Scroll untuk baca artikel
       
PendidikanInspirasiSastra

Saat Imanku Diuji

70
×

Saat Imanku Diuji

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

Karya:  Erna Nurfadilah Abdul Rahim

Cerita Pendek –

“Semakin tinggi sebuah pohon

Semakin kencang angin berhembus”

Itulah yang kini kualami di saat aku mencoba untuk menjadi al-mar’atush-shalihah ‘cahaya dunia dan akhirat’.

Aku adalah seorang hamba Allah, namaku Tya Novhia. Eh…tetapi sekarang bukanlah saatnya untuk membahas namaku.

“Semakin tinggi sebuah pohon, semakin kencang angin berhembus.” Mengapa kukatakan demikian? Karena saat ini aku sedang mengalami hal tersebut. Seorang kakak yang kucintai harus kembali ke rahmatullah. Aku tak tahu pasti penyebab kepergiannya. Ada yang mengatakan karena kecelakaan, ada juga yang mengatakan karena pembunuhan yang telah direncanakan. Polisi pun tak ada yang mencari tahu penyebabnya.

Sejak kejadian itu, aku yang dikenal gadis yang cerewet, kini menjadi gadis yang pendiam. Karena kejadian itu juga, aku selalu bertanya dalam hati, “Mengapa orang-orang yang semasa hidupnya hanya berbuat kejahatan dan pelaku maksiat, kehidupan mereka fine-fine aja, sedangkan mereka yang taat menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya selalu diberi ujian dan cobaan?”

Imanku mulai goyah, entah setan apa yang merasukiku, qiyamul lail dan puasa sunah yang biasanya sering kuamalkan, kini tak pernah terlaksana lagi.

Aku tertunduk lemas di bangku taman yang letaknya tak jauh dari musala dekat sekolah. Azan zuhur berkumandang dengan merdunya, tetapi entah mengapa tak ada semangat dalam diriku.

“Tya…!” Suara lembut yang kedengarannya sudah tak asing memanggil namaku. Ketika aku menoleh, kulihat seorang gadis manis sedang berdiri di hadapanku. Dia Rahmah, wanita yang kuanggap bidadari yang hadir di dunia, sahabat yang selalu memberiku semangat hidup. “Oh…ada apa?” kataku agak cuek.

“Lho…kamu kenapa? Biasanya salam dulu, sekarang kok berubah?” tanya Rahmah dengan lembut. Aku mulai tersenyum melihat wajahnya yang manis dan tampak bercahaya, membuat hati setiap orang yang melihatnya senang. Mungkin semua itu karena hatinya yang lembut dan wajah yang selalu terkena basuhan air wudu.

“Ah gak ada apa-apa, lagi stres!” kataku sambil tersenyum.

“Kamu sedang ada masalah? Pantes wajahnya kayak baju kusut. Oh iya, salat, yuk!” Rahmah mencoba menghiburku. “Aku lagi datang bulan,” kataku sambil menunduk.

“Oh… lagi dapat dispensasi khusus, yah? Kalau begitu aku ke musala dulu, yah. Kamu jangan melamun terus di sini, entar kesambet, lho!” Rahmah lagi-lagi menghiburku.

“Ya Rahman…, jagalah ia dalam rengkuhan kasih sayang-Mu.”

Aku merasa saat ini imanku sedang goyah. Bukan hanya karena tak menerima kepergian almarhum kakak tercinta, tetapi juga karena banyaknya masalah yang kuhadapi. Uang pembayaran sekolah belum terlunasi selama empat bulan. Sebelum ujian, aku harus melunasinya terlebih dahulu sebagai salah satu persyaratan mengikuti Ujian Nasional. Aku tak tahu harus bagaimana, kondisi keluargaku tak seperti dahulu lagi. Berbagai macam masalah muncul akibat kelalaian kami yang telah melupakan Sang Khalik.

