Rumbia, Infobombana.id – Pelayanan di Puskesmas Rarowatu, Kabupaten Bombana, menuai sorotan tajam setelah beredar video keluhan keluarga pasien yang tidak mendapatkan penanganan medis saat kondisi darurat. Peristiwa itu memicu kekecewaan masyarakat, sekaligus kritik keras dari kalangan pemuda setempat, Kamis (2/4/2026).
Dalam video yang diunggah di TikTok, keluarga pasien mengungkapkan kekecewaan karena tidak adanya tenaga medis yang berjaga saat mereka membawa korban kecelakaan dengan kondisi patah tulang.
“Kita minta untuk ditangani, tidak ada alasannya. Dibilang belum mandi, belum urus anak. Bagaimana ini puskesmas, sebenarnya untuk apa?” ujar salah satu anggota keluarga dengan nada kesal.
Mereka mengaku telah menunggu sejak subuh, namun tidak ada satu pun tenaga medis yang datang. Bahkan, saat mencoba menghubungi bidan, keluarga pasien justru mendapat jawaban yang dinilai tidak profesional.
“Ditelepon bidan, bilangnya belum mandi, tidak bisa karena bukan piketnya. Tidak bisa dia tolong. Ini orang kecelakaan patah kaki, tapi tidak ada satu pun yang datang,” ungkapnya.
Setelah menunggu hingga pagi, sekitar pukul 08.00 WITA, pasien akhirnya diarahkan untuk dibawa ke fasilitas kesehatan lain di Tenduale karena tidak ada tenaga medis yang bersedia datang ke puskesmas.
“Kami ini masyarakat kecil, bingung harus bagaimana. Dari subuh tidak ada orang. Kalau alasan urus anak mungkin bisa dimaklumi, tapi kalau belum mandi?” lanjutnya.
Peristiwa ini kemudian mendapat respons keras dari kalangan pemuda Kecamatan Rarowatu. Mereka menilai pelayanan di Puskesmas Rarowatu telah gagal menjalankan fungsi dasar sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan.
Perwakilan pemuda, Maikel Andrestein G, menyebut kejadian tersebut sebagai bentuk kelalaian serius yang tidak bisa ditoleransi.
“Bagaimana mungkin sebuah puskesmas justru kosong tanpa tenaga medis saat ada pasien yang membutuhkan pertolongan? Ini jelas bentuk kelalaian,” tegas Maikel.
Ia juga mengungkapkan bahwa kondisi serupa bukan kali pertama terjadi. Dua hari sebelumnya, sekitar pukul 15.00 WITA, ia melintas di depan puskesmas dan mendapati tidak ada aktivitas pelayanan.
“Pelayanan 24 jam hanya sebatas klaim. Faktanya, masyarakat tidak mendapatkan hak mereka secara maksimal,” katanya.
Maikel turut menyoroti kesenjangan antara arahan kepala daerah dengan realitas di lapangan. Menurutnya, komitmen pemerintah daerah untuk meningkatkan pelayanan kesehatan belum dirasakan secara nyata oleh masyarakat, khususnya di Puskesmas Rarowatu.
Ia pun mendesak Dinas Kesehatan Kabupaten Bombana untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja tenaga medis di puskesmas tersebut.
“Pelayanan kesehatan adalah kebutuhan dasar. Tidak boleh diabaikan. Jika tidak ada langkah konkret dalam waktu dekat, kami akan menyuarakan ini melalui aksi demonstrasi,” pungkasnya.














