Scroll untuk baca artikel
InspirasiParlementariaPolitik

Jejak Perjuangan Justang di Kubangan Mataoleo, Delapan Tahun Janji yang Kini Terjawab

363
×

Jejak Perjuangan Justang di Kubangan Mataoleo, Delapan Tahun Janji yang Kini Terjawab

Sebarkan artikel ini

RUMBIA, INFOBOMBANA.ID –

Musim Yang Melipat Jarak

Ada bau sengak tanah basah yang selalu mengendap di udara Mataoleo saban musim hujan tiba. Bagi warga di pelosok Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara ini, langit yang mendung bukan cuma kabar tentang tanaman yang tersiram, melainkan ancaman terisolasinya kehidupan.

Di ruas jalan yang menghubungkan Kasipute–Lora–Bambaea, tanah merah akan berubah menjadi adonan pekat. Ban-ban sepeda motor tenggelam hingga separuh pelek, merayap seolah bertarung dengan gravitasi. Tak jarang, mobil bak terbuka penampung hasil kebun menggerung keras, melemparkan cipratan lumpur ke udara sebelum akhirnya mati mesin di tengah kubangan.

Pemandangan seperti itu bukan terjadi sehari atau dua hari. Ia menetap berbilang tahun, menjelma menjadi ritme keseharian yang melelahkan.

“Kalau sudah lumpuh total, tidak ada alat berat yang datang,” ujar seorang warga mengenang masa-masa itu. “Yang ada hanya tangan-tangan warga. Kami bawa sekop, cangkul, mengeruk tanah seadanya supaya kendaraan medis atau anak sekolah bisa lewat.”

Bagi mereka yang tinggal di sana, jalan rusak bukan sekadar urusan teknis infrastruktur atau hitung-hitungan anggaran dalam DPA dinas pekerjaan umum. Jalan adalah nadir martabat. Ia menentukan apakah seorang ibu hamil bisa sampai tepat waktu di fasilitas kesehatan, apakah hasil panen petani punya nilai jual yang layak, atau apakah anak-anak bisa tiba di sekolah dengan pakaian yang tetap bersih.

Namun di balik genangan air dan kubangan lumpur itu, sebuah kegelisahan tengah membesar dalam dada seorang anak muda lokal.

Ruang Sidang dan Keberanian Pemuda 24 Tahun

Juli 2018. Suasana Kantor DPRD Bombana hari itu kedatangan riak yang tak biasa. Sejumlah warga, tokoh masyarakat, hingga kepala desa melangkah bersama menyusuri koridor gedung rakyat. Di antara barisan itu, berdiri Justang.

Usianya kala itu baru 24 tahun. Tubuhnya belum dibalut jas rapi khas pejabat politik, tangannya pun belum menggenggam stempel kewenangan. Ia hanyalah seorang pemuda biasa dari kampung halaman yang menolak untuk berdamai dengan keadaan.

Ketika melangkah masuk ke gedung dewan, Justang tidak membawa tumpukan berkas proyek bernilai miliaran rupiah. Yang ia bawa di atas kepalanya adalah ingatan tentang mobil-mobil yang mogok, sepatu anak sekolah yang basah kuyup oleh lumpur, dan jeritan warga yang lelah oleh janji manis yang menguap setiap usai pemilihan umum.

Di hadapan para wakil rakyat kala itu, Justang bersuara. Ia tidak berorasi dengan bahasa langit yang rumit, melainkan menyuarakan kenyataan pahit yang saban hari dihirup masyarakatnya.

“Persoalan jalan ini bukan soal indah atau tidaknya kampung kami. Ini soal akses hidup yang tertutup,”tegas Justang kala itu.

Langkah Justang pada 2018 itu menjadi sebuah preseden. Ia memperlihatkan bahwa keberanian untuk membela tanah kelahiran tidak harus menunggu datangnya pangkat atau jabatan. Kegelisahan terhadap ketimpangan adalah modal paling jujur dari sebuah perjuangan warga.

 

Ketgam: Salah satu dokumen aksi Pemuda Mataoleo yang tergabung dalam Organisasi IMPERMOL. Mereka berulang kali turun ke jalan demi memperjuangkan keluhan warga soal jalan sejak 2021 silam.
Waktu yang Menguji Konsistensi

Takdir politik kerap bergerak dengan cara yang menarik. Delapan tahun sejak kedatangannya ke gedung DPRD sebagai penuntut aspirasi, Justang kini berada di lorong yang sama, namun dari pintu yang berbeda.

Ia telah terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Bombana. Lencana legislatif kini tersemat di dadanya, memberinya hak suara, fungsi pengawasan, dan akses dalam merumuskan kebijakan.

Namun, peralihan posisi sering kali menjadi ujian terbesar bagi seorang politisi. Banyak suara nyaring yang mendadak senyap ketika kaki sudah berpijak di dalam lingkar kekuasaan. Bagi Justang, ujian itu adalah bagaimana merawat ingatan tentang lumpur Mataoleo agar tidak ikut terkubur di bawah empuknya kursi dewan.

“Jabatan politik bisa datang dan pergi, Tapi ingatan tentang darimana kita berasal dan apa yang pernah kita perjuangkan di jalanan tidak boleh bergeser,”tutur Justang dalam sebuah kesempatan

Persoalan Jalan Mataoleo tetap menjadi agenda yang terus ia kawal. Ia menyadari, memperjuangkan jalan sepanjang belasan kilometer yang melintasi kewenangan kabupaten hingga provinsi membutuhkan stamina politik yang panjang. Aspirasi itu harus terus ditiup agar tidak padam di tengah jalan.

Deru Mesin di Tahun 2026

Jawaban atas penantian panjang itu akhirnya menemukan momentumnya pada arena kontestasi Pemilihan Gubernur Sulawesi Tenggara. Dalam gerilya politiknya menyerap aspirasi warga, Andi Sumangerukka menjejakkan kaki di Mataoleo. Di hadapan masyarakat yang telah puluhan tahun akrab dengan debu dan lumpur, ia melontarkan komitmen tegas: peningkatan ruas jalan Kasipute–Lora–Bambaea harus direalisasikan.

Bagi warga Mataoleo yang sudah kenyang oleh obral janji, komitmen itu mulanya ditanggapi dengan skeptisisme yang wajar. Namun, kali ini roda birokrasi berputar beda.

Memasuki tahun 2026, kesunyian ruas jalan Mataoleo pecah oleh deru mesin alat berat. Truk-truk pengangkut material lalu lalang, excavator meratakan tebing tanah, dan paver siap menghampar lapisan aspal anyar. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara resmi memulai pekerjaan fisik penataan dan peningkatan jalan tersebut.

Kehadiran Gubernur Andi Sumangerukka secara langsung di lokasi pengerjaan menjadi penanda bahwa lembaran baru bagi warga Mataoleo benar-benar telah dibuka.

Di tepi jalan, menyaksikan tiupan debu konstruksi dan perataan tanah oleh alat berat, ada keheningan tersendiri dalam diri Justang. Memori delapan tahun silam berkelibat, tentang motor yang miring menahan keseimbangan di atas lumpur, tentang pemuda 24 tahun yang mengetuk pintu dewan, dan tentang tangan-tangan warga yang mengeruk tanah dengan sekop seadanya.

Justang menyampaikan apresiasi dan rasa syukur mendalam kepada Gubernur Andi Sumangerukka. Ia juga mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Bupati Bombana Ir. H. Burhanuddin, M. Si, yang terus menjalin komunikasi terbaik kepada gubernur. Pembangunan ini bukan sekadar bukti eksekusi janji politik pemerintah daerah, melainkan pengakuan atas hak dasar warga yang sekian lama tertunda.

Mengukur Kedalaman Perjuangan

Kelak, ketika pengerjaan jalan Kasipute–Lora–Bambaea ini selesai seluruhnya, aspal hitam yang mulus akan menutupi setiap inci jejak kubangan yang pernah ada. Mobil-mobil akan melaju kencang, anak-anak akan berangkat sekolah tanpa takut sepatu mereka kotor, dan hasil bumi akan terangkut dengan cepat menuju pasar kota.

Orang-orang yang melintas di masa depan mungkin tak akan lagi ingat pada foto-foto lama: tentang sebuah mobil yang tertanam di kubangan atau sekumpulan warga yang bahu-membahu mendorong kendaraan di bawah guyuran hujan.

Namun, sejarah di balik deru alat berat tahun 2026 ini mencatat satu hal penting. Bahwa jauh sebelum jalan ini diaspal, pernah ada keteguhan warga yang tak mau menyerah. Dan pernah ada seorang pemuda bernama Justang yang keberanian awalnya membuktikan satu hal, yaitu kepedulian pada kampung halaman adalah perjuangan yang tak boleh padam oleh waktu dan perubahan kedudukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *