Scroll untuk baca artikel
PendidikanBirokrasi

Wagub Sultra Hadir di Pesantren Hamzanwadi Bombana, Ini Pesan Pentingnya buat Kaum Muda

162
×

Wagub Sultra Hadir di Pesantren Hamzanwadi Bombana, Ini Pesan Pentingnya buat Kaum Muda

Sebarkan artikel ini

BOMBANA, INFOBOMBANA.ID – Masa depan generasi muda tidak cukup dibangun dengan kecerdasan. Pengetahuan perlu berjalan beriringan dengan semangat dan integritas agar pendidikan benar-benar mampu melahirkan manusia yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter.

Pesan itu disampaikan Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara Ir. Hugua saat menghadiri kegiatan Sholawat Kemerdekaan di Pondok Pesantren Hamzanwadi Nahdlatul Wathan, Desa Langkowala, Kecamatan Lantari Jaya, Kabupaten Bombana, Sabtu malam (22/8/2026).

Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus HUT ke-81 Republik Indonesia. Lantunan sholawat dan doa bersama mengisi kegiatan yang diikuti keluarga besar pondok pesantren serta masyarakat yang hadir.

Di hadapan para kiai, pengasuh, santri, dan masyarakat, Hugua memberikan penghargaan kepada seluruh pihak yang selama ini berkontribusi dalam membangun dan mengembangkan pendidikan melalui pondok pesantren.

Menurutnya, pesantren memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda. Pendidikan yang berlangsung di pesantren tidak semata-mata bertujuan meningkatkan kemampuan intelektual, tetapi juga membangun semangat dan integritas sebagai bekal dalam menjalani kehidupan.

“Pendidikan melahirkan manusia yang cerdas, melahirkan orang-orang yang bersemangat, dan yang ketiga adalah berintegritas,” ujar Hugua.

Hugua menjelaskan, kecerdasan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berpikir. Kecerdasan harus ditempatkan bersama akhlak, kesehatan, dan budi pekerti. Dengan demikian, pengetahuan yang dimiliki seseorang tidak berhenti pada kemampuan memahami sesuatu, tetapi juga tercermin dalam perilaku dan cara menjalani kehidupan.

Begitu pula dengan integritas. Menurut Hugua, integritas terwujud ketika perkataan, perbuatan, dan nilai yang diyakini seseorang berjalan dalam keselarasan.

Pandangan itu membuat keberadaan pesantren menjadi penting di tengah tantangan pendidikan generasi muda. Pesantren tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai, kedisiplinan, akhlak, dan keteladanan.

Dalam kesempatan tersebut, Hugua juga menyampaikan komitmen Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara untuk terus mendukung pengembangan pendidikan, termasuk pendidikan yang diselenggarakan pondok pesantren.

Ia menyebutkan akan berupaya menyampaikan kebutuhan pengembangan sarana pendidikan kepada pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara.

“Pemerintah harus hadir untuk membantu mereka menjadikan sekolah ini semakin maju,” katanya.

Menurut Hugua, pengembangan pendidikan tidak dapat dibebankan hanya kepada satu pihak. Pemerintah, pengelola pesantren, dan masyarakat perlu membangun sinergi agar lembaga pendidikan di daerah dapat berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Ia berharap dukungan tersebut dapat memperkuat peran pesantren dalam menyiapkan generasi muda yang memiliki pengetahuan sekaligus karakter.

Pesan tentang pendidikan itu kemudian berkelindan dengan momentum Maulid Nabi Muhammad SAW yang diperingati dalam kegiatan tersebut. Hugua mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, menjadikan peringatan Maulid bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi kesempatan untuk kembali menghidupkan nilai-nilai akhlak dan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

“Tauladan Muhammad telah mengajarkan kita bagaimana berakhlak karimah,” tuturnya.

Sholawat Kemerdekaan di Pondok Pesantren Hamzanwadi Nahdlatul Wathan pun menjadi pertemuan antara nilai keagamaan, pendidikan, dan kebangsaan. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya dirayakan melalui sholawat dan doa, tetapi juga menjadi ruang untuk mengingat kembali pentingnya membangun manusia yang berkualitas.

Teruntuk generasi muda, pesan Hugua sederhana tetapi mendasar, yaitu menjadi cerdas adalah bagian penting dari pendidikan, tetapi kecerdasan tanpa semangat dan integritas belum cukup untuk menghadapi kehidupan.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari seberapa tinggi pengetahuan yang dimiliki seseorang, tetapi juga dari bagaimana ilmu itu membentuk sikap, akhlak, dan tanggung jawabnya terhadap sesama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *