RUMBIA, INFOBOMBANA.ID – Ubur-ubur dari perairan Kabaena, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, mulai menembus pasar internasional. Komoditas yang selama ini hidup di perairan sekitar pulau itu kini dikirim menuju Shanghai, China.
Direktur PT Triko Bina Nusantara, Anton Limasa, mengatakan Kabaena merupakan salah satu daerah dengan produksi ubur-ubur terbanyak di Sulawesi Tenggara. Ia bahkan menyebut kualitas ubur-ubur dari Kabaena termasuk yang terbaik untuk pasar China.
“Kalau saya harus bicara jujur, Sulawesi pada umumnya, terutama Kabaena itu merupakan salah satu terbaik untuk pangsa pasar di Cina saat ini,” kata Anton di Rumbia, Senin (5/10/2026).
Menurut dia, kualitas ubur-ubur Kabaena berada di posisi kedua setelah daerah di Jawa.
“Memang yang paling bagus itu ada di arah Jawa, tapi Kabaena ini nomor dua terbaik,” ujarnya.
Anton mengatakan kondisi perairan menjadi salah satu faktor yang membuat kualitas ubur-ubur Kabaena dinilai baik. Ia menyebut kondisi laut di kawasan tersebut masih relatif terjaga.
“Kalau di sini kan laut masih hijau semua, Pak, masih bagus sekali. Jadi memang dia kualitasnya premium,” kata dia.
Menurut Anton, produksi ubur-ubur di wilayah Jawa pada tahun ini juga cukup banyak. Namun, jumlahnya disebut belum sebanyak potensi yang tersedia di Kabaena.
“Kalau di sini saya mesti akui premium, tidak kalah premium dengan Jawa,” ujarnya.
Anton juga bilang, sebelum pengiriman dilakukan, perusahaan terlebih dahulu berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Bombana.
“Kemarin-kemarin itu kita masih berkoordinasi dengan Pemkab. Alhamdulillah kita dikasih kesempatan untuk ekspor bisa dari sini,” kata Anton.
Dari Kabaena, produk tersebut akan dibawa menuju Kendari. Selanjutnya, ubur-ubur dimuat ke dalam kontainer untuk dikirim ke China.
“Dari Kabaena sini, tetap kita ke Kendari, langsung naik kontainer ekspor dari Kendari,” ujarnya.
Tujuan akhirnya adalah Shanghai. Pasar China selama ini menjadi salah satu tujuan utama produk ubur-ubur yang dikembangkan perusahaan.
Anton mengatakan proses menuju ekspor tidak dilakukan sendiri. Perusahaan mendapat pendampingan dari pihak perikanan, badan mutu, hingga karantina.
“Pastinya, saya banyak sekali dibantu sama pihak perikanan, badan mutu, karantina. Sangat membantu. Mereka ngajarin kita, kalau mau ekspor itu harus begini-begini. Kita coba sedikit-sedikit,” katanya.
Di tengah peluang ekspor tersebut, proses pengolahan ubur-ubur juga menjadi perhatian. Salah satunya terkait aroma yang muncul selama proses penanganan.
Anton mengatakan bau yang menyengat bukan merupakan karakter utama produk, melainkan dapat terjadi apabila proses penanganannya terlambat.
“Sebenarnya kalau bau itu, Pak, itu dari keterlambatan proses. Harusnya barang ini tidak berbau apabila tidak terlambat proses,” katanya.
Menurut dia, aroma laut atau sedikit amis masih merupakan hal yang wajar karena ubur-ubur merupakan produk perikanan. Namun, kondisi tersebut berbeda dengan bau busuk.
“Kalau bau laut itu saya rasa hal yang wajar. Karena kan kita produk perikanan pasti ada bau sedikit amis, tapi bukan bau busuk,” ujar Anton.
Anton menambabkan, pengembangan komoditas ubur-ubur tidak semestinya berhenti pada pengiriman bahan mentah ke luar negeri. Ia melihat ada peluang untuk mengembangkan komoditas tersebut lebih jauh dari dalam negeri.
“Selama ini kita hanya tahu ini barang ekspor ke China. Kita juga, saya rasa sebagai yang punya barang di dalam negeri, kita semua juga harus tahu kenapa ini tidak kita kembangkan di sini untuk ekspor satu langkah lebih maju,” ujarnya.
Baginya, ekspor menuju Shanghai menjadi langkah awal untuk memperkenalkan ubur-ubur Kabaena ke pasar yang lebih luas. Klaim kualitas premium yang disampaikan Anton menjadi salah satu modal yang ingin mereka kembangkan dari komoditas laut tersebut.