Di saat seperti ini pula teman-teman menjauhiku karena mereka mengira ayahku adalah seorang koruptor. Namun, semua itu tak benar. Ayah hanya dituduh oleh rekan kerjanya sendiri. Teman yang selalu  bersamaku di saat senang, kini lebih sibuk memikirkan teman spesial alias pacarnya masing-masing.

Suatu hari, kulihat salah satu temanku jalan berdua bersama sang pujaan hati dengan penuh kemesraan, lagilagi setan menghasutku. Aku bertanya-tanya dalam hati, “Mengapa mereka tampaknya tak pernah punya masalah? Selalu bahagia setiap saat? Selalu ada yang mendampingi kapan dan di mana pun? Mengapa aku tak seperti itu?” Tiba-tiba aku mengingat Allah.

“Astaghfirullahal’adzim…ya Allah, mengapa pikiranku seperti ini? Aku mohon kuatkanlah imanku, jangan biarkan aku terjerumus dalam jurang kemaksiatan.” Aku segera mencoba menghilangkan pikiran kotorku tadi.

(Setelah aku kembali suci)

Kulirik handphone mungilku di atas meja, waktu menunjukkan pukul 05.37, aku kaget dan bergegas mengambil air wudu. “Ya Allah, hampir aja sekalian salat duha.” kataku dalam hati. Awalnya memang sengaja tak ku-stel alarm untuk membangunkanku, sebab aku yakin malaikatlah yang akan melakukannya, tetapi pikiranku ternyata meleset. Aku pun segera mendirikan salat subuh.

Seusai mendirikan salat, aku merenungi diriku yang saat ini sedang kehilangan arah. Aku tak ingin terjerumus dalam lingkaran setan. Tak lama kemudian aku berpikir dan memutuskan untuk menceritakan semua masalahku kepada Rahmah, sahabat yang selalu memberi solusi dalam setiap masalah.

Aku duduk di bangku taman dekat musala, di sana Rahmah menghampiriku.

“Assalamu’alaikum,” Rahmah menyapaku.

“Wa’alaikumussalam…eh Rahmah, kebetulan saat ini aku butuh banget bantuan kamu.”

“Bantuan? Bantuan apa?” Wajahnya yang manis kini penuh tanda tanya. Di tempat itulah aku menceritakan semua masalahku dan meminta solusi darinya. Ia pun memberiku berbagai macam nasihat.

“Kamu harus seperti Tya yang dulu, yang nggak pernah putus asa.” Rahmah tak henti-hentinya memberiku semangat.

“Iya… nanti akan kucoba lagi.” Kataku dengan suara lemas.

“Bukan nanti, tapi mulai sekarang!” Ia memandangku dengan senyuman.

(Keesokan harinya)

Pagi telah tiba. Matahari menyapaku dengan senyuman, burung-burung pun tampak bernyanyi riang, terbang ke sana-ke mari. Aku tak tahu mengapa hari ini terasa begitu bersemangat dari hari sebelumnya. Kuharap ini awal untukku kembali ke jalan yang benar. Aku mencoba untuk melupakan semua masalah dan memperbaikinya kembali.

Kubuka lemari makanan, ternyata persiapan sudah habis. Kuambil dompet hijau di dalam kamar, tetapi persiapan uangku juga mulai menipis. “Mana belum bayar kos bulan ini, ampun deh…!” Aku berkata dalam hati sambil menggaruk-garuk kepala. Aku sadari bahwa akhir-akhir ini aku sangat boros. Dengan uang seadanya aku beranjak dari rumah menuju toko yang letaknya tak begitu jauh. Dengan mengendarai sepeda motor, aku segera menuju toko.

Tidak semua keperluan aku beli. Setelah berbelanja lagi-lagi harus antre, mana antreannya panjang  banget. Di barisan depan kulihat seorang wanita tua renta sedang mengembalikan belanjaannya satu per satu, dan kulihat sepertinya barang tersebut dibutuhkan semua. Saat itu juga tiba-tiba seorang anak kecil yang tampaknya berasal dari keluarga kelas bawah keluar dari antrian dan segera berjalan menuju kasir. Ia mengambil semua barang yang dikembalikan oleh wanita tua tadi dan juga membayarnya. Dari peristiwa itu, aku merasa tak ada apa-apanya, seorang malaikat kecil telah memberikan pelajaran yang berarti untukku.

