RUMBIA, INFOBOMBANA.ID – Momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi kesempatan bagi dunia pendidikan di Kabupaten Bombana untuk memperkuat pembentukan karakter peserta didik di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara Wilayah Bombana, Dahrir, S.Pd., M.M., mengatakan pendidikan tidak cukup hanya mengejar kemampuan akademik. Literasi dan numerasi perlu berjalan beriringan dengan pembentukan karakter siswa.
“Dalam momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, kami berharap ada peningkatan karakter pada anak-anak kita,” kata Dahrir.
Menurut dia, perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Karena itu, sekolah dituntut tidak hanya membuat siswa mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki karakter yang kuat.
Dahrir mengatakan penguatan karakter menjadi perhatian karena pembentukan sikap dan kebiasaan positif pada anak mulai menghadapi berbagai tantangan.
“Selain kemampuan literasi dan numerasi, yang perlu kita tingkatkan adalah karakter anak. Ini yang sekarang menjadi perhatian, karena pembentukan karakter anak mulai berkurang,” ujarnya.
Kepala Sekolah Diminta Turun ke Rumah Siswa
Untuk memperkuat pendidikan karakter, KCD Dikbud Sultra Wilayah Bombana mendorong kepala sekolah dan guru lebih dekat dengan lingkungan kehidupan siswa.
Salah satu pendekatan yang sedang digalakkan adalah kunjungan kepala sekolah ke rumah peserta didik. Kepala sekolah tidak hanya diminta mengetahui perkembangan siswa melalui laporan guru, tetapi juga melihat langsung kondisi anak di lingkungan keluarga.
“Yang kami lakukan di KCD Bombana adalah kepala sekolah juga wajib turun langsung ke rumah-rumah siswa. Kepala sekolah harus bertemu dengan orang tua dan mengetahui permasalahan yang dihadapi anak-anak didiknya,” kata Dahrir.
Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar sekolah dapat memahami persoalan siswa secara lebih utuh, meskipun itu dilakukan secara berkala.
Di rumah, misalnya, masih ditemukan kondisi yang menunjukkan kurangnya perhatian terhadap kebutuhan belajar anak. Dahrir mencontohkan sebagian orang tua tidak lagi menyediakan meja belajar bagi anak.
“Banyak orang tua yang sudah tidak menyiapkan meja belajar untuk anak di rumah. Bahkan, banyak orang tua yang sudah jarang masuk ke kamar anak untuk memeriksa buku-buku dan melihat bagaimana kondisi belajar anak,” ujarnya.
Kondisi tersebut, kata dia, menjadi perhatian ketika kepala sekolah dan guru melakukan kunjungan ke rumah siswa.
Bagi Dahrir, pendidikan karakter tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Orang tua juga memiliki peran penting dalam memastikan anak memiliki lingkungan belajar yang mendukung.
“Kami ingin orang tua ikut memperhatikan proses belajar anak. Karena kalau meja belajar saja tidak tersedia di rumah, itu menunjukkan bahwa perhatian terhadap kebutuhan belajar anak masih perlu ditingkatkan,” katanya.
Sekolah dan Orang Tua Harus Bersinergi
Dahrir mengatakan komunikasi antara sekolah dan orang tua perlu diperkuat. Kunjungan ke rumah siswa diharapkan menjadi sarana bagi sekolah untuk mengetahui persoalan anak sekaligus membangun komunikasi langsung dengan keluarga.
Dengan cara tersebut, persoalan yang dihadapi siswa dapat diketahui lebih awal dan tidak hanya muncul ketika berdampak pada prestasi akademik maupun perilaku di sekolah.
“Melalui kunjungan kepala sekolah dan guru ke rumah siswa, kami berharap terjalin komunikasi yang lebih baik antara sekolah dan orang tua, sekaligus mengetahui secara langsung kondisi dan permasalahan yang dihadapi anak-anak,” ujarnya.
Tantangan Pendidikan di Era AI
Selain karakter, transformasi pendidikan di Bombana juga diarahkan pada pemerataan mutu SMA dan SMK antardaerah.
Menurut Dahrir, peningkatan kualitas pendidikan harus dirasakan seluruh siswa, termasuk mereka yang berada di wilayah dengan keterbatasan akses terhadap fasilitas dan sumber daya pendidikan.
Pemanfaatan teknologi menjadi salah satu bagian dari perubahan tersebut. Namun, penggunaan AI di lingkungan pendidikan harus tetap disertai penguatan kemampuan dasar siswa, terutama literasi, numerasi, berpikir kritis, dan karakter.
Di sisi lain, pendidikan vokasi juga dituntut semakin relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Sinkronisasi antara kompetensi yang diajarkan di SMK dan kebutuhan dunia usaha serta dunia industri dinilai penting agar lulusan memiliki keterampilan yang sesuai dengan perkembangan lapangan kerja.
Pemerataan kualitas guru juga menjadi bagian penting dari agenda tersebut. Peningkatan kompetensi pendidik harus berjalan seiring dengan pemerataan tenaga pengajar agar kualitas pembelajaran tidak terlalu timpang antarwilayah.
Bagi Dahril, kemajuan pendidikan pada akhirnya bukan hanya soal seberapa cepat sekolah mengadopsi teknologi. Lebih penting, teknologi harus digunakan untuk mendukung lahirnya generasi yang memiliki kemampuan akademik sekaligus karakter yang kuat.
Momentum HUT ke-81 RI, kata dia, menjadi pengingat bahwa kemerdekaan juga harus diwujudkan melalui pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas, berkarakter, dan mampu menghadapi perubahan zaman.














