
Rumbia, Infobombana.id – Perum Bulog Cabang Bombana–Konawe Selatan mencatat capaian signifikan dalam penyerapan gabah petani pada awal tahun 2026. Hingga pertengahan April, realisasi pembelian gabah kering panen telah mencapai 11.934 ton atau 82,50 persen dari target Januari hingga April sebesar 14.466 ton.
Kepala Perum Bulog Cabang Bombana–Konawe Selatan, Abdan, mengatakan capaian tersebut menjadi indikator positif dalam upaya pemenuhan target tahunan yang ditetapkan sebesar 64.500 ton.
“Sampai saat ini Bulog Bombana sudah melakukan penyerapan gabah kering panen di lapangan, baik di Kabupaten Bombana maupun Konawe Selatan, sebanyak 11.934 ton atau sudah mencapai 82,50 persen dari target Januari sampai April sebesar 14.466 ton,” ujar Abdan.
Ia menegaskan, pihaknya tetap optimistis target tahunan dapat tercapai dengan strategi pembelian langsung di lapangan dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah.
“Kami masih optimistis untuk dapat melakukan pembelian gabah langsung di lapangan dengan harga Rp6.500 dan berupaya semaksimal mungkin menyerap seluruh gabah petani guna mendukung swasembada pangan Presiden Republik Indonesia,” jelasnya.
Selain itu, stabilitas harga gabah di tingkat petani juga masih terjaga sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP), yakni Rp6.500 per kilogram. Bahkan, sebagian penggilingan di luar mitra Bulog pun masih mengikuti harga tersebut.
“Sejauh ini harga di lapangan stabil di angka Rp6.500, dan semuanya dibeli oleh Bulog. Kalaupun ada penggilingan lain, harganya juga masih sesuai HPP,” tambahnya.
Dari sisi kualitas, Abdan mengakui adanya tantangan akibat faktor cuaca, seperti gabah yang sempat terkena hujan usai panen. Namun demikian, proses pengolahan di penggilingan masih mampu menghasilkan beras berkualitas baik.
“Gabah yang sempat terkena hujan masih dapat diolah dengan baik, dan hasil gilingnya tetap menunjukkan kualitas yang baik. Bulog hanya menerima beras sesuai standar kualitas yang telah ditetapkan pemerintah,” tegasnya.
Di sisi lain, Bulog juga menghadapi kendala di lapangan terkait fluktuasi harga akibat praktik pembelian oleh tengkulak yang menawarkan harga di atas HPP.
“Kendala kami adalah memastikan harga gabah tidak di bawah Rp6.500 tetapi juga tidak sampai Rp7.000. Ada tengkulak yang membeli gabah hingga Rp7.000 sampai Rp7.200, sehingga gabah tidak masuk ke Bulog maupun mitra penggilingan,” ungkap Abdan.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga beras di pasaran melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.
“Jika gabah dibeli Rp7.000, maka harga beras di pasaran bisa mencapai Rp15.000 hingga Rp16.000 per kilogram, sementara HET beras medium Rp13.500 dan premium Rp14.900,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, Bulog terus memperkuat koordinasi serta mengoptimalkan penyerapan langsung dari petani. Abdan juga mengimbau petani untuk menjaga kualitas produksi serta tidak terburu-buru saat panen.
“Kami berharap petani menanam dan merawat padi dengan baik serta tidak terburu-buru saat panen agar kualitas gabah tetap terjaga,” pungkasnya.