Tak ada yang luput dari tatapan Allah SWT. Dia Yang Maha Menyaksikan setiap perbuatan makhluk. Pandangan-Nya tak terbatas dan tak ada amal yang tak diperhitungkan-Nya.

Aku bangun di seperempat malam ketika makhluk lain sedang terlelap, saat Allah sendiri yang sudi menjenguk hamba-Nya di bumi dengan jarak sedekatdekatnya. Di saat seperti inilah kita bisa merasakan dengan hati yang paling dalam betapa nikmat bercengkerama dengan kasih-Nya, mereguk dalam-dalam suguhan dini hari yang tak berbahasakan nikmatnya dalam nuansa syahdu yang menguras air mata, untuk menangisi dosa-dosa yang begitu menggunung, lalu memohon kepada-Nya agar sudi mengampuni jiwa yang kotor ini, yang selalu berbuat dosa di usia yang semakin berkurang. (Kudirikan qiyamul lail dan tadarus).

Saat kudirikan salat, pada rakaat kedua aku tak dapat menahan tumpahan air mataku hingga mukenaku basah. Aku terguguk, kepalaku semakin tertunduk, dan badanku tergoncang tak mampu melanjutkan potongan ayat tentang kematian, “Kullu nafsin dzaaiqatul maut” (setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati). Aku terhenti sejenak dan terus meneteskan air mata.

“Tak satu pun orang bisa menjamin dirinya selamat di saat ajal memanggilnya. Setitik kesalahan semua akan diperhitungkan. Setiap mata, hati, tangan, dan kaki akan jadi saksi, tiada dusta diri yang tak terhakimi. Luka sepi, air mata, tak berarti lagi. Akan terlambat segala sesal di waktu nanti.”

Lirik lagu Opick, salah satu penyanyi favoritku, selalu mengingatkanku akan pedihnya azab.

Kulirik jam dinding, alhamdulillah masih ada waktu untuk sahur. Akan kulaksanakan puasa sunah, in shaa Allah….

Kulihat di atas meja ternyata bahan kemarin tak cukup untuk sahur, persiapan berbuka pun tidak ada, yang tersisa hanyalah sebungkus roti. “Bismillah…. Ya Allah, aku hanya niat untuk beribadah pada-Mu, bagaimana pun kondisiku saat ini berilah hamba kekuatan, semoga hamba dapat menahan berbagai macam ujian dan cobaan selama berpuasa, amin.”

Alhamdulillah, meski sahur dengan roti dan segelas air putih aku tetap bersyukur. Azan telah berkumandang, aku segera melangkahkan kaki untuk mengambil air wudu kembali agar mataku terasa segar. Sebelum melaksanakan salat subuh, aku dirikan salat sunah dua rakaat terlebih dahulu mengingat betapa besar keutamaannya.

Setelah mendirikan salat kuambil lagi mushaf kecilku. Di akhir ayat surah Al-Baqarah kubaca, “Laa yukallifullaahu nafsan illa wus’ahaa” (Allah tidak akan menguji seorang hamba-Nya melebihi batas kemampuan (hamba) itu sendiri. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Tiba-tiba aku teringat dengan tugas sekolah yang belum kuselesaikan. Dengan segera aku mengerjakan tugas tersebut.

“Namanya juga manusia, kalau ingat semua bisa gila deh…!”

Waktu menunjukkan hampir pukul 07.00. Aku segera bersiap-siap, “Kalau telat ntar diceramahin guru BP, ah nggak mau nambah masalah baru, mana uang pembayaran belum lunas, buat pelanggaran lagi.

Pokoknya, jangan sampai nambah masalah, ah…!” Alhamdulillah tiba di sekolah tepat waktu.

