
Rumbia, Infobombana.id – Wakil Bupati Bombana Ahmad Yani meminta PT Almharig menghentikan aktivitas pertambangan di sekitar sumber mata air warga di Dusun Olondoro, Desa Rahadopi, Kecamatan Kabaena. Permintaan itu disampaikan setelah ia meninjau langsung lokasi longsor yang terjadi beberapa waktu lalu.
“Setelah saya turun langsung melihat longsor di Olondoro itu, kondisinya cukup parah, dan ini sudah longsor ke tiga kali,” kata Ahmad Yani, Minggu (12/4/2026).
Ia menjelaskan, longsor tersebut merusak infrastruktur vital masyarakat, termasuk pipa saluran air bersih yang melayani tiga kecamatan dan delapan desa di Pulau Kabaena. Akibatnya, layanan air bersih sempat terhenti selama beberapa hari.
“Pipa saluran air yang mengairi tiga kecamatan itu putus akibat gempuran material longsor. Bahkan sebagian batangan pipa tertimbun termasuk jalan tani tersebut,” ujarnya.
Menurut Ahmad Yani, material longsor diduga berasal dari aktivitas pembukaan jalan hauling milik perusahaan yang berada di lereng dengan kemiringan tinggi dan berdekatan dengan sumber mata air. Ia menilai kondisi tersebut berisiko tinggi terhadap keberlanjutan sumber air warga.
“Jadi kondisi jalan hauling perusahaan itu berada di kemiringan cukup tinggi dan dekat dengan sumber mata air,” ucapnya.
Ia menegaskan, persoalan yang dihadapi bukan hanya dampak longsor saat ini, melainkan ancaman jangka panjang terhadap sumber mata air. Karena itu, ia meminta perusahaan menghentikan aktivitas di kawasan tersebut.
“Sekarang bukan lagi kita bicara masalah longsornya, tetapi dampak kedepan terkait sumber mata air warga itu. Emas sekalipun yang ada di area mata air itu jangan diambil, ” tegasnya.
Ahmad Yani juga menyinggung ketentuan dalam kaidah pertambangan yang mengatur jarak aman aktivitas tambang dari permukiman dan sumber air. Ia menyebut, wilayah izin usaha pertambangan (IUP) PT Almharig masih cukup luas sehingga aktivitas dapat dialihkan ke lokasi lain.
“Kalau saya tidak salah, luas IUP perusahaan ini sekitar 2 ribuan hektar,” bebernya.
Selain meminta penghentian aktivitas di sekitar mata air, ia juga meminta perusahaan segera memperbaiki dampak longsor yang menutupi jalan tani dan merusak jaringan air bersih. Pemerintah daerah, kata dia, akan mengoordinasikan langkah lanjutan dengan pihak terkait.
“Saya akan koordinasikan kepada pak Bupati soal ini dan nantinya kita akan panggil seluruh pemerintah desa dan camat terkait, termasuk dari pihak perusahaan,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur PT Almharig Basmalah Septian Jaya mengatakan pihaknya siap menangani material longsor yang menutup akses jalan dan pipa air. Namun, ia mengaku upaya tersebut terkendala di lapangan.
“Sebenarnya kami sudah berulang kali mau turunkan alat untuk perbaiki material longsor itu, namun kami selalu dihadang, alat kami dipalang,” kata Basmalah.
Ia juga menyebut adanya insiden kekerasan terhadap karyawan perusahaan. Karena itu, pihaknya meminta dukungan pemerintah daerah dan masyarakat agar proses penanganan bisa berjalan.
“Dalam waktu dekat ini, saya akan hadiri undangan pertemuan yang diagendakan pemerintah desa setempat,” ujarnya.
Terkait permintaan penghentian aktivitas di sekitar mata air, Basmalah mengatakan perusahaan akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Dinas Lingkungan Hidup untuk menentukan area yang dapat dikelola.
“Kalau ada batasan-batasan hasil evaluasi dari lingkungan hidup dan juga rekomendasi kebijakan pemerintah, itu bisa menjadi acuan kami dalam menambang,” pungkasnya.














