Scroll untuk baca artikel
BirokrasiBerita

Kemarau Bombana Diprediksi Lebih Panjang, Bagaimana Kondisi Hujan hingga Desember?

373
×

Kemarau Bombana Diprediksi Lebih Panjang, Bagaimana Kondisi Hujan hingga Desember?

Sebarkan artikel ini

RUMBIA, INFOBOMBANA.ID – Masyarakat Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, perlu mencermati prakiraan iklim beberapa bulan ke depan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di wilayah tersebut berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal, dengan curah hujan yang diperkirakan masih rendah hingga November 2026.

Informasi tersebut disampaikan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bombana, Drs. Hasdin Ratta, M.Si., berdasarkan laporan BMKG kepada Infobombana.id, Rabu (14/10/2026).

Dalam laporan itu, BMKG memprediksi musim kemarau di Bombana mulai berlangsung pada dasarian III Mei hingga dasarian II Juni 2026. Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada September 2026, dengan sifat hujan kategori bawah normal.

Memasuki Oktober, kondisi hujan di Bombana diperkirakan belum banyak berubah. BMKG memprediksi curah hujan berada pada kategori rendah, yakni 0–20 milimeter per bulan, dengan sifat hujan bawah normal.

Situasi serupa diperkirakan berlanjut pada November 2026. Curah hujan diprediksi berada pada kategori rendah, dengan kisaran 0–100 milimeter per bulan.

Lantas, bagaimana kondisi hujan pada penghujung tahun?

BMKG memprediksi curah hujan di Bombana mulai meningkat pada Desember 2026, yakni berada pada kategori menengah dengan kisaran 101–300 milimeter per bulan. Meski demikian, sifat hujan diperkirakan masih berada pada kategori bawah normal hingga normal.

Kewaspadaan Menghadapi Dampak Kemarau

Prakiraan tersebut menjadi perhatian bagi masyarakat, terutama mereka yang bergantung pada air hujan untuk kebutuhan pertanian dan aktivitas sehari-hari.

Curah hujan yang rendah dalam periode tertentu dapat meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air, khususnya di wilayah yang memiliki sumber air terbatas. Kondisi lahan yang kering juga perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan kerawanan kebakaran vegetasi.

Bagi petani, informasi prakiraan iklim dapat menjadi pertimbangan dalam mengatur jadwal tanam dan penggunaan air. Sementara itu, masyarakat di wilayah rawan kekeringan perlu mengantisipasi kebutuhan air bersih.

Kewaspadaan terhadap kebakaran juga penting selama cuaca kering. Pembukaan lahan dengan cara membakar berisiko memicu api yang sulit dikendalikan, terutama ketika vegetasi di sekitarnya mengering.

Masyarakat diimbau mengikuti perkembangan informasi cuaca dan peringatan dini BMKG agar dapat menyesuaikan aktivitas dengan kondisi iklim terkini.

Meski demikian, prakiraan tersebut merupakan gambaran kondisi iklim yang masih dapat diperbarui. Perkembangan cuaca aktual tetap perlu dipantau untuk mengetahui perubahan kondisi hujan di wilayah Bombana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *