Scroll untuk baca artikel
EkobisBirokrasiPendidikan

Menteri Nusron Minta Tradisi Dialektika Berpikir di Kampus Tak Boleh Mati

218
×

Menteri Nusron Minta Tradisi Dialektika Berpikir di Kampus Tak Boleh Mati

Sebarkan artikel ini

SLEMAN, INFOBOMBANA.ID – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid meminta tradisi berpikir kritis dan pertukaran gagasan tetap hidup di lingkungan akademik.

Menurut Nusron, kampus, termasuk perguruan tinggi semi-kedinasan, perlu menjadi ruang bagi mahasiswa untuk bertemu dengan beragam pandangan, termasuk pemikiran yang kritis terhadap negara dan kebijakan pemerintah.

Hal itu disampaikan Nusron saat memberikan sambutan dalam kuliah umum di Politeknik Agraria STPN, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (4/9/2026).

Kuliah umum tersebut mengangkat tema “Tanah, Negara, dan Rakyat: Memaknai Kembali Transformasi Pelayanan Pertanahan dalam Perspektif Kebangsaan” dan menghadirkan akademisi sekaligus filsuf Rocky Gerung sebagai narasumber.

“Tradisi dialektika berpikir, tidak boleh mati di mana pun kita berada. Sebagai insan akademik di kampus ini, meskipun kampus ini adalah sekolah semi-kedinasan, saya minta untuk tidak segan-segan untuk mengundang berbagai tokoh dari level mana pun yang sifatnya itu kritik dan kritis terhadap negara. Termasuk kritis terhadap kebijakan kita,” kata Nusron.

Perbedaan pemikiran memperkaya wawasan

Msnteri Nusron mengatakan perbedaan pemikiran tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang harus dihindari di lingkungan akademik.

Sebaliknya, pertukaran gagasan dapat memperluas wawasan karena seseorang tidak hanya berhadapan dengan pemikirannya sendiri.

Ia menjelaskan hal tersebut melalui perumpamaan pertukaran apel yang dikaitkan dengan pemikiran Bernard Shaw.

Menurut Nusron, jika dua orang yang masing-masing memiliki satu apel saling menukarkan apel, jumlah apel yang dimiliki tetap satu untuk masing-masing orang. Namun, kata dia, hal berbeda terjadi ketika yang dipertukarkan adalah pemikiran.

Ketika dua orang memiliki pemikiran berbeda kemudian saling bertukar gagasan, masing-masing dapat memperoleh perspektif baru.

Karena itu, Nusron berharap kuliah umum di Politeknik Agraria STPN tidak hanya menjadi kegiatan penyampaian materi, tetapi juga ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif.

Rocky Gerung: Pikiran harus dibantah

Dalam kesempatan yang sama, Rocky Gerung menekankan pentingnya perdebatan dalam proses pertukaran pemikiran.

Menurut Rocky, gagasan perlu diuji melalui kritik dan perbedaan pandangan agar tidak diterima begitu saja.

“Pikiran, kuliah umum, kalau tidak ada yang bantah, dia jadi doa. Doa nggak boleh dibantah, pikiran harus dibantah. Itu bedanya,” kata Rocky.

Rocky juga mengajak para taruna dan taruni melihat persoalan pertanahan tidak hanya dari sisi teknis, tetapi melalui pendekatan filosofis.

Ia memaparkan tiga cara pandang terhadap tanah. Bagi masyarakat adat, tanah memiliki nilai magis karena berkaitan dengan kehidupan dan warisan leluhur. Bagi negara, tanah memiliki fungsi sosial yang diwujudkan melalui pengaturan dan hukum. Sementara bagi korporasi, tanah dipandang sebagai komoditas yang memiliki nilai bisnis.

Kuliah umum tersebut diikuti lebih dari 500 taruna dan taruni Politeknik Agraria STPN. Hadir pula sejumlah pejabat pimpinan tinggi madya dan pratama Kementerian ATR/BPN, Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN, serta para Kepala Kantor Wilayah BPN provinsi beserta jajaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *