Scroll untuk baca artikel
BirokrasiEkobis

Bupati Bombana Lepas Ekspor Perdana 63 Ton Ubur-Ubur ke Tiongkok

522
×

Bupati Bombana Lepas Ekspor Perdana 63 Ton Ubur-Ubur ke Tiongkok

Sebarkan artikel ini
Ketgam: Bupati Bombana  melepas Ekspor Perdana sebanyak 63 Ton Ubur-ubur ke negara China, bertempat di halaman Kantor Bupati Bombana, Senin (5/10/2026).

RUMBIA, INFOBOMBANA.ID – Pemerintah Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, melepas ekspor perdana 63 ton ubur-ubur basah (Rhopilema SPP) ke Tiongkok, Senin (5/10/2026).

Pelepasan ekspor tersebut berlangsung di Halaman Kantor Bupati Bombana dan dihadiri Bupati Bombana Ir. H. Burhanuddin, M. Si, Wakil Bupati Bombana, Ahmad Yani, S. Pd., M. Si, Sekretaris Daerah Bombana, Ketua TP-PKK Bombana, Direktur PT Triko Bina Nusantara Anton Limasa,. Hadir pula Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tenggara Hj. Hikmawaty, S. Pi., M. Si, , Kepala Badan pengendalian dan penguasaan mutu hasil Kelautanan Perikanan Sultra, Muhammad Zamrud dan Kepala Dinas Perikanan Bombana Asmawati Salim, serta jajaran Forkopimda.

Komoditas ubur-ubur yang diekspor tersebut disebut memiliki nilai ekonomi lebih dari Rp400 juta. Proses pelepasan dilakukan secara simbolis dan ditandai dengan pemecahan kendi secara bergilir oleh Bupati dan Wabup Bombana, serta semua pihak yang berkaitan.

Bupati Bombana Ir. Burhanuddin mengatakan, ekspor tersebut menjadi momentum penting bagi daerah karena menunjukkan potensi kelautan Bombana mampu menembus pasar internasional.

“Kesempatan pagi hari ini juga menjadi momentum penting, di mana salah satu potensi kelautan kita yang sangat bernilai tinggi pada hari ini membuktikan bahwa produk tersebut bisa masuk ke pasar internasional,” kata Burhanuddin dalam sambutannya.

Menurut dia, ekspor ubur-ubur bukan sekadar kegiatan perdagangan, tetapi juga bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui sektor perikanan.

Burhanuddin mengatakan, selama ini kegiatan ekspor ubur-ubur dari Bombana sebenarnya telah berlangsung. Namun, pelepasan kali ini menjadi momentum resmi yang dilakukan bersama pemerintah daerah.

“Walaupun saya tahu kegiatan ekspor ini sudah berlangsung beberapa lama, tetapi sebelumnya belum resmi dari Bombana,” ujarnya.

Ia mengapresiasi keterlibatan Badan Karantina, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara, Dinas Perikanan Bombana, serta PT Trico Bina Nusantara sebagai mitra eksportir.

Dorong hilirisasi di Bombana

Burhanuddin mengatakan, pemerintah daerah ingin potensi perikanan dan pertanian tidak berhenti pada pengiriman bahan mentah.

Menurutnya, komoditas daerah perlu didorong masuk ke tahap hilirisasi sehingga proses pengolahan dan peningkatan nilai tambah dapat dilakukan di Bombana.

“Dan tentunya bukan cuma mengirim bahan baku. Kita berharap ke depan seluruh produk pertanian dan perikanan kita masuk pada proses hilirisasi, bisa dikemas dan diolah di Bombana sebelum masuk ke pasar nasional maupun pasar internasional,” katanya.

Ia berharap PT Triko Bina Nusantara tidak hanya mengambil hasil tangkapan nelayan untuk kemudian dikirim ke luar daerah, tetapi juga membangun fasilitas pengolahan di Bombana.

Salah satu wilayah yang disebut menjadi lokasi potensial pengembangan fasilitas tersebut adalah Pulau Kabaena, khususnya Kabaena Timur dan sekitarnya.

“Jadi bukan hanya bekerja sama dengan para nelayan, kemudian melakukan pengemasan, lalu mengirimnya. Saya berharap nantinya di Pulau Kabaena, pembangunan khususnya di wilayah Kabaena Timur dan sekitarnya ini bisa menjadi satu proses pengolahan,” ujar Burhanuddin.

Ia juga berharap keberadaan perusahaan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat melalui penyerapan tenaga kerja, kemitraan dengan nelayan, serta kontribusi perusahaan kepada masyarakat sekitar.

“Dengan hadirnya PT Triko Bina Nusantara ini, kita berharap bisa memberikan manfaat yang besar bagi perekonomian, khususnya di daerah tempat ubur-ubur tersebut,” katanya.

Perusahaan siapkan kemitraan berkelanjutan

Direktur PT Triko Bina Nusantara Anton Limasa mengatakan, ekspor perdana tersebut terlaksana berkat sinergi antara perusahaan dan Pemerintah Kabupaten Bombana. Dukungan tersebut, kata dia, mencakup penerbitan surat keterangan, aspek perizinan, pengendalian mutu, hingga proses karantina.

“Ekspor perdana ini dapat terlaksana berkat sinergi yang baik antara perusahaan dan Pemerintah Kabupaten Bombana, terutama dalam hal penerbitan surat keterangan, dukungan dari aspek perizinan, pengendalian mutu, serta proses karantina yang telah berjalan dengan baik dan profesional,” kata Anton.

Ia menilai kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk memperkenalkan potensi sumber daya perikanan Bombana ke pasar internasional.

“Kami melihat Kabupaten Bombana memiliki potensi perikanan yang sangat besar. Oleh karena itu, komitmen kami adalah untuk terus membangun kemitraan yang berkelanjutan bersama pemerintah daerah dan masyarakat nelayan,” ujarnya.

Anton berharap ekspor perdana tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. “Kami berharap pelepasan ekspor perdana ini tidak berhenti pada hari ini sebagai kegiatan seremonial semata, melainkan menjadi pintu pembuka bagi peningkatan volume dan kontinuitas ekspor dari Kabupaten Bombana di masa mendatang,” katanya.

DKP Sultra: Jangan berhenti di ubur-ubur

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tenggara Hj.Hikmawaty, S. Pi., M. Si, mengatakan, ekspor perdana ubur-ubur dari Bombana sejalan dengan upaya pemerintah provinsi mengembangkan sektor agromaritim.

Ia berharap ekspor tidak hanya dilakukan terhadap komoditas ubur-ubur, tetapi juga berbagai produk perikanan potensial lainnya.

“Dan kami berharap bahwa ekspor ini tidak hanya berhenti di sini saja. Tidak berhenti saja dengan ubur-ubur, tetapi dengan komoditas perikanan yang lain seperti tuna, cakalang, kemudian potensi-potensi perikanan baik rumput laut dan udang yang merupakan potensinya di Kabupaten Bombana ini sangat besar,” kata Hikmawaty.

Menurut dia, kepatuhan terhadap ketentuan ekspor, kelengkapan dokumen, serta pemenuhan standar menjadi bagian penting agar kegiatan perdagangan hasil perikanan dapat terus berlangsung.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Bombana Asmawati Salim mengatakan, ekspor perdana tersebut merupakan hasil kerja sama antara nelayan, pelaku usaha, dan pemerintah.

Ia mengatakan, ubur-ubur yang selama ini kerap dianggap tidak bernilai ternyata memiliki pasar dan nilai ekonomi.

“Selama ini, ubur-ubur dianggap sebagai biota laut yang tidak bernilai, bahkan cenderung dihindari. Namun kini, kenyataannya berbeda. Ubur-ubur menjelma menjadi salah satu komoditas ekspor yang memiliki nilai ekonomi dan sangat diminati di pasar global,” kata Asmawati.

Pada ekspor perdana tersebut, sebanyak 25 ton ubur-ubur basah diberangkatkan menuju Tiongkok dengan nilai ekonomi lebih dari Rp400 juta.

Asmawati menambahkan, Dinas Perikanan Bombana akan terus melakukan pendampingan dan fasilitasi untuk mendukung pengembangan komoditas perikanan daerah.

“Semoga momentum hari ini menjadi awal kebangkitan besar sektor perikanan daerah untuk semakin mendunia,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *