembali ceria, ada kalanya mereka butuh pendekatan khusus. “Kadang saya ajak mereka berbicara dulu, mendengarkan keluh kesah mereka, sebelum masuk ke pelajaran,” kata Ibu Marda.

Agar pembelajaran lebih menyenangkan, ia sesekali mengajak siswa belajar di luar kelas. Hari itu, misalnya, ia mengajarkan matematika dengan meminta siswa membentuk barisan berdasarkan kelompok angka tertentu. Kegiatan ini membuat suasana belajar lebih interaktif dan menyenangkan.

Membangun Kebersamaan

Untuk meningkatkan interaksi dan saling mengenal antarsiswa, Ibu Marda menerapkan sistem rolling tempat duduk setiap satu atau dua bulan sekali. “Awalnya, ada anak yang protes tidak mau duduk dengan temannya karena sering diganggu. Dari situ, saya bisa memahami lebih dalam karakter mereka dan membantu mereka berubah,” jelasnya.

Selain itu, ia juga mengubah tata letak tempat duduk secara berkala, dari model berbaris ke kelompok atau berbentuk huruf “U”. Ini dilakukan agar siswa tidak merasa bosan dan lebih mudah berinteraksi.

Cita-Cita yang Tercapai

Menjadi guru adalah impian masa kecil Ibu Marda. Sejak kecil, ia mengagumi sosok guru dan membayangkan betapa menyenangkan mengajar di depan kelas. Impian itu akhirnya terwujud pada Juli 2014 saat ia menjadi guru honorer, hingga akhirnya diangkat sebagai PNS pada 2015.

Dari berbagai pengalaman mengajar, ada satu kisah yang paling berkesan baginya. Suatu hari, seorang siswa yang gemar membaca enggan pulang ke Lombok setelah mengunjungi neneknya di Jawa. Orang tuanya sudah membujuknya selama seminggu, tetapi ia tetap menolak. Namun, begitu disebutkan bahwa Ibu Guru Marda menunggunya di sekolah, ia langsung bersedia pulang.

“Mendengar cerita itu, saya menangis. Saya tidak menyangka bisa begitu berarti bagi seorang siswa,” ungkapnya. Momen itu semakin menyadarkannya bahwa seorang guru bukan hanya pengajar, tetapi juga sosok yang dapat memengaruhi kehidupan siswa di luar sekolah.

Harapan untuk Masa Depan

Selain merasa nyaman dengan lingkungan sekolah yang suportif, kebahagiaan terbesar Ibu Marda adalah bisa bertemu dan mendidik siswa dengan berbagai karakter. Ia berharap dapat terus membimbing mereka agar siap menghadapi kehidupan di masa depan.

“Apa pun pekerjaannya kelak, yang terpenting mereka bisa menjadi pribadi yang bermanfaat. Kalau tidak bisa memberi dampak besar, setidaknya mereka bisa membantu orang-orang di sekitar mereka,” pungkasnya.

Sepatah kalimat ini terpajang jelas di pintu masuk kelas perwalian Ibu Marda

Artikel Tony Liong ini menjjadi inspirasi bagi para pengajar untuk mampu menjadi seorang guru yang memahami karakter siswa. Meski telah tayang sejak 6 tahun lalu, tulisan ini cukup untuk memotivaai para guru. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!