Bel tanda pulang telah berbunyi, azan kembali berkumandang. Aku bergegas mengambil sepeda motor di tempat parkiran, ternyata “Masya Allah, bensinnya habis.” kataku dalam hati. Sebelum beranjak menuju pompa bensin, aku dirikan salat zuhur terlebih dahulu di sekolah. Segala puji bagi Allah yang masih memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk beribadah.

Sekolah tampak mulai sunyi, dengan sekuat tenaga aku berjalan sambil menuntun sepeda motor untuk diisi bensin. Di tengah perjalanan aku melihat seorang lakilaki tua renta berada dalam sebuah gubuk yang sangat sempit. Aku mempercepat langkah ke arah gubuk itu. Aku berhenti dan berbincang-bincang dengannya. Kakek itu berkata bahwa ia ditinggalkan oleh istri dan anaknya. Ia juga belum pernah mengisi perutnya selama dua hari. Astaghfirullahal’adzim, begitu banyak orang yang lalulalang di sekitar sini mengapa tak satu pun yang memperhatikannya.

Kulirik isi dompetku ternyata isinya pas-pasan untuk mengisi bensin sepeda motor dan persiapan berbuka. Aku teringat peristiwa di toko kemarin, seorang anak kecil bisa merelakan uangnya untuk membantu orang lain, “Mengapa aku tidak bisa melakukan hal sedemikian?” kataku dengan semangat dalam hati. Seketika aku berpikir bahwa Allah sengaja mengirim malaikat kecil itu agar aku bisa berlaku sedemikian. Semua ini adalah skenario dari Allah. Dengan hati ikhlas, uang untuk membeli bensin sepeda motor tersebut kurelakan untuk sang kakek. Aku takut ada rasa riya’ pada diriku, cukuplah Allah beserta malaikatnya yang melihat.

“Assalamu’alaikum… Tya kok belum pulang?” terdengar suara Rahmah menyapaku. Aku yakin Allah sengaja mengirim bidadari ini untuk selalu membantu. Aku pun menceritakan kejadian ini padanya. Setelah mendengar ceritaku, Rahmah mempunyai ide untuk membawa kakek ke panti jompo terdekat. Kami menghentikan taksi dan Rahmah yang mengantarnya. Aku melanjutkan perjalanan sambil menuntun sepeda motor.

Tak lama kemudian kudapati lagi seorang anak kecil yang sedang mengamen dilengkapi dengan alat musik. Wajahnya terlihat sangat pucat, dua lembar potongan salonpas menempel di kedua pelipisnya dan berselimutkan baju yang tak layak pakai. Kuambil kembali uang persiapan untuk buka puasa nanti, dan kuselipkan di tangan kanannya. Dengan segera aku melanjutkan perjalanan. Aku menoleh ke belakang dan tampaknya anak itu agak kebingungan. Ada sebuah rasa terima kasih yang kutangkap dari mata beningnya. Kini uangku telah habis kugunakan untuk bersedekah.

“Luruskan niatku, ya, Rabb!”

Terik matahari dan debu tak kuhiraukan, “Ya Allah berilah hamba kekuatan menjalani hidup ini.” Aku berdoa dalam hati sambil terus berjalan. Kaki dan tanganku mulai terasa lelah.

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga. Selama lebih setengah jam aku berjalan, beberapa menit kemudian azan berkumandang, Allah kembali memanggil hambaNya untuk beribadah lewat lantunan suara azan. Kulihat sekeliling musalla yang tak jauh dari kos tempat tinggalku, ternyata Rahmah belum datang juga, sepertinya ia masih di panti jompo.

Setelah mendirikan salat aku beristirahat sejenak dalam kamar sambil menunggu waktu berbuka. Karena kelelahan tak terasa aku tertidur lelap.

Allahu Akbar … Allahu Akbar …

Azan magrib kembali berkumandang. Aku terbangun dan segera berjalan menuju dapur. Aku lupa bahwa tak ada sesuatu yang bisa untuk dimakan. Aku hanya berbuka dengan segelas air putih. Walau hanya air putih, entah mengapa yang kurasakan sangat nikmat, perutku tak terasa lapar dalam seketika. Aku yakin ini semua adalah nikmat yang Allah berikan, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tok…tok…tok…!

“Assalamu’alaikum!”

Aku menjawab sambil berjalan menuju pintu. Ternyata ada seorang lelaki berpenampilan rapi dengan sebuah mobil mewahnya.

“Maaf, Bapak siapa dan ada perlu apa?” Aku bertanya dengan suara bergetar.

“Perkenalkan, saya adalah anak dari kakek yang adik temui di jalan tadi. Beliau adalah kakek saya yang hilang. Beliau sudah hilang ingatan…, maklum sudah tua. Oh, iya, adik ini yang mengantarkanku sampai di sini,” sambil menunjuk Rahmah. Ternyata Rahmah lagi di balik semua ini.

Dengan senyuman Rahmah menatapku dan menceritakan semua bahwa saat mengantar kakek ke panti, kebetulan ada seseorang yang sedang mencari kakeknya. Saat kami tiba, alhamdulillah, kakek ini bertemu kembali dengan cucunya. Begitulah kronologi ceritanya.

Setelah Rahmah menceritakan semuanya, lelaki itu mengulurkan tangannya dengan beberapa lembar uang ratusan ribu yang tak sedikit jumlahnya, sambil berkata, “Ini ada sedikit rezeki buat adik sebagai tanda terima kasih, semoga bermanfaat.”

“Tidak perlu repot-repot, saya ikhlas melakukan semua ini. Lagi pula yang mengantar kakek ke panti kan bukan saya,” sambil mendorong tangan pemuda itu perlahan-lahan. Namun, pemuda itu masih tetap memaksa dan berkata, “Saya tahu…, tapi tanpa bantuan adik, tidak mungkin kakek saya berada di panti jompo itu.”

Melihat wajahnya yang penuh harapan, akhirnya uang tersebut kuambil juga. “Terima kasih banyak, semoga Allah melapangkan rezeki Anda.” Sambil tersenyum lelaki itu segera beranjak dari tempat tinggalku, begitu pula dengan Rahmah.

(Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai dan pada setiap tangkai ada seratus biji).

Dari berbagai peristiwa yang kulewati, aku mulai merasakan nikmatnya berada di jalan Allah. Kini aku tak akan meragukan ketetapan Allah, ketetapan baik dan buruk yang diberi, Allah mempunyai maksud lain dari semua itu, kembali pada diri hambanya bagaimana  menjalankannya.

Kini aku ikhlas dengan semua yang kualami. Seorang kakak yang kucintai kembali ke pangkuan Ilahi dengan sangat cepat karena Allah telah merindukannya.

Keluargaku yang berlimpah ruah dengan kemewahan, mendapat banyak masalah karena kami tak pernah menginfaqkan harta tersebut di jalan Allah. Kini keluargaku telah kembali ke jalan yang benar setelah mendengar banyak nasihat dan cerita dariku.

Semua yang ada di bumi ini hanyalah titipan Allah. Aku tak ingin keluargaku larut dalam kenikmatan dunia yang bersifat sementara, kecintaan kami pada dunia hanya membawa malapetaka.

Dengan cinta seseorang bisa mencapai kebahagiaan Dengan cinta seseorang bisa terjerumus dalam lembah kenistaan

Surga penuh kenikmatan bisa diraih dengan cinta. Begitu pula neraka yang penuh dengan kesengsaraan

Seseorang bisa masuk disebabkan karena cinta pula. Cinta dunia hanyalah tanda kehancuran. Aku merasakan imanku kembali seperti dahulu lagi dan memulai semua dengan penuh keikhlasan.

Penyunting:
Supriyanto Widodo, S.S., M.Hum.
Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Balai Bahasa Papua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!