Scroll untuk baca artikel
PolitikBirokrasi

Musancab PDI Perjuangan Bombana: Merawat Persatuan di Tengah Efisiensi dan Dinamika Politik

69
×

Musancab PDI Perjuangan Bombana: Merawat Persatuan di Tengah Efisiensi dan Dinamika Politik

Sebarkan artikel ini

Rumbia, Infobombana.id – Musyawarah Anak Cabang (Musancab) PDI Perjuangan se-Kabupaten Bombana tidak sekadar menjadi agenda konsolidasi organisasi. Forum yang digelar di Aula Tanduale, Kantor Bupati Bombana, Selasa (2/6/2026), itu menjelma menjadi ruang pertemuan antara kepentingan politik, pembangunan daerah, dan semangat menjaga persatuan pasca kontestasi.

Di hadapan jajaran pengurus partai, Forkopimda, kader hingga tokoh masyarakat, Bupati Bombana, ir. H. Burhanuddin, mengajak seluruh kekuatan politik untuk meninggalkan sekat-sekat perbedaan dan berfokus pada agenda besar pembangunan daerah.

Menurut Burhanuddin, partai politik boleh memiliki warna dan pandangan yang berbeda. Namun pada akhirnya seluruh kekuatan politik memiliki tujuan yang sama, yakni meningkatkan kesejahteraan rakyat.

“Kita mungkin berbeda warna, berbeda pendekatan, tetapi tujuan kita sama, bagaimana membangun daerah dan melayani masyarakat,” ujarnya.

Ketgam: Bupati Bombana, Ir. H. Burhanuddin, M. Si, tengah membawakan sambutan di acara Musancab PDI-P Kabupaten Bombana di aula Tanduale, Kantor Bupati setempat, Selasa (2/6/2026).

Dalam pidatonya, Burhanuddin menggambarkan kondisi politik Bombana layaknya pelangi. Beragam warna yang berbeda justru menghadirkan keindahan ketika menyatu.

Metafora itu menjadi pesan penting di tengah situasi fiskal daerah yang sedang menghadapi berbagai tantangan akibat kebijakan efisiensi dan keterbatasan ruang fiskal pemerintah daerah.

Menurut dia, perbedaan politik tidak boleh menjadi penghalang untuk bekerja bersama. Sebaliknya, perbedaan harus dirangkai menjadi energi kolektif guna membawa Bombana sejajar dengan daerah-daerah lain yang lebih maju.

“Bombana adalah satu perahu besar yang sedang kita layarkan bersama,” kata Burhanuddin.

Sebagai kepala daerah, ia mengaku siap bertanggung jawab atas seluruh proses pembangunan. Ia juga menegaskan keterbukaannya terhadap kritik, selama kritik tersebut disampaikan secara objektif dan bertujuan memperbaiki keadaan.

Burhanuddin mengingatkan agar kritik tidak berubah menjadi serangan personal ataupun narasi yang tidak berdasarkan fakta.

“Kritik itu penting, tetapi harus berorientasi pada solusi dan kemajuan bersama,” ujarnya.

Ketgam: momentum Sekretaris DPW PDI-P Sultra, Hasrat Haji Nabi membawakan sambutan dihadapan jarjaran peserta Musancab, Pimpinan Daerah dan para simpatisan

Menaklukkan Ego Politik

Nada serupa juga disampaikan Sekretaris DPW PDI Perjuangan Sulawesi Tenggara, Hasrat Haji Nabi. Hasrat membuka pidatonya dengan mengenang rivalitas politik masa lalu bersama Burhanuddin. Namun ia menilai kemampuan seorang pemimpin untuk merangkul lawan politik setelah kompetisi berakhir merupakan kualitas kepemimpinan yang tidak dimiliki semua orang.

“Tidak banyak orang yang setelah bertarung habis-habisan di lapangan politik masih bisa tersenyum, menyapa, dan merangkul semua pihak,” katanya.

Dengan gaya khas yang diselingi humor politik dan pantun, Hasrat menyinggung tantangan yang kini dihadapi pemerintah daerah di tengah kebijakan efisiensi nasional.

Menurutnya, memenangkan pilkada memang sulit. Namun memimpin daerah dalam situasi fiskal yang serba terbatas jauh lebih sulit.

Ia mengingatkan bahwa banyak janji politik yang dirancang berdasarkan asumsi kondisi keuangan daerah sebelum terjadi berbagai penyesuaian fiskal nasional. Karena itu, menurut dia, seluruh pelaku politik harus bersikap realistis.

Hasrat bahkan menyarankan agar pemerintah daerah berani mengambil keputusan yang tidak populer jika memang diperlukan untuk menjaga keberlangsungan pembangunan.

“Yang harus diselamatkan adalah kapal besar yang bernama Kabupaten Bombana,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, ia mengutip pesan yang menurutnya relevan bagi seluruh elite politik.

“Yang paling berat bukan mengalahkan musuh politik, tetapi menaklukkan ego politik.”

Bagi Hasrat, pembangunan daerah akan sulit berjalan apabila para pemangku kepentingan lebih mengedepankan kepentingan kelompok dibanding kepentingan masyarakat luas.

Ketgam: Krtua DPC- Partai PDI-Perjuangan Kabupaten Bombana, Andi Muhammad Khaekal tengah membawakan sambutan di acara Musancab PDI-P, di Aula Tanduale, Kantor Bupati Bombana.

Konsolidasi dari Akar Rumput

Sementara itu, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bombana, Andi Muhammad Khaekal, menegaskan bahwa Musancab tak hanya menjadi agenda pergantian struktur organisasi, melainkan titik awal penguatan mesin partai menuju agenda politik yang lebih besar, termasuk Pemilu 2029.

Ia mengingatkan seluruh pengurus PAC bahwa keberhasilan partai tidak ditentukan oleh figur tunggal.

“Superman hanya ada dalam cerita fiksi. Dalam organisasi yang dibutuhkan adalah super team,” kata Khaekal disambut tepuk tangan kader.

Menurut dia, kekuatan PDI Perjuangan harus dibangun melalui kolaborasi, kedisiplinan organisasi, kaderisasi yang terencana, dan kehadiran nyata di tengah masyarakat.

Khaekal juga menyoroti arahan partai tentang pentingnya membangun kedekatan dengan rakyat melalui pendekatan yang lebih konkret. Salah satunya melalui pembentukan layanan call center sebagai saluran komunikasi langsung antara masyarakat dan partai.

Ia menegaskan bahwa partai harus hadir tidak hanya saat pemilu, tetapi juga ketika masyarakat menghadapi persoalan sehari-hari.

Pada kesempatan tersebut, Khaekal turut menyatakan dukungan terhadap pemerintahan Burhanuddin dalam menjalankan program pembangunan daerah. Menurut dia, masyarakat perlu diberikan pemahaman mengenai tantangan fiskal yang saat ini dihadapi pemerintah sehingga berbagai program pembangunan membutuhkan penyesuaian.

Musancab PDI Perjuangan Bombana tahun ini pada akhirnya tidak hanya menjadi forum konsolidasi internal partai. Di tengah tekanan efisiensi anggaran dan ketidakpastian ekonomi, forum tersebut juga menjadi panggung yang memperlihatkan satu pesan politik yang sama dari berbagai pihak: bahwa pembangunan daerah membutuhkan kolaborasi, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan menempatkan kepentingan rakyat di atas ego politik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!