Scroll untuk baca artikel
       
BirokrasiPendidikan

Polemik di Politeknik Bombana; Bupati Ultimatum Yayasan, Beasiswa Ditahan

80
×

Polemik di Politeknik Bombana; Bupati Ultimatum Yayasan, Beasiswa Ditahan

Sebarkan artikel ini

Rumbia, Infobombana.id – Tegas dan tanpa basa-basi, Bupati Bombana, Ir. H. Burhanuddin, M. Si, melontarkan ultimatum kepada manajemen Politeknik Bombana yang dinilai bermasalah. Ia menegaskan bahwa beasiswa dari pemerintah daerah tidak akan disalurkan jika tata kelola kampus masih amburadul.

“Beasiswa itu untuk mahasiswa, bukan untuk menutupi kesalahan manajemen. Kalau operasional kampus tidak mampu ditanggung, ganti ketuanya. Kalau manajemennya tidak benar, saya tidak akan salurkan beasiswa dari pemerintah daerah,” ujar Burhanuddin, di Rumbia, Kamis (27/3/2025)

Pernyataan ini mengindikasikan ketegasan Pemkab Bombana dalam menuntut transparansi dan profesionalisme dalam pengelolaan pendidikan tinggi. Bupati Burhanuddin menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak akan sembarangan menggelontorkan dana tanpa kejelasan tata kelola.

“Kalau ada masalah, selesaikan dulu. Saya tidak mau anak-anak kita terlantar, tapi saya juga tidak mau uang daerah dipakai untuk kepentingan pribadi yayasan. Kita juga salah kalau memberikan bantuan tanpa tahu bagaimana pengelolaannya, karena ini dikelola oleh yayasan pribadi,” tegasnya.

Tak hanya menyoroti aspek keuangan, Burhanuddin juga menepis anggapan bahwa Pemkab Bombana bertanggung jawab atas operasional kampus. Ia menegaskan bahwa Politeknik Bombana bukan institusi pemerintah, sehingga segala tanggungan tetap berada di pundak yayasan.

“Ini tidak ada kaitan dengan pemerintah karena yayasannya pribadi. Masa kalau mereka tidak bisa bayar, pemerintah daerah yang harus menanggulangi? Itu tanggung jawab yayasan,” tambahnya.

Burhanuddin juga menyayangkan minimnya komunikasi dari pihak yayasan dengan Pemkab Bombana. Hingga saat ini, ia mengaku belum menerima laporan resmi terkait permasalahan kampus.

“Sampai sekarang tidak ada komunikasi dari pihak yayasan ke Pemkab. Karena tidak ada komunikasi, saya anggap mereka masih bisa menangani dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Dengan nada serius, ia memastikan bahwa selama manajemen Politeknik tidak berbenah, beasiswa tetap akan ditahan.

“Saya sudah janji, kalau manajemennya masih seperti ini, saya tidak akan salurkan beasiswa. Pada akhirnya, mahasiswa yang dirugikan,” tegas Burhanuddin.

Ultimatum ini bukan sekadar ancaman kosong. Burhanuddin menggarisbawahi bahwa sebuah institusi pendidikan harus memiliki manajemen yang baik agar bisa berkembang. Jika yayasan tidak mampu, maka pergantian kepemimpinan menjadi solusi yang harus ditempuh.

“Kita ingin Politeknik ini punya kualitas yang bagus. Tapi bagaimana bisa bagus kalau manajemennya saja tidak benar? Dosen saja mereka tidak bisa bayar, lalu mau dibebankan ke pemerintah? Tidak ada hubungannya, karena ini yayasan sendiri,” tutupnya.

Pernyataan ini menjadi pukulan telak bagi pihak yayasan yang kini harus berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan persoalan internal. Sementara itu, mahasiswa yang bergantung pada beasiswa pemerintah kini hanya bisa berharap agar kampus mereka segera berbenah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!