
RUMBIA, INFOBOMBANA.ID – SMAN 3 Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra) mendapat kepercayaan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebagai salah satu sekolah model di tingkat SMA.
Kepala SMAN 3 Bombana, Yakob Simson Barthimeus, S.Pd., M.Pd., M.M. mengatakan penunjukan tersebut menjadi kesempatan bagi sekolahnya untuk mengambil peran lebih besar dalam pengembangan pembelajaran di Sultra.
Menurut dia, hanya tiga SMA di Sultra ang mendapat kepercayaan tersebut yaitu SMAN 3 Bombana, SMAN 1 Kendari dan SMAN 4 Kendari.
“SMAN 3 Bombana ini kita harus berbangga karena dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, untuk Sulawesi Tenggara tingkat SMA itu ada tiga sekolah model yang ditunjuk,” kata Yakob saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Jumat (4/9/2026).
Menurutnya, predikat sekolah model bukanlah sekadar status. Sekolah yang ditunjuk diharapkan mampu menjadi tempat rujukan bagi sekolah lain dalam melihat sekaligus mengembangkan praktik pembelajaran baru.
“Sekolah model itu adalah sekolah rujukan sebagai laboratorium bagi sekolah-sekolah lainnya tentang pelaksanaan pembelajaran mendalam dan pelaksanaan coding kecerdasan artifisial,” ujarnya.
Baca Juga:
SMAN 03 Bombana Raih Predikat Terbaik Pendidikan Literasi Se-Indonesia
Peran tersebut membuat SMAN 3 Bombana perlu memastikan kesiapan guru dan proses pembelajaran di sekolah. Sebagian besar guru di sekolah itu telah mengikuti pelatihan pembelajaran mendalam.
Yakob mengatakan, kesiapan sekolah juga menjadi bagian dari proses hingga SMAN 3 Bombana dipercaya sebagai sekolah model. Salah satu pertimbangannya adalah capaian sekolah yang tercermin dalam rapor pendidikan.
“itu benar-benar karena usulan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sultra, melihat bagaimana perjalanan dari SMAN 3 ini berbasis rapor pendidikannya, bahwa kriteria semua indikator yang ada di rapor pendidikan itu berada dalam posisi baik,” ujarnya.
Kepercayaan tersebut datang bersamaan dengan pengakuan lain dari Pemerintah Provinsi Sultra. Dimana, SMAN 3 Bombana masuk dalam daftar 24 sekolah unggul di daerah tersebut.
Bagi Yakob, predikat itu harus memiliki ukuran yang lebih konkret, terutama dari kemampuan siswa bersaing dan menghasilkan prestasi.
“Sebagai salah satu sekolah unggul, apa yang menjadi poinnya di sini adalah bagaimana SMAN 3 dalam daya saing dan kualitas peserta didiknya itu benar-benar dapat menunjukkan prestasi, baik prestasi akademik maupun non-akademik,” katanya.
Untuk menemukan potensi tersebut, sekolah melakukan pemetaan terhadap kemampuan siswa sejak aealmereka masuk.
“Kita selalu melakukan namanya pemetaan. Pemetaan siswa ini artinya pemetaan dari sisi akademik maupun non-akademiknya,” ujar Yakob.
Hasil pemetaan kemudian menjadi dasar sekolah dalam memberikan pendampingan sesuai kemampuan masing-masing siswa. Potensi itu antara lain terlihat dalam bidang olahraga, seni, Matematika, Fisika, Kimia hingga Bahasa Inggris.
Ketika siswa mengikuti kompetisi, pendampingan diberikan lebih intensif agar kemampuan yang mereka miliki dapat berkembang secara maksimal.
“Ketika mengikuti kompetisi, anak-anak kita ini didampingi lebih optimal lagi oleh guru-gurunya, sehingga keunggulan-keunggulan itulah yang kemudian diciptakan,” katanya.
Yakob menegaskan, status sekolah model harus menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan, bukan berhenti pada sebuah predikat.
Target berikutnya adalah membawa siswa SMAN 3 Bombana mampu bersaing di tingkat nasional dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi terbaik.
“Ya, kita upayakan anak-anak kita bisa berkompetisi secara sehat dan tembus ke tingkat nasional. Mereka pun bisa masuk ke perguruan-perguruan tinggi terbaik yang ada di tingkat nasional maupun internasional kalau perlu,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Pembelajaran mendalam merupakan pendekatan yang mendorong siswa memahami materi secara lebih utuh, bukan sekadar menghafal. Siswa diarahkan untuk menghubungkan pengetahuan dengan situasi nyata, berpikir kritis, dan menggunakan apa yang dipelajari untuk menyelesaikan persoalan.
Coding atau pemrograman adalah proses menyusun perintah yang dapat dipahami komputer untuk menjalankan tugas tertentu. Di lingkungan sekolah, coding dapat melatih siswa berpikir logis, sistematis, dan memecahkan masalah melalui langkah-langkah terstruktur.
Sementara kecerdasan artifisial (AI) adalah teknologi yang memungkinkan komputer atau sistem digital melakukan berbagai tugas yang biasanya membutuhkan kemampuan manusia, seperti mengenali pola, mengolah informasi, memahami bahasa, atau menghasilkan suatu keluaran berdasarkan data.
Coding dan AI bukan hal yang sama. Coding merupakan salah satu kemampuan yang dapat digunakan untuk membangun dan mengembangkan sistem AI, sedangkan AI merupakan teknologi yang memiliki penerapan jauh lebih luas.
Melalui penerapan pembelajaran mendalam serta pengenalan coding dan AI, SMAN 3 Bombana diharapkan tidak hanya menghasilkan siswa yang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami cara berpikir, belajar, dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi tersebut.